MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
APA SALAHKU?


__ADS_3

Alex mengulurkan tangannya pada Mega saat ia dan Mega hendak menaiki tangga eskalator. Mega terdiam sejenak, menatap Alex kemudian menatap ukuran tangan pria itu, tapi kemudian dengan senyum lebar ia menyambut uluran tangan suaminya.


"Terima kasih, mas.." ucap Mega.


"Aku hanya membantumu," ucap Alex. Meski tanpa menoleh, tapi Mega dapat melihat senyuman tipis pria itu.


Yang katanya hanya membantu, nyatanya Alex enggan melepas genggaman tangannya. Entah mengapa jantungnya selalu berdebar-debar jika ia berdekatan dengan Mega. Ada sesuatu yang menariknya agar ia selalu dekat dengan perempuan itu.


Mega pun dengan senang hati membalas genggaman tangan suaminya. Rasanya hangat dan nyaman.


"Mau beli apa?" Tanya Alex saat mereka sampai di lantai dua.


"Perlengkapan dapur saja mas, sama perlengkapan mandi." Jawab Mega, Mega yang tadinya boros, kini mulai belajar mengatur keuangan rumah tangga meski nominal nafkah yang di berikan Alex terbilang besar. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah menjadi perempuan yang lebih baik, menjadi istri yang baik dan menjadi ibu yang baik untuk anak mereka nanti.


"Apa kamu tidak ingin membeli sesuatu, keperluan kamu atau pakaian?" tanya Alex lagi.


Mega menggeleng, "Tidak perlu mas, kita beli apa yang kita butuhkan saja. Lagi pula aku masih punya banyak pakaian."


Alex mengangguk, dalam diam ia tersenyum, ia juga dapat merasakan perubahan dalam diri istrinya. Perempuan yang dulu sombong itu kini sudah jinak.


Mereka memasuki supermarket dengan tangan masih saling bertaut. Tampak seperti pasangan yang tengah jatuh cinta.


"Kamu mau aku masakin apa besok, mas?" tanya Mega. Mereka tengah memilih sayuran dan daging.


Alex yang tengah mendorong troli berhenti, ia tampak berpikir, "Emmm, apa saja. Apapun yang kamu masak aku makan," jawabnya.


Mega terkekeh mendengar jawaban suaminya, karena kenyataannya memang seperti itu. Apapun yang dia masak, Alex selalu memakannya. "Padahal masakan aku tidak selezat masakan ibu, tapi kamu mau memakannya."


"Aku hanya berusaha menghargai apa yang istriku lakukan dengan usahanya sendiri," ucap Alex lagi.


"Terima kasih, suamiku.." ucap Mega. Ia tersenyum begitu manis. Senyuman yang lagi-lagi membuat jantung Alex berdebar-debar.

__ADS_1


"Cepatlah, kita belum makan malam kan?" ucap Alex mengalihkan pembicaraan. Ia gugup, mungkin pipinya sudah memerah.


Mega mengangguk, ia memilih beberapa sayuran, ikan dan daging. Tidak lupa juga ia membeli bumbu kumplit untuk memasak.


Alex juga mengambil beberapa makanan kecil, minuman dan buah-buahan. Menurut artikel online yang ia baca, biasanya nafsu makan wanita hamil meningkat. Dan Alex ingin Mega memakan makanan sehat agar anak yang perempuan itu kandung juga tumbuh sehat.


"Kita kesana dulu, kamu belum membeli susu hamil kan?" Tanya Alex.


"Tidak usah mas, aku tidak terlalu menyukai Susu, apalagi susu hamil. Baunya tidak enak," rengek Mega.


"Paksakan, demi anak kita." bujuk Alex, ia menarik tangan Mega mendekati rak yang menyediakan beberapa jenis susu hamil dari berbagai merk dan berbagai rasa. "Pilih rasa yang kamu sukai, yang membuat kamu tidak mual."


Mendengar pengakuan dan perhatian dari pria itu, hati Mega berdesir. Ia pun tak membantah lagi, menurut saat Alex menyarankan salah satu merk susu hamil setelah pria itu membaca-baca kandungan dan manfaat dari susu tersebut.


"Yang ini saja, kamu suka rasa apa?" Tanya Alex.


