
Jingga tak bereaksi apapun saat Langit memeluknya dengan erat. Tak membalas atau pun menolak. Air matanya terus mengalir deras, betapa sakit saat ia meminta perpisahan, tapi lebih sakit lagi jika ia bertahan. Bayang-bayang perbuatan Langit padanya akan terus menghantuinya, Jingga tak bisa, ia ingin hidup tenang tanpa mimpi buruk peristiwa kehilangan putranya.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku.." ucap Langit. Pria itu menangis tersedu, memeluk Jingga semakin erat. Sampai Jingga merasa sesak namun perempuan itu masih tetap tak beraksi.
"Maafkan aku, Jingga. Beri aku kesempatan, ampuni aku. Kita akan memulai semuanya dari awal," mohon Langit.
Jingga masih diam, perempuan itu hanya terus menangis. Sampai akhirnya, Langit menarik diri melerai dekapannya.
"Aku mohon.." Langit menatap dalam netra basah Jingga, ibu jarinya menghapus air mata di pipi perempuan itu dengan lembut, namun setelah itu, Jingga menjauhkan tangan Langit.
"Aku harap ini sentuhan terakhir mu mas, aku membiarkanmu memeluk ku untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini, jauhi aku!"
Kalimat yang terdengar seperti sambaran petir itu berhasil membuat Langit memucat. Tubuhnya melemas, hatinya sakit, serasa ada ribuan tangan yang meremas hati dan jantungnya. Bahkan nafasnya terasa sesak, "Sayang.." ucapnya dengan amat lirih. Ia terus menatap Jingga, berharap perempuan itu balas menatapnya dan melihat penyesalan yang begitu besar di dalam sorot kedua matanya.
Langit kira Jingga sudah melunak, amarah perempuan itu sudah hilang, karena itu Jingga tak menolak dan mengamuk ketika ia memeluknya. Ternyata Jingga mengharapkan itu adalah pelukan terakhir mereka.
Jingga menatap ke sembarang arah, menghindari bersitatap dengan pria yang bahkan sampai detik ini ia cintai. Tapi sayangnya, seseorang yang amat ia cintai itu berpotensi besar menorehkan luka yang amat dalam pula di hatinya.
__ADS_1
Benar kata orang, luka yang paling sakit adalah luka yang di ciptakan oleh seseorang yang paling dekat dan paling kita cintai. Karena terlalu sakit, Jingga bahkan enggan membalas tatapan pria itu.
"Jingga, aku mohon.."
Suara pintu terbuka membuat ucapan Langit terhenti. Dokter dan seorang perawat memasuki ruangan itu.
"Selamat malam, nyonya Jingga, tuan Langit.." sapa dokter Irawan.
"Selamat malam, dok.." Langit balas menyapa, sedangkan Jingga hanya tersenyum saja setelah ia menghapus air matanya.
"Bagaimana keadaannya, nyonya?" Dokter kembali bertanya.
"Saya periksa dulu, luka bekas operasinya sudah membaik atau tidak. Jika sudah membaik, dua hari kedepan anda bisa pulang. Saya berikan obat terbaik di rumah sakit ini agar lukanya cepat sembuh, nyonya."
Jingga mengangguk, ia kembali berbaring dengan pelan, Langit hendak membantu tapi Jingga justru memanggil perawat yang berdiri di sebelah dokter Irawan untuk membantunya.
Langit mengerti, pria itu pun tak memaksakan diri. Ia hanya diam di ujung ranjang, menatap Jingga dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Jingga sudah mengatakan bahwa pelukan itu adalah sentuhan terakhir mereka, dan sepertinya, perempuan itu memang benar-benar akan merealisasikannya.
Dokter Irawan mulai memeriksa keadaan Jingga, dengan teliti ia memeriksa semuanya. "Nyonya, sepertinya Tiga hari lagi anda harus di rawat, karena luka operasinya sempat kembali terbuka, jadi memerlukan sedikit waktu lagi untuk bisa kering," jelas dokter Irawan.
"Dok, apa tidak bisa di rawat di rumah saja?" tanya Jingga.
"Begini saja nyonya, kita lihat perkembangannya besok. Kalau besok lukanya sudah sedikit mengering, anda bisa di rawat di rumah dengan syarat anda harus benar-benar bedrest. Jangan melakukan aktivitas apapun dulu, emmm ada satu hal lagi yang mau saya sampaikan.."
"Ada apa dok?" Bukan Jingga yang bertanya, melainkan Langit. Pria itu tampak begitu cemas.
"Mengenai janin nyonya Jingga, apa mau di kuburkan pihak keluarga atau kami akan mengurus semuanya, nyonya, tuan.."
Jingga kembali meneteskan air matanya, hatinya hancur sehancur-hancurnya. Penderitaan terbesar seorang ibu adalah di tinggal pergi anaknya dan menyaksikan pemakaman anaknya sendiri.
"Kami yang akan memakamkannya, dok.." ucap Langit.
Jingga tak sanggup mengatakan apapun, ia hanya bisa menangis. Tangisan yang terdengar begitu menyayat.
__ADS_1
Ges, jangan hujat mas Langit terus. Kasian dia..huhuhuhu