MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
KEDATANGAN JINGGA


__ADS_3

Hardi tak terkejut saat Jingga bertanya apakah benar perempuan itu bukanlah putri kandungnya? Ia sudah menceritakan semuanya pada Langit, Langit tentu menceritakannya juga pada Jingga.


Hal itu juga lah salah satu alasan kenapa ia dan Yaya tak mengunjungi Jingga di kediamannya. Hardi takut Jingga bertanya tentang hal ini, karena ia tak sanggup melihat tatapan sendu dari putrinya itu.


Namun meski tak terlalu terkejut, melihat kekecewaan dari sorot mata putrinya, rasanya ia ikut sakit.


"Maafkan ayah nak, ayah menyembunyikan semuanya darimu," lirih Hardi seraya menunduk. Yaya yang duduk di sampingnya menangis, perempuan paruh baya itu tak kuasa melihat kesedihan putrinya. "Saat itu kamu masih terlalu kecil, ayah dan ibu memutuskan untuk menganggapku putri kami, mengubur kenyataan bahwa kamu adalah putri dari tuan Banyu."


Jingga menghapus air matanya, ia mengeratkan genggaman tangannya pada Langit. Langit pun dapat merasakan kesedihan yang Jingga rasakan, karena ia pun memang berada di posisi yang sama dengan perempuan itu.


"Kenapa ayah meminta maaf, ayah tidak salah. Aku juga tidak marah ayah, aku hanya terkejut. Aku justru malu, aku yang harusnya meminta maaf karena aku sudah merepotkan kalian selama ini."


“Tidak, nak. Tidak ada orang tua yang merasa repot menyayangi dan merawat putrinya. Kamu tetaplah putri kami, kami sangat menyayangimu,” ucap ibu di sela isakan tangisnya.


“Ibu..” Jingga beranjak menghampiri Hardi dan Yaya yang duduk di seberangnya, ia bersimpuh di hadapan mereka lalu menangis di atas pangkuan Yaya. Semuanya memang terasa bagai mimpi, mungkin jika Jingga boleh memilih, ia ingin terlahir dari Rahim Yaya, perempuan yang tulus merawat dan menyayanginya. Ketimbang terlahir dari Rahim perempuan yang mengkhianati papanya dan berakhir dengan kehancuran. Keluarga mereka terecah belah, papa dan mamanya berpisah lalu Jingga sendiri yang menjadi korbannya. Harus di titipkan pada orang lain yang beruntungnya begitu menyayanginya dengan tulus. Hardi dan Yaya bahkan tak pernah membedakan kasih sayang antara Jingga dan Mega.


“Kamu putri kami, nak. kamu tetap putri kami,” Yaya mengusap rambut panjang Jingga dengan lembut, air mata terus berjatuhan tanpa henti. Inilah yang ia dan Hardi takutkan, semuanya akan terbongkar meski ia pun menyadari bahwa lambat laun Jingga memang akan tahu tentang kenyataan yang selama ini mereka sembunyikan.


Langit mengusap ujung matanya, ia pun tak dapat menahan haru. Apalagi kedua orang tuanya telah tiasa, melihat ayah dan ibu yang begitu menyayangi Jingga mengingatkannya pada sosok Banyu dan Senja yang juga begitu menyayanginya. Terutama Banyu, meski pria itu bukan ayah kandungnya, tapi Banyu begitu menyayanginya. Merawatnya dengan baik, mendidiknya dengan baik dan mencurahkan seluruh kasih sayang padanya.


“Lupakan semuanya, nak. Anggaplah kenyataan ini tidak pernah kamu tahu. Jangan ada yang berubah, ayah dan ibu tetaplah ayah dan ibumu. Mengerti, sayang?” Ucap ibu lagi.

__ADS_1


Jingga mengangguk, ia mengecupi punggung tangan Yaya dan Hardi. Membuat punggung tangan mereka basah karena tetesan air matanya.


“Sudah, jangan menangis lagi. Kita buka lembaran baru, jangan mengingat hak yang membuat kalian sedih lagi, kalian harus bahagia..” timpal ayah.


Jingga dan Langit mengangguk, mereka juga berharap seperti itu. Hidup tenang dan bahagia bersama keluarga kecil mereka nanti. Tapi hidup tetaplah hidup, badai, kerikil, dan awan mendung terkadang mengiringi jalannya hidup. Tapi percayalah, akan ada pelangi setelah badai. Akan ada jalan menurun setelah jalan menanjak, akan ada jalan yang mulus setelah jalan berkerikil, akan ada jalan yang lurus setelah jalan berliku.


***


"Bu, Tuan Langit menyiapkan apartemen untuk kami. Aku mau meminta izin untuk tinggal di apartemen, apa ibu mengizinkan?" Alex bertanya, mereka tengah sarapan bersama. Hanya ada ibu, karena kedua adik Alex belum pulang.


"Kenapa terburu-buru nak? Ibu ingin merawat menantu ibu, ini cucu pertama ibu, ibu ingin selalu mendampingi Mega." Ungkap ibu, karena ia begitu antusias menyambut kehadiran cucu pertamanya meski kehamilan Mega karena sebuah kecelakaan.


"Bu, aku ingin belajar mandiri bersama istriku," ucap Alex.


Ibu menghela nafas panjang, ia mengangguk mengerti. Selain tak bisa memaksakan kehendaknya, ia juga mengerti bahwa setiap orang yang berumah tangga pasti ingin belajar hidup mandiri. "Baiklah, tapi sering-seringlah main kesini nak," ucap ibu pada Mega.


Mega mengangguk, ia tersenyum lembut pada mertuanya itu. Meski baru mengenal sang mertua, tapi ia yakin ibu mertuanya itu sangat baik.


Selesai sarapan, Alex meminta Mega bersiap. Mereka akan pindah ke apartemen hari itu juga.


"Bereskan barang-barangmu saja, barang-barangku akan aku bereskan sendiri." ucap Alex, ia lalu beranjak mengambil koper miliknya. Tapi kemudian Mega mengambil alih koper tersebut, membuat Alex menoleh menatap Mega penuh tanya.

__ADS_1


"Aku yang akan membereskan semuanya, kamu tunggu di luar saja mas. Ini tugasku," ucap Mega.


"Tidak, kamu sedang hamil. Jangan terlalu lelah, apalagi koper ini cukup berat. Jaga kandungan kamu," ucap Alex.


Mega tersenyum lebar, tiba-tiba saja ia menubruk dada Alex lalu memeluknya dengan erat, "Terima kasih, mas. Kamu sudah menerimaku dan anak ini," ucapnya.


Alex menghela nafas panjang, kedua tangannya terkepal seolah menahan agar ia tak sampai membalas pelukan perempuan itu, "Itu sudah kewajibanku. Bukankah anak itu juga anakku? Aku hanya berusaha bertanggung jawab."


Mega terdiam, ia menarik diri lalu mengangguk seraya menunduk. "Iya, mas. Ini anak kita," lirihnya.


Alex kembali mengambil kopernya, ia tarik tuasnya lalu ia simpan di atas ranjang. Agar ia bisa dengan mudah menata pakaiannya ke dalam koper itu. Begitu pun dengan Mega, perempuan itu juga memberikan pakaiannya setelah Alex mengambilkan koper miliknya.


Langit memang sengaja memberikan apartemen untuk Alex, mungkin sebagai hadiah untuk pernikahan mereka. Awalnya Alex menolak, tapi Langit memaksa dan mengancamnya agar Alex menerima apartemen itu. Seperti biasa, ancaman gaji adalah ancaman yang paling ampuh untuk Alex.


Apartemen itu juga tak jauh dari perusahaan. Terletak di tengah kota yang jaraknya juga tak jauh dari rumah sakit dan kediaman Langit sendiri. Langit sengaja memberikan apartemen mewah yang letaknya strategis, agar Alex bisa tetap menjadi suami siaga saat Mega membutuhkannya.


Itu juga lah alasan Alex menolak, karena apartemen itu terlalu mewah untuk sebuah hadiah. Tapi karena Langit memaksa, Alex pun tak sampai hati menolak.


"Apa sudah selesai?" tanya Alex.


Mega mengangguk, "Sudah mas.."

__ADS_1


"Baiklah, kita temui ibu lagi sebentar."


Mega kembali mengangguk, ia berjalan mengekor di belakang Alex.


__ADS_2