"Coklat saja, mas."


"Mas, kenapa banyak sekali?" Tanya Mega dengan mata membulat.


"Untuk persediaan, sudahlah jangan memprotes. Ini baik untuk kamu dan kehamilan kamu," ucap Alex lagi.


Mega pun mengangguk pasrah, ia membiarkan suaminya melakukan apapun yang pria itu mau.


***


Malam sudah larut, tapi Jingga belum juga bisa memejamkan matanya. Alasannya hanya satu, Langit belum juga kembali ke kamar mereka.


Perempuan itu tampak gelisah, ia bahkan sudah beberapa kali mengubah posisi tidurnya, tapi tetap saja rasanya tak nyaman, serasa ada yang kurang saat Langit tak ada di sampingnya. Ingin menyusul ke ruang kerja pun tak bisa karena pak Lim melarangnya masuk. Mungkin Langit berpesan pada pak Lim agar tak ada seorang pun yang mengganggunya dulu, termasuk Jingga.


Memang sangat aneh, karena biasanya Langit akan selalu mengizinkan Jingga menemuinya meski dalam keadaan apapun.

__ADS_1


"Mas, aku takut.." lirihnya. Jika boleh jujur, Jingga takut Langit berubah mengingat sikap aneh pria itu sejak ia pulang sore tadi. Dengan lembut Jingga mengusap perutnya yang terasa menegang, mungkin karena ia berpikir terlalu berlebihan, janin yang ada dalam kandungannya ikut bereaksi.


CEKLEK


Pintu kamar terbuka, Langit masuk setelahnya. Pria itu tak mengatakan apapun meski tatapannya dan tatapan Jingga sempat bertemu.


"Mas, mau aku buatkan sesuatu?" Tanya Jingga seraya beranjak duduk. Ia meringis saat perutnya terasa kram.


Langit hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Ia bahkan tak memperdulikan ringisan kesakitan dari istrinya. Padahal biasanya pria itu begitu sensitif jika Jingga kesakitan, tapi kali ini Langit acuh dan berbaring membelakangi Jingga.


"Mas, apa aku melakukan kesalahan?" lirih Jingga.


Langit tak menjawab, ia bahkan tak menggelengkan kepalanya. Pria itu diam seribu bahasa. Membuat Jingga semakin yakin bahwa ada sesuatu yang salah dengan suaminya, tapi apa? karena sejak pagi ia dan Langit tak berkomunikasi sama sekali, apa salahnya? Salah bicara kah? Atau ada ucapannya yang menyinggung perasaan suaminya?


Begitu banyak pertanyaan yang bercokol di benaknya, satu pun tak dapat ia temukan jawabannya. Jingga hanya bisa menghela nafas panjang, ia masih terus berusaha mengingat-ingat barangkali ia memang melakukan kesalahan pada suaminya itu.


"Aku minta maaf jika aku melakukan kesalahan padamu, aku.."


"Diamlah! Aku lelah, apa kamu tidak bisa mengerti?!" Sentak Langit. Ia beranjak bangun dan menatap Jingga dengan tatapan tajam.


Jingga tentu terkejut, baru kali ini Langit membentaknya. Apalagi tatapan pria itu terasa sangat menusuk, hatinya sangat sakit.


"Maaf mas.." lirih Jingga dengan suara bergetar menahan tangis.


"Tidak ada gunanya kamu meminta maaf! Kamu sudah terlanjur menggangguku!" Setelah mengatakan kalimat itu, Langit pergi begitu saja, menutup pintu kamar dengan keras hingga terdengar suara yang juga cukup keras.


Jingga menutup mulutnya dengan sebelah tangan, menahan suara tangis berharap tak menangis. Tapi ia tak kuat, rasanya sangat sakit ketika Langit menatapnya dengan tajam, suara pria itu juga sangat keras membentaknya.


Perutnya semakin terasa melilit, tapi rasa sakitnya masih kalah dengan rasa sakit di hatinya.


"Apa kesalahanku?" lirihnya seraya terisak. Sekeras apapun ia berpikir, mencari dimana letak kesalahannya, tetap saja ia tak menemukan jawabannya. Bertanya pada Langit pun percuma, pria itu tak akan menjawab apapun.

__ADS_1


__ADS_2