MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
PESTA PERTUNANGAN


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu, meski pernikahan Angkasa dan Esta sudah berjalan satu Minggu, namun tak ada perubahan dari hubungan mereka.


Esta bahkan tidur di sofa, itu keinginannya sendiri meski Angkasa mengatakan tak masalah berbagi ranjang dengannya. Tapi menurut Esta, ia harus menjaga jarak dengan Angkasa, apalagi pesona pria itu sulit di abaikan, Esta harus membentengi dirinya untuk tak jatuh dalam pesona suaminya.


Gadis itu juga masih bekerja seperti biasanya meski ayah dan ibu mertuanya mengatakan tak harus bekerja. Esta dengan tegas mengatakan ingin terus bekerja untuk membayar hutang-hutang peninggalan ayahnya. Berhubung uang 20juta dari Angkasa sudah ia kembalikan, Esta jadi harus kembali mengumpulkan pundi-pundi untuk membuat si juragan tanah berhenti mengejarnya.


Angkasa pun tak masalah, lebih tepatnya tak perduli, yang penting ia juga memberikan kewajiban menafkahi gadis itu secara lahir atau secara materi. Itu sudah cukup menurutnya, tapi jika Esta masih kekeh ingin bekerja, Angkasa juga tak akan menahannya.


Dan entah mengapa, sejak menikah sikap Angkasa pada Esta tetap acuh. Angkasa menganggap pernikahan hanya status, hatinya tetap tak bisa lepas dari bayang-bayang Bulan. Tanpa sadar ia mengabaikan istrinya, sibuk dengan cinta dan dunianya sendiri.


Seperti hari ini, Esta merasa tubuhnya sangat lemas. Semalaman ia bahkan menggigil dan baru bisa tertidur menjelang subuh. Untung saja hari ini hari libur, ia tak harus bekerja dan bisa menggunakan waktunya untuk beristirahat.


"Esta," panggil Angkasa sesaat setelah pria itu memasuki kamar.


Esta yang tengah melamun di ambang pintu pembatas ke balkon menoleh, "Iya mas?"

__ADS_1


"Malam ini acara pertunangan Bulan dan Bintang, kamu mau datang?" Tanya Angkasa.


Sejenak Esta terdiam, tubuhnya tengah kurang sehat, ia juga merasa tak pantas berbaur dengan keluarga suaminya. Ia takut membuat Angkasa malu, karena itu ia menggeleng, "Kayanya aku gak bisa dateng, mas. Aku ada janji sama Bu'de, aku mau ke rumahnya sebentar." Jelas Esta, gadis itu berbohong.


"Oh gitu, ya udah."


Hanya kalimat itu jawaban Angkasa, dan entah mengapa Esta merasa sedih. Meski ia sendiri pun menolak hadir, tapi jika Angkasa sedikit memaksanya, mungkin ia akan merasa keberadaannya penting. Sepertinya, Angkasa memang tak ingin ia datang. Baiklah, Esta tak akan datang.


***


Sekilas Angkasa menatap Esta yang tengah membaringkan tubuhnya di sofa, sepertinya Esta benar-benar tak ingin hadir. Tanpa bertanya lagi, Angkasa pun pergi.


Esta berbalik, menatap pintu yang sudah kembali tertutup. Bahkan suaminya tak bertanya lagi untuk sekedar basa-basi mengajaknya datang ke acara pertunangan Bulan. "Sakit banget ini hati," gumamnya.


Seperti perempuan pada umumnya, ia pun ingin sedikit di paksa dan di rayu. Tapi Angkasa justru pergi begitu saja, pria itu bahkan tak berpamitan padanya. Esta berpikir, Angkasa benar-benar tak ingin mengajaknya pergi karena malu.

__ADS_1


"Sudah lah Esta, sadar sadar sadar," ucapnya seraya memukul keningnya beberapa kali. "Duh, kok makin menggigil sih," keluhnya saat ia merasakan hawa dingin menusuk tulangnya. Padahal pendingin ruangan sudah ia matikan, tapi tubuhnya masih menggigil. Mega juga sudah memberikannya obat, tapi obat itu hanya bereaksi sebentar lalu ia kembali meriang.


***


Suasana hingar-bingar pesta malam itu tak mampu membuat Angkasa ikut berbaur dalam kebahagiaan. Bukan tak ingin sepupu dan mantan kekasihnya bahagia, ia bahkan mendoakan mereka terus bersama. Tapi hatinya masih saja memanas saat melihat kebersamaan Bulan dan Bintang, manusiawi bukan? Padahal ia sendiri ikut mengatur sandiwara dalam menyusun rencana kejutan pertunangan ini, tetap saja ia sulit menerima kenyataan.


Ia bukan robot yang hidup karena settingan tangan manusia, ia punya perasaan, dan rasanya sakit ketika ia mengingat bahwa ia tak akan pernah bisa lagi bersama Bulan. Di tambah lagi, ia sudah mempunyai istri.


Kepalanya pening, rasanya mau pecah. Belum lagi gemuruh di dadanya membuat hatinya panas. Pria itu memutuskan untuk meninggalkan pesta, ia pamit pada keluarganya dengan alasan tak enak badan.


Benar bukan? Hati adalah salah satu bagian dari badan atau tubuh. Dan saat ini, hatinya tengah tak enak, Angkasa tak sepenuhnya berbohong.


Taman adalah tempat yang Angkasa pilih untuk menenangkan diri. Mengenang saat-saat kebersamannya dengan Bulan, rasanya benar-benar sesak. Apalagi ia juga baru tahu fakta baru, bahwa Bulan ternyata adalah gadis kecil yang dulu ia dan Bintang perebutkan. Komplit!!


"Bulan, aku udah usaha buat lupain kamu. Tapi ternyata susah."

__ADS_1


Pria itu menengadah, menatap langit malam yang indah. Bulan bintang tampak menghiasi, menambah kesempurnaan malam ini. Dan melihat itu ia sadar, bahwa bulan dan bintang adalah keserasian yang sudah di gariskan bersama menghiasi malam.


__ADS_2