MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
PULANG


__ADS_3

"Mas, mau kemana lagi?"


Mega menghampiri Alex yang baru saja keluar dari kamar. Pria itu sudah tampak rapi.


"Bukan urusanmu!" jawab Alex, ia sama sekali tak menatap Mega, pria itu pergi begitu saja.


"Mas, kita harus bicara. Tolong kasih aku kesempatan mas.."


Alex tetap tak mendengar, langkahnya justru semakin cepat. Meninggalkan Mega yang kini terisak pasrah. Tapi ia tak akan menyerah, ia mencintai suaminya, bukankah ia harus berjuang? Apalagi letak kesalahan ada padanya, ia harus berusaha membuat keadaan kembali membaik seperti semula meski kemungkinan mereka membaik hanya 1% saja.


"Aku tidak akan menyerah mas, aku tidak mau kehilanganmu.." lirihnya.


Sementara itu, Alex mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju ke sebuah tempat yang akhir-akhir ini gemar ia sambangi.


Tempat yang semula sangat ia hindari, kini menjadi tempatnya meluapkan amarah. Tempat yang sangat di larang oleh sang ibu, kini menjadi tempat favoritnya.


Alex salah arah, ia tak tahu harus menceritakan semua masalahnya pada siapa. Tidak mungkin ia membebani ibu dan adik-adiknya dengan masalahnya. Apalagi kesehatan ibu semakin menurun, ia tak mau menambah masalah lagi.


Pada Langit, ia tahu betul masalah yang tengah tuannya itu hadapi tak kalah berat dengan masalahnya. Bahkan mungkin lebih berat lagi, ia tak mungkin menambah masalah untuk tuannya.


Akhirnya, Alex kerap mengunjungi club' untuk mabuk-mabukan, berharap saat kesadarannya hilang, ia bisa melupakan masalahnya juga rasa kecewanya. Padahal itu tak mungkin, masalah tak akan selesai dengan mabuk-mabukan. Alex justru menambah masalah baru dan merusak dirinya sendiri.


Menempuh perjalanan Tiga puluh menit dari apartemen, akhirnya Alex tiba di club' milik salah satu kenalannya. Ia yang semula selalu ragu dan berpikir beribu-ribu kali saat akan menginjakan kakinya di tempat itu, kini tanpa keraguan sedikitpun ia memasuki gedung tiga lantai itu.


Dua penjaga menyambutnya dengan ramah, meski baru beberapa kali saja Alex mengunjungi tempat itu, ia sudah menjadi member kelas VVIP. Pemilik club' memperlakukannya dengan sangat special, menganggap Alex tamu agung yang harus di layani dengan maksimal. Bahkan pemilik club' berpesan pada semua karyawannya untuk memberikan apapun yang Alex mau, memperlakukannya seperti raja dan melayani pria itu dengan baik.

__ADS_1


Zack namanya, pria seusia Alex yang menggeluti dunia malam sejak usianya dua puluh tahun. Pengalaman yang lumayan lama bukan? Karena itu nama Zack tak asing di kalangan pebisnis hitam. Karena nyaris Dua Belas tahun pria itu menjadi bagian dari dunia hiburan malam.


"Selamat datang Tuan Alex, silahkan duduk.." sapa Zack menyalami Alex. Zack lalu melambaikan tangannya, memberi isyarat pada salah satu pelayan perempuan berpakaian seksi untuk melayani Alex dan menemani pria itu minum. "Layani tamu kita dengan baik, jangan mengecewakannya!" perintahnya.


Perempuan itu mengangguk patuh, "Dengan senang hati, bos." Ia lalu duduk di pangkuan Alex, merangkul leher pria itu dengan mesra. "Mau aku layani di kamar, Tuan?" bisiknya dengan suara menggoda.


"Tidak perlu, tuangkan saya minuman!" ucap Alex dengan dingin. Ia menyingkirkan perempuan seksi itu dari pangkuannya, lalu duduk bersilang kaki, menumpuk sebelah kakinya dengan kakinya yang lain.


