
"Kamu buat kesalahan lagi, Ta?" Tanya Bu'de saat ada salah satu karyawan yang berpesan padanya agar ia memanggilkan Esta ke ruangan Angkasa. "Kamu di panggil pak Angkasa ke ruangannya," jelas Bu'de.
Esta yang tengah minum nyaris tersedak, wajahnya memucat. Teringat ancaman pemecatan yang di layangkan Angkasa siang tadi juga kesalahan yang sudah ia buat pada pria itu. Tapi kan ia tak sengaja?
"Ta, kok malah bengong? Kamu buat kesalahan apa lagi?" cecar Bu'de, raut wajahnya tampak cemas, ia takut Esta di pecat.
"Itu Bu'de, anu, aku tadi, aku kentut Bu'de," jawab Esta dengan pelan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, takut jika ada yang mendengar perbincangannya dengan sang Bu'de.
"Hah? Terus apa hubungannya sama pak Angkasa? Kenapa kamu bisa di panggil dia cuma gara-gara kentut?" Bu'de tak habis pikir, bukankah kentut hal yang wajar? Sehat pula, kenapa Angkasa bisa sampai memanggil Esta?
"Aku kentut saat ada dia Bu'de, tapi aku gak sengaja. Suer Bu'de, aku gak tahu kalau di balik tembok ada pak Angkasa. Terus dia marah, aku di ancam di pecat. Aku harus gimana Bu'de?" Esta menggigit bibir bawahnya, kini ia mulai merasa benar-benar takut, awalnya ia bersikap santai dan biasa saja, tapi sepertinya pria itu akan benar-benar merealisasikan ancamannya.
"Aduh Esta! fatal banget kesalahan kamu, gak sopan loh itu namanya!"
"Aku tahu Bu'de, tapi aku benar-benar gak tahu kalau dia juga ada disitu. Kalau aku tahu, pasti aku tahan, dia ngeluh katanya dia ke roof top mau menghirup udara segar, bukan menghirup gas beracun."
Antara kesal dan ingin tertawa, Bu'de sampai bingung mau bersikap apa. Satu sisi ia kasihan pada Esta, tapi di sisi lain ia ingin menertawakan kekonyolan gadis itu.
"Sudah-sudah, lebih baik kamu segera ke ruangan pak Angkasa. Sebelum tanduknya keluar dan kamu di seruduk!" Ucap Bu'de, bibirnya lalu terkatup rapat menahan tawa.
__ADS_1
"Hah? Dia punya tanduk Bu'de? Kalau gitu aku kabur aja, ah. Aku takut," Esta bergidik ngeri, membayangkan betapa ganasnya Angkasa dengan tanduk di kedua sisi kepalanya.
"Ish, anak ini! Itu pribahasa Ta! Sana ke ruangan pak Angkasa, ada di lantai Lima belas, di atas pintunya ada namanya kok. Kamu gak akan salah masuk," jelas Bu'de.
"Tapi Bu'de.."
"Gak ada tapi-tapian, Esta! Suruh siapa kentut sembarangan, itu tempat nongkrong pak Angkasa dan pak Bintang, lain kali jangan sembarangan buang gas!"
Esta menggerak-gerakkan kedua kakinya, jika boleh memilih, mending ia kabur saja. Tapi sayang, ia tak punya pilihan lain demi tetap bekerja disana. Akhirnya dengan jantung dag dig dug Esta pergi ke ruangan Angkasa.
Kali ini Esta menggunakan lift, beruntung ada karyawan lain yang kebetulan juga menuju ke lantai yang sama.
Pertanyaan itu membuat Esta menoleh, ia tersenyum lalu mengangguk. Dalam hati ia memuji perempuan cantik yang baru saja bertanya padanya, selain cantik, ramah pula. Cerdas sudah pasti, buktinya saja bisa bekerja di LaGroup. Begitu pikir Esta.
"Nama kamu unik, Semesta," komentar perempuan itu lagi.
Membuat Esta yang tengah menatap kagum perempuan itu tergagap, "Ah, iya mbak. Kata orang juga begitu."
"Nama aku Rembulan, panggil aja Bulan." Perempuan bernama Bulan itu mengulurkan tangannya, senyuman ramah masih terukir di bibir ranumnya.
__ADS_1
"Semesta, panggil Esta mbak." Balas Esta, dengan ragu ia menerima uluran tangan Bulan, ia merasa tak pantas bersalaman dengan Bulan. "Nama mbak juga unik, cantik seperti orangnya," kata Esta dengan mata berbinar kagum. Di matanya, Bulan benar-benar definisi salah satu ciptaan Tuhan yang paling indah.
Tubuh tinggi semampai, kulit putih bersinar, rambut panjang berwarna hitam legam, juga pahatan wajah yang nyaris sempurna. Benar-benar pas dan membuat orang tak bosan memandang. Yang membuat Esta semakin kagum adalah, pakaian yang melekat di tubuh semampai Bulan sangat sopan, tidak seperti yang sering Esta lihat.
Jika yang lain menggunakan rok span di atas lutut dengan tangtop seksi yang membuat belahan dada terlihat kemudian blazer ngetat di tubuh, Bulan justru memakai celana panjang model kulot berwarna putih gading yang di padukan dengan kemeja lengan 3/4 berwarna pink soft. Yang membuat penampilan sederhana Bulan terlihat manis adalah tali celana di bagian pinggang gadis itu terlilit pas membentuk pita. Apalagi ujung kemeja itu Bulan masukkan ke dalam celana agar terlihat rapi.
"Kamu bisa aja, baru berapa hari kamu kerja disini?" Tanya Bulan lagi.
"Baru hari ini, mbak."
Bulan manggut-manggut mengerti, mereka keluar bersama saat pintu lift terbuka. Tak di sangka, ternyata tujuan mereka pun sama.
"Loh, kamu mau ke ruangan pak Angkasa juga?" Tanya Bulan, ia jadi tertawa saat gadis itu mengangguk, "Yaudah, kita masuk sama-sama aja."
"Tapi, mbak.."
"Udah ayo, gak papa kok," Bulan menggandeng tanga Esta, memasuki ruangan Angkasa bersama-sama.
IKLAN.
__ADS_1
Hayo loh, gimana tuh kelanjutannya? Gantungin aaaahhh🤣🤣😜