
"Ini kamar suamimu, nak. Ibu harap kamu betah tinggal disini," ucap ibu Wartini, ibu dari Alex.
Mega mengangguk, ia tersenyum lalu masuk ke dalam kamar. Pandangannya mengedar, kamar itu memang tak terlalu luas seperti kamar tamu di ruma Langit, tapi sangat bersih dan rapi. Wangi maskulin tercium saat ia semakin dalam memasuki ruangan itu.
"Ibu permisi ke kamar, kamu istirahatlah. Sebentar lagi Alex pasti pulang," ucap ibu lagi.
Mega kembali mengangguk, "Terima kasih Bu.." ucapnya. Ia patut bersyukur karena ibunya Alex menerimanya dengan baik.
Pintu kamar ia tutup setelah ibu Tini tak terlihat. Ia kembali mengedarkan pandangannya, banyak foto-foto Alex yang menggantung di dinding sebelah kanan ranjang. sepertinya dinding itu memang di peruntukan untuk pajangan foto.
Foto Alex bersama Langit yang mendominasi. Entah sedekat apa pria itu dan Tuannya, Alex begitu setia pada Langit.
Bicara tentang Alex, Mega jadi teringat pada suaminya itu. Alex tak bisa ikut pulang bersamanya dan ibu karena ada sesuatu yang harus di bicarakan dengan Langit. Mungkin sangat penting, sampai ia tak bisa ikut mengantar istri dan ibunya pulang sesaat setelah acara pernikahan mereka selesai.
Mega duduk di sisi ranjang, ia menunduk dan mengusap perutnya yang masih datar. Ada rasa penyesalan yang menyusup ke dalam hatinya, dan mungkin semakin hari penyesalan itu akan semakin besar seiring dengan pertumbuhan perutnya yang juga akan semakin besar.
"Maafkan aku.." lirihnya.
***
"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Langit, ia meminta Alex duduk di sofa. Saat ini, merek tengah berada di ruang kerja Langit.
"Saya tidak tahu, Tuan." jawab Alex dengan jujur. Karena ia memang tak tahu perasaan apa yang kini tengah ia rasakan. Mungkin kebingungan masih mendominasi dari pada rasa terkejut karena pengakuan Mega tentang ayah biologis anak yang perempuan itu kandung.
Langit menghela nafas panjang, ia menepuk pundak sang asisten beberapa kali. "Semuanya sudah terjadi, Alex. Kamu tidak akan bisa mundur lagi, jalani pernikahan ini dengan baik. Lihatlah aku dan Jingga, kita menikah tanpa cinta, tapi akhirnya kami bahagia. Aku harap kamu dan Mega juga akan seperti itu," ucap Langit dengan tulus.
"Tapi ini berbeda, Tuan. Bahkan nyonya Jingga dan Mega mempunyai sifat yang sangat berbeda. Saya rasa jika saya di posisi tuan, memang tidak akan sulit untuk bisa mencintai perempuan sebaik nyonya Jingga," Alex terlihat resah.
__ADS_1
Langit sedikit kesal mendengar ucapan Alex, tapi yang di katakan pria itu memang benar. Ia saja begitu mudah mencintai Jingga, perempuan tulus yang saat ini tengah mengandung calon anaknya.
"Jangan cemburu, Tuan. Saya hanya mengatakan perumpamaan," ucap Alex saat ia melihat perubahan di raut wajah tuannya.
Langit berdecak, "Hampir saja aku meninju pipi kirimu. Supaya pipi kirimu itu tidak cemburu karena pipi kananmu sudah lebih dulu mendapatkan tinjuan," sindir Langit.
Alex sontak meraba pipi kanannya, memang masih terasa nyeri. Pukulan dari ayah mertuanya itu memang sangat keras, sepertinya tenaga Hardi memang sengaja di kumpulkan di kepalan tangan untuk meninjunya. Sudut bibirnya bahkan masih tampak membiru.
"Ini sakit, Tuan.." ucapnya.
Langit tertawa, tawanya menggelegar mengisi ruangan itu, membuat Alex mencebik tapi tak berani memprotes. Ia biarkan tuannya itu menertawakannya sampai puas.
"Pulanglah, istrimu pasti sudah menunggumu!" ucap Langit di sela tawanya.
Alex melongo, apa pembicaraannya dengan sang tuan berakhir begitu saja? Tuannya itu hanya memberikan pesan agar ia bisa bahagia dengan pernikahan itu. Tapi meski begitu, Alex justru sangat terharu. Langit memang bukan hanya Tuan baginya, tapi juga seorang kakak.
***
"Senyuman kamu itu menakutkan, mas.." komentarnya.
Langit justru tertawa, ia melompat ke atas ranjang lalu berbaring dan menjadikan pangkuan Jingga sebagai bantalan untuk kepalanya. "Aku merindukanmu.." ucapnya.
Jingga mengusap rambut lebat Langit, lalu melepas bulu-bulu yang memenuhi sebagian wajah suaminya itu. Hingga wajah muda pria itu kini terlihat memenuhi netranya.
"Kenapa di lepas?" Tanya Langit, karena biasanya perempuan itu menyukai wajah tuanya.
"Entahlah, mungkin calon anak kita ingin melihat papanya yang tampan," jawab Jingga.
__ADS_1
Langit tampak sumringah, "Baiklah, kalau begitu aku akan menjenguknya.." ucapnya dengan antusias.
Jingga mencebik, menarik hidung mancung suaminya dengan gemas, "Bukan seperti itu maksudku, kenapa pikiranmu itu selalu mengarah kesana, mas?"
Langit kembali tertawa, ia mengusap hidungnya, "Memangnya kenapa? Tidak ada yang salah bukan? Mari kita mewakili Alex dan Mega malam pertama," ucapnya semakin menggebu-gebu.
Belum sempat Jingga menjawab, Langit sudah beranjak lalu membaringkan tubuh istrinya dengan pelan. Jika sudah begini, Jingga pun tak bisa menolak. Apalagi sejak mengandung, entah mengapa ia menjadi lebih agresif pada Langit. Tapi Langit sangat menyukainya.
Setelah itu, hanya ada ******* dan lenguhan manja yang keluar dari bibir keduanya. Mereka larut dalam penyatuan cinta penuh peluh. Langit bergerak dengan irama teratur, ia melakukannya dengan lembut agar tak menyakiti istri dan calon anaknya.
Sementara Jingga, ia pun tak mau kalah. Perempuan itu ikut bergerak membalas setiap sentuhan dan gerakan yang di lakukan suaminya. Tapi tentu ia pun sangat berhati-hati, tak ingin janin yang ada dalam rahimnya terganggu.
***
Mega terperanjat saat lampu kamar di nyalakan. Tatapannya dengan tatapan Alex bertemu, ia pun segera menunduk lalu turun dari ranjang pria itu. Ia nyaris saja tertidur, sampai tak mendengar pintu kamar terbuka dan tak menyadari kedatangan Alex.
"Tidak apa-apa, istirahatlah di ranjang. Aku akan tidur di sofa. Tapi aku tidak bisa tidur dalam suasana gelap, aku terbiasa tidur dengan lampu menyala," ucap Alex.
Mega mengangguk, ia menatap sofa sederhana di pojok ruangan, meski kamar itu tak terlalu luas, tapi kamar itu mempunyai perabotan yang cukup komplit. Mulai dari sofa, televisi, lemari es mini, lemari pakaian, meja kerja yang ukurannya tak terlalu besar, juga meja rias minimalis yang di atasnya hanya ada parfum dan Pomade milik Alex.
"Tapi sofa itu terlalu sempit untukmu," ucapnya dengan suara pelan. Mega menggigit bibir bawahnya, ingin meminta Alex tidur di ranjang tapi ia tak berani.
"Itu bisa di atur, lagi pula aku terbiasa tidur di mana saja. Tidurlah, aku akan membersihkan diriku lebih dulu," ucap Alex. Ia tak menunggu jawaban Mega, pria itu mengambil handuk baru di dalam lemari lalu memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lagi-lagi Mega di liputi perasaan bingung, apa ia harus menyiapkan pakaian ganti untuk Alex? Atau berpura-pura tidur saja agar ia tak terlalu banyak berkomunikasi dengan suaminya.
"Bagaimana ini?"
__ADS_1