MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
PULANG


__ADS_3

Hari ini, Jingga sudah di perbolehkan pulang. Selama ia di rawat, Langit tak pernah absen datang ke rumah sakit, ia bahkan meninggalkan pekerjaannya. Meski ia harus rela hanya menunggu di luar saja dan sesekali melihat Jingga saat perempuan itu tertidur, tapi setidaknya ia bisa tetap dekat dengan perempuan itu.


Jingga sudah bersiap, ibu juga sudah membereskan barang-barangnya, hanya tinggal menunggu ayah yang katanya akan menjemput. Sedangkan Mega, perempuan itu di minta menunggu saja di rumah, mempersiapkan sambutan kecil untuk kepulangan adiknya.


Sudah Jingga putuskan, ia akan pulang ke rumah ayah. Ia tahu posisinya masih berstatus istri dari Langit, tapi untuk satu atap dengan pria itu, Jingga tak sanggup. Karena itu ia memilih pulang ke rumah orang tuanya, ia harus berfikir jernih untuk keputusan yang akan ia ambil selanjutnya.


"Nak, apa kamu yakin tidak ingin pulang ke rumahmu?" Tanya ibu untuk memastikan, ini ke tiga kalinya ibu bertanya hal serupa.


Jingga mengangguk, "Aku yakin Bu, ibu tidak keberatan kan aku pulang ke rumah?"


"Tentu saja tidak, ibu justru senang. Ibu bisa berkumpul lagi dengan putri ibu, tapi.."


"Karena aku masih istri sah mas Langit?" potong Jingga.

__ADS_1


Ibu mengangguk, "Jangan salah faham nak.."


Jingga tersenyum, tatapannya kosong menatap ke sembarang arah, "Aku tidak salah faham Bu. Aku mengerti maksud ibu, tapi setiap aku melihatnya, rasa marah itu kembali muncul Bu. Aku tidak sanggup berada di dekatnya, bayangan sikapnya padaku tidak mudah aku lupakan. Apalagi anakku, anakku yang tidak tahu apa-apa menjadi korbannya. Dia harapanku satu-satunya, tapi sekarang.."


Jingga terisak, ia tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya.


Ibu segera memeluknya, mengusap punggung putrinya dengan lembut untuk menenangkannya. "Maafkan ibu nak, maaf.."


"Aku membencinya Bu, aku membencinya.."


"Tidak, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku anggap ini sebagai awal perjuanganku sayang," batin Langit.


Suara seseorang menyadarkan Langit dari lamunannya.

__ADS_1


"Nak Langit.."


Langit menegakkan tubuhnya, "Ayah?"


Hardi tahu Langit memang selalu datang, pria itu juga tahu kalau menantunya itu tak pernah bisa masuk menemui istrinya. Jingga selalu menolak bertemu dengannya.


"Masuklah, cobalah ajak istrimu pulang ke rumah kalian," ucap Hardi. Meski ia begitu kecewa pada menantunya itu, tapi Hardi sadar betul bahwa Langit masih suami sah Jingga. Dari pada dirinya, Langit memang lebih berhak atas putrinya itu.


"Dia pasti menolak ayah.." ucap Langit dengan lirih.


"Kenapa kamu begitu yakin? Bukankah kamu belum mencobanya?" tanya Hardi lagi.


"Tanpa sengaja aku mendengar percakapan Jingga dan ibu, Jingga mengatakan tidak ingin pulang ke rumah kami. Dia sangat membenciku, mana mungkin dia mau tinggal satu atap denganku, ayah.."

__ADS_1


"Tapi kamu belum mencoba bertanya sendiri kan? Kalau kamu bersungguh-sungguh, tunjukan perjuanganmu walau kamu tahu Jingga akan menolak. Setidaknya Jingga bisa melihat keseriusan kamu meminta maaf," jelas Hardi.


Langit terdiam, berpikir bahwa yang Hardi katakan memang ada benarnya. "Baiklah ayah, akan aku coba.."


__ADS_2