
Maaf readers kesayangan, dua hari mak gak up. Mak sibuk di kehidupan nyata, abis pindahan rumah, beberes barang bejibun, akhirnya gak bisa up LangitJingga. Maafin yah, maafin dooongg🥺🥺
SELAMAT MEMBACA..
"Mbak Mega?" Jingga terkejut dengan kehadiran Mega, Mega memang tak mengabari Jingga bahwa ia akan datang.
Mega tersenyum lebar, ia berjalan cepat menghampiri sang adik.
"Hati-hati mbak, mbak lagi hamil loh.." ucap Jingga mengingatkan.
Mega mengangguk, senyum lebar masih menghiasi wajahnya. "Apa kabar?" tanyanya.
"Aku baik mbak, mbak sendiri bagaimana?" Tanya balik Jingga.
"Aku juga baik, aku bawakan puding susu buat kamu. Kita makan sama-sama, ok?"
Jingga mengangguk antusias, matanya tampak berkaca-kaca, ia menggandeng lengan Mega dan mereka pergi ke dapur bersama-sama.
"Keponakan aunty tidak rewel kan?" Tanya Mega, ia mengusap perut buncit Jingga, lalu menatap Jingga saat sebuah gerakan kecil ia rasakan, "Bergerak?"
Jingga mengangguk seraya tersenyum, "Dia memang sangat aktif. Keponakan aunty sehat dong.." ucap Jingga menirunya suara anak kecil.
“Aku bahagia, akhirnya kamu bisa bahagia bersama Langit,” ungkap Mega. Ucapannya terdengar tulus, meski ia sempat nyaris membuat rumah tangga sang adik bermasalah, tapi pada akhirnya ia menyadari perbuatannya kemudian menyesalinya. “Maafkan mbak, dulu mbak sempat membuat kalian berselisih. Mbak menyesal, Jingga..”
Jingga tersenyum lembut, mengusap lengan sang kakak tak kalah lembut, “Aku sudah melupakannya, mbak.”
__ADS_1
Mega mengusap pipi Jingga, menatap kedua netra sang adik dengan lekat. Entah mengapa ia merasa sorot mata adiknya menyimpan kepedihan. Menyimpan kekecewaan yang entah karena apa. “Jingga, kamu benar-benar bahagia kan?” Tanyanya.
Jingga sedikit terkejut dengan pertanyaan sang kakak, ia mencoba tersenyum lalu mengangguk, “Tentu, mbak. Mbak tahu sendiri kan? Kenapa mbak masih bertanya?”
Mega menggelengkan kepalanya, “Mbak hanya merasa kamu..” Mega menghentikan kalimatnya, ia ingat pesan Alex sebelum ia pergi mengunjungi Jingga. Bahwa ia harus berjanji untuk tak menanyakan hal-hal yang aneh atau menanyakan kehidupan pribadi Jingga.
“Hanya apa mbak?”
Mega kembali menggeleng, ia lalu tersenyum dan menyiapkan pudding susu yang ia bawa. “Kita makan pudding dulu, baru kita bicara lagi.”
Jingga mengangguk antusias, kedatangan Mega bisa menjadi obatnya, setidaknya, masih ada kekuatan untuk bertahan dari orang-orang yang menyayanginya. Tanpa sadar ia mengusap perut buncitnya, ada pergerakan kecil dari dalam sana, bayinya seolah mengerti dengan keadaan maminya. “Kita kuat nak, kita akan kuat..” batinnya.
***
Pertanyaan itu menghentikan langkah Jingga yang tengah menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Ia lalu berbalik, entah sejak kapan Langit ada di belakangnya.
“Mengatakan apa mas?”
“Jangan pura-pura bodoh, kamu pasti mengadu padanya kan?” Tuduh Langit, pria itu menatap istrinya dengan tatapan tajam, tak pernah Jingga mendapatkan tatapan itu, tatapan kebencian tapi juga masih menyembunyikan cinta.
“Untuk apa mas? Untuk apa aku mengatakan keadaan kita yang sebenarnya? Aku bahkan tidak pernah mempunyai niat untuk mengadu pada keluargaku. Kenapa kamu seperti ini, mas? Katakan padaku, apa sebenarnya salahku? Mana suamiku yang dulu, aku begitu merindukannya. Kamu bukan Langit yang aku kenal, kamu Langit yang berbeda. Tidak ada Jingga di Langit ini,” ucap Jingga dengan bibir bergetar menahan tangis, ia menunjuk dada suaminya, tatapan mereka masih saling beradu. Hatinya sakit, perih bak tersayat ribuan pisau tajam. “Kamu bukan suamiku..” ucapnya dengan begitu lirih. Airmata tak dapat Jingga tahan lagi, sejak lama ia ingin bertanya pada pria itu, karena ketika ia bertanya pun, Langit tak pernah menjawabnya.
“Ya, aku memang Langit yang berbeda. Dan iniah aku yang sebenarnya. Kamu mau tahu kenapa aku seperti ini?” Langit bertanya dengan tatapan dinginnya. “Karena kamu kedua orang tuaku mati!” teriak Langit tepat di hadapan wajah sendu Jingga. Membuat Jingga menutup mata dan memalingkan wajahnya.
Perempuan itu semakin terisak, ia memberanikan diri menatap Langit kembali, ia tak mengerti dengan ucapan suaminya, “A-aku? Apa maksudmu mas?” dengan susah payah Jingga mengeluarkan suara. Mendengar tuduhan keji itu dadanya sesak, suaranya nyaris hilang.
__ADS_1
“Violet, ibumu yang sudah membunuh papa dan mamaku. Karena dia menginginkanmu dia tega menghabisi nyawa mama yang bahkan tidak tahu apa-apa. Semuanya karena kamu Jingga!” Sentak Langit lagi.
Jingga menggelengkan kepalanya beberapa kali, menolak pernyataan Langit yang tak ia terima, karena bahkan ia tak tahu apa-apa. Mengetahui kenyataan ia putri kandung Banyu Biru saja baru beberapa bulan ini, mana mungkin ia mau di salahkan atas peristiwa byang sama sekali tak ia tahu. “Aku tidak salah mas, aku..”
“Diam!!!” sentak Langit lagi, “Karena mencarimu, ibumu mengacaukan hari bahagiaku, mengganti hari ulang tahunku dengan hari kematian kedua orang tuaku. Dia wanita jahat yang egois!!” Langit terus berteriak, mengundang perhatian para pekerja di rumah itu tak terkecuyali pak Lim dan bu Rika. Namun di antara mereka, tak ada satu pun yang berani mendekat apalagi melerai.
Jingga menutup kedua telinganya, tak sanggup lagi mendengar suara bentakan Langit yang berteriak di hadapannya. Kepalanya terus menggeleng, airmatanya terus mengalir, ia tak terima karena Langit menuduhnya dengan kesalahan yang sama sekali tak ia tahu. Bahkan Jingga tak tahu bagaimana rupa sang ibu, yang ia tahu ibunya hanya Yaya.
“Berhenti berteriak mas, aku mohon hentikan..” lirih Jingga nyaris tak terdengar.
“Kenapa? Kamu tidak terima aku menyalahkanmu? Karena kenyataannya semua ini terjadi karena dirimi, Jingga! Aku kira Tuhan mengirimmu sebagai obatku, tapi ternyata kamu lah sumber dari penyakit itu.”
Kalimat itu terasa menusuk relung hati Jingga, rasanya sangat sakit, begitu sakit sampai Jingga tak bisa menahannya lagi. Perempuan itu memegang erat kepalanya yang terasa berat, sekelilingnya terasa berputar, sampai akhirnya tubuhnya limbung dan terjatuh berguling-guling dari tangga.
“Jingga..” pekik Langit, ia berlari mengejar tubuh Jingga yang berguling dan berhenti di undakan anak tangga terakhir. “Jingga..”
“Ya Tuhan Nyonya Jingga,” pekik bu Rika. Ia dan pak Lim berlari menghampiri Jingga yang tergeletak tak sadarkan diri. Darah segar mengucur dari dahi dan hidungnya.
Sedangkan pelayan yang lain hanya bisa menyaksikan kejadian itu dari jarak yang cukup jauh, mereka tak cukup berani menghampiri Jingga meski sangat ingin tahu keadaan sang nyonya.
“Jingga bangun Jingga,” pekik Langit. Ia mengusap darah yang mengalir di dahinya, namun sedetik kemudian ia di kejutkan dengan banyaknya darah di atas lantai. “Darah, darah apa ini? Kenapa sