MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
PEMAKAMAN


__ADS_3

Rintik hujan pagi itu mengiringi pemakaman putra Langit dan Jingga. Langit sendiri yang mengebumikan putranya, meski masih sangat kecil, nyatanya sakit yang di torehkan karena kehilangan itu amat besar.


Jingga pun turun hadir, ia tak mau kehilangan moment terakhir bersama putranya. Moment menyakitkan yang akan meninggalkan luka seumur hidupnya.


Duduk di kursi roda, perempuan itu tak berhenti menangis. Ia memaksa ingin ikut mengantar putranya, karena itu dokter mengizinkan dengan syarat harus di dampingi beberapa perawat untuk menjaga hal yang tak di inginkan terjadi.


Ibu memeluk Jingga, menguatkan perempuan itu agar tetap tegar dan ikhlas. Semua orang larut dalam kesedihan, janin yang sudah berbentuk itu tak sempat melihat indahnya dunia, tak sempat Jingga lahirkan dengan sempurna.


Lantunan doa terpanjat untuk bayi yang di beri nama Gatara Bumi.


***


"Jingga.."


Panggilan itu membuat ibu yang tengah mendorong kursi roda Jingga menghentikan langkahnya. Membuat Jingga mendongak dan menatap ibunya penuh permohonan. Ia tak mau menemui Langit lagi, melihat pria itu mengingatkannya pada sikap kejam yang pria itu lakukan padanya hingga mengorbankan satu nyawa yang sangat Jingga harapkan.

__ADS_1


Jingga memalingkan wajahnya saat Langit berdiri di hadapannya lalu pria itu berjongkok. Kaca mata hitam yang semula bertengger di hidung mancungnya ia lepaskan, ia tatap wajah sembab Jingga dengan lekat, "Tidak adakah kesempatan untukku?" tanyanya dengan lirih.


Jingga menoleh, menatap mata sendu Langit dengan tajam, "Kesempatan apa yang kamu maksud? Kesempatan untuk kembali melukaiku?"


Langit menunduk, "Aku sadar aku salah, kesalahan ku bahkan sangat besar. Aku minta maaf, tapi bukankah semua orang berhak menerima kesempatan kedua? Aku memang egois, tapi aku tidak sanggup kehilanganmu, sayang."


"Dan semua orang juga berhak menolak memberikan kesempatan!" Sangkal Jingga, "Sampai jumpa di pengadilan mas!"


Jingga kembali mendongak, "Bu, kita harus segera kembali ke rumah sakit bukan?"


"Bu, ayo kita pergi.." ajak Jingga lagi saat ibu hanya diam.


Ibu kembali mengangguk, ia mendorong kursi roda Jingga, Langit pun berdiri dan masih berusaha ingin mengejar Jingga. Namun Hardi dan Mega menghalanginya.


"Biarkan Jingga tenang dulu, nak.." ucap Hardi. "Dia pasti sangat terluka, kenapa kamu mengecewakannya? Kamu juga melanggar janjimu pada ayah untuk selalu menjaga Jingga dan membahagiakannya."

__ADS_1


"Ayah.."


"Ayah sangat kecewa padamu.."


Langit menelan ludahnya dengan susah payah, ingin kembali memanggil ayah mertuanya tapi suaranya seolah tercekat.


Ia menatap kepergian Jingga dengan penuh penyesalan, tapi semuanya sudah terjadi, Langit hanya bisa berusaha untuk mendapatkan maaf dari istrinya.


Hujan yang semakin deras tak membuat pria itu mau beranjak. Air hujan membasahi tubuhnya dengan leluasa, meski pak Lim sudah mencoba memayunginya, tapi Langit menolak dan meminta pak Lim untuk pulang.


Langit sendiri kembali ke makam sang putra, dengan langkah terhuyung pria itu lalu jatuh bersimpuh di sisi pusara Bumi. Ia menangis sejadi-jadinya, meluapkan penyesalan yang kian membuat dadanya sesak.


"Haaaaaaaaaaaaaaa.." dengan kepala menengadah ia berteriak. Berharap teriakan itu bisa membuat sesak di dadanya sedikit berkurang. "Ampuni aku Tuhan, ampuni akuuu.."


"Maaf nak, maafkan papi.." entah pantas atau tidak, Langit menyebut dirinya papi. Ada rasa sakit saat mengucapkan kata itu, ia merasa berdosa.

__ADS_1


Teringat kata-kata Jingga, 'Nyawa di bayar nyawa.' Langit merasa menjadi penjahat, "Aku seorang pembunuh, apa bedanya aku dengannya (Violet)?"


__ADS_2