Perempuan itu mengangguk patuh meski sedikit kesal karena Alex menolaknya. Ia adalah primadona di club' itu, pelayan terbaik dan tercantik yang banyak di minati pelanggan termasuk pelanggan besar dan para pebisnis. Tak jarang juga ia menerima pesanan dari kalangan pejabat. Dan sejauh ia bekerja sebagai penghibur, ia tak pernah menerima penolakan.


"Silahkan Tuan," ucap perempuan bernama Bunga itu dengan suara sensualnya.


Alex menerima sloki yang perempuan itu sodorkan, kemudian meminum isinya hingga tandas. Ia kembali menyodorkan sloki itu pada Bunga, lalu perempuan itu kembali menuang minumannya.


"Setelah ini, bisakah ikut aku ke apartemen?" tanya Alex dengan suara dinginnya.


"Tentu saja bisa, apapun untukmu sayang.." bisik Bunga. Ia membelai pipi Alex, meski pria itu memalingkan wajahnya, tapi itu ia anggap sebagai tantangan. Bunga bertekad dan yakin akan bisa menaklukan Alex di apartemen nanti.


"Good, ada tawaran menarik untukmu. Kita bicarakan di apartemen." ucap Alex lagi, ia lalu beranjak, menghampiri Zack dan meminta izin pria itu bahwa ia akan mengajak bunga ke apartemennya. Tentu Zack mengizinkannya dengan senang hati.


***


Malam ini Langit di perbolehkan pulang. Sebenarnya dari tadi sore ia mendapat izin pulang, tapi Langit justru meminta perawat untuk kembali mengganti cairan infusnya dengan yang baru.


Hal itu ia lakukan karena ia enggan pulang. Kebersamaanya dengan Jingga akan berakhir jika ia pulang. Dan kesepakatan mereka akan segera di mulai.

__ADS_1


Beberapa hari ini, Jingga menepati janjinya untuk bersikap seperti dulu. Merawatnya dengan baik meski sikapnya masih sedikit dingin.


Jingga tengah membereskan barang-barang Langit saat pak Lim datang untuk menjemput mereka.


"Pak Lim, tunggu dokter sebentar yah. Jarum infusnya belum di lepas," ucap Jingga, ia menoleh sejenak kemudian kembali fokus pada kegiatannya. Memang tak banyak barang-barang milik Langit, tapi ia tak mau ada sesuatu yang tertinggal. Karena itu ia harus memastikan semuanya sudah ia bereskan.


Pak Lim mengangguk, ia menoleh pada Langit yang tampak cemberut dan murung. Ia mengerti dengan keinginan Langit, pria itu pasti ingin terus bersama Jingga. Ia tahu tentang syarat yang Jingga ajukan pada Langit, Langit menceritakannya sendiri.


"Tuan, apa anda menginginkan sesuatu?" tanya Pak Lim.


Langit menggeleng, tak perlu di ucapkan pun ia tahu pak Lim pasti tahu apa yang dia inginkan.


Tak berselang lama, dokter datang bersama seorang perawat.


"Bagaimana Tuan Langit, apa sudah siap untuk pulang?" tanya Dokter.


"Tidak dok, jika boleh, aku ingin terus sakit.."


Atas kalimatnya itu, Jingga menoleh. Perempuan itu menatap suaminya dengan tajam, tapi Langit tampak acuh saja. Langit memang pernah mengatakan padanya, 'apakah harus sakit dulu agar kamu mau dekat denganku? Jika seperti itu, aku rela terus sakit.'


"Kenapa seperti itu tuan Langit?" Tanya dokter seraya terkekeh. Ia merasa lucu dengan selorohan pasien specialnya ini.


Langit tersenyum hambar, "Tidak apa-apa dok," ucapnya. Ingin sekali ia menjawab, 'Karena dengan sakit, ia bisa terus dekat dengan istrinya.' Dan setelah ini, mereka akan tinggal satu atap namun hidup asing.


Dokter lalu meminta perawat ini membuka jarum infus di punggung tangan Langit, ia sendiri tengah menuliskan resep obat yang kemudian di berikan pada pak Lim.

__ADS_1


ALEX SALAH JALAN GES, TUNJUKIN DIA JALAN YANG BENER😭


__ADS_2