MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
BICARA


__ADS_3

Jingga menoleh saat seseorang memasuki ruangannya. Ia menatap ibu, berharap sang ibu akan mengusir pria yang berjalan menghampirinya. Tapi ibu justru menggeleng.


"Ibu tunggu di luar ya, nak.." ucap Ibu.


"Bu, ibu tidak perlu kemana-mana.." Jingga tak mau di tinggal hanya berdua saja dengan Langit. Ia tahu Langit pasti akan membujuknya pulang.


"Ada ayah di luar, kasian kalau ayah sendirian," tolak ibu. Ia menatap ke arah pintu, Hardi tampak mengangguk disana.


Jingga menghela nafas panjang, ia tak bisa apa-apa lagi selain membiarkan Langit mendekat padanya. Tak sedikit pun Jingga mau menatap Langit, melihat pria itu mampu menorehkan luka baru karena kehilangan putranya.


"Sayang.." Panggil Langit, ia berdiri di hadapan Jingga yang tengah duduk di sisi ranjang, perempuan itu menatap ke sembarang arah menghindari tatapannya. "Kita pulang ke rumah, ok?"


Jingga menggeleng sebagai jawaban, entah mengapa air matanya kembali menetes. Teringat betapa ia mencintai Langit, betapa mereka sangat bahagia saat mereka mendengar kabar kehamilannya, betapa Langit sangat perhatian dan memperlakukannya seperti ratu, tapi sekarang semuanya hancur.


Bagai mimpi dan kini Jingga terbangun, semuanya hanya menjadi bayangan. Harapannya untuk hidup bahagia bersama keluarga kecilnya hanya tinggal angan. Jingga bahkan tak mampu menatap mata Langit, amarahnya seketika akan naik jika ia mengingat kepergian putranya di sebabkan oleh pria itu.


"Aku mohon, sayang.." Langit meraih tangan Jingga, mencoba untuk menggenggamnya namun perempuan itu menepis tangannya.


"Jangan sentuh aku, mas!" ucapnya dengan tegas tanpa menatap Langit.

__ADS_1


"Aku masih suamimu, tolong jangan keras kepala sayang.."


Mendengar kalimat itu, seketika Jingga menoleh. Ia menatap Langit dengan penuh kebencian, "Keras kepala? Kamu mengatakan aku keras kepala? Kamu tidak mengerti betapa sakitnya aku kehilangan anakku! Dan itu karena dirimu!" Sentak Jingga, air matanya semakin deras mengalir, kedua tangannya meremas sprey putih yang ia duduki, menahan sekuat tenaga agar amarahnya tak semakin naik.


"Aku tahu aku salah, aku juga sangat menyesal. Tapi aku tidak bisa kehilanganmu, aku mohon maafkan aku, kita mulai semuanya dari awal.."


"Apa dengan menyesal anakku akan kembali? Apa dengan memaafkanmu semuanya akan kembali? Tidak mas!" Pekik Jingga.


"Aku juga sama kehilangannya, aku juga terluka, sayang. Aku papanya, tentu aku juga merasakan sakit yang sama.."


Mendengar kalimat itu, Jingga tersenyum kecut. Ia menghapus air matanya dengan kasar, lalu memalingkan wajah enggan menatap Langit. "Bohong, jangan mengatakan kamu juga sakit mas, kamu puas kan? Atau kamu juga ingin melenyapkan ku agar kematian ibumu bisa lebih terbayar?"


Mendengar sentakan itu, Jingga memejamkan matanya. Rasanya seperti Dejavu, teriakan Langit beberapa saat sebelum ia terjatuh kembali berputar di benaknya.


"Pergi, mas!" ucapnya, tak ada teriakan, Jingga mengatakan itu dengan suara lirih namun tegas.


"Aku tidak akan pergi tanpamu! Aku suamimu, kamu masih istriku yang sah!" ucap Langit, "Aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu lagi, terserah kamu mau mengatakan aku egois, tapi aku mau kamu pulang bersamaku!" Langit seperti kembali ke setelan pabrik, pria itu tampak tegas dan hanya kalimat perintah yang keluar dari mulutnya.


"Aku masih istrimu?" ulang Jingga seraya menoleh menatap Langit. "Kalau begitu jatuhkan talaq padaku sekarang juga! Agar aku tidak berdosa membantah mu karena aku tidak mengikuti keinginan mu untuk pulang bersama mu!"

__ADS_1


Langit terkejut mendengar permintaan Jingga, ia menggelengkan kepalanya beberapa kali, tak menyangka juga menyangkal kalimat yang baru saja ia dengar. Dan ia mengalah, ia tak mau membuat Jingga semakin membencinya dan kembali meminta berpisah, "Baiklah, kamu boleh pulang ke rumah ayah tapi dengan satu syarat.."


"Tidak, aku tidak menerima syarat apapun!" Tolak Jingga.


"Jingga, dengarkan aku dulu. Aku hanya ingin kamu tidak melarang ku untuk datang ke rumah ayah jika aku ingin bertemu denganmu. Aku tidak sanggup jauh darimu.." ucapan Langit semakin terdengar lirih.


"Kalau begitu belajarlah, mas!"


"Aku mohon.."


"Tolong mas, biarkan aku menenangkan diriku. Kalau kamu benar-benar mencintaiku, lepaskan aku! Biarkan aku pergi dan melanjutkan hidupku dengan tenang. Tanpa bayang-bayang kejadian buruk itu, biarkan aku memulai hidupku kembali.." Jingga menunduk dalam, bahunya bergetar karena tangisan.


Melihat Jingga seperti itu, hati Langit sakit. "Apa aku sudah benar-benar menyakitimu, sayang?" lirihnya.


Jingga semakin terisak, "Kamu jahat, mas.."


Langit mendekat, ia mendekap Jingga meski Jingga memberontak meminta di lepaskan. Perempuan itu bahkan memukul-mukul dadanya dengan tangisan yang semakin terdengar menyayat dan menyakitkan.


ABSEN DULU YUK, MANA TIM JINGGA CUNG..☝️☝️☝️

__ADS_1


__ADS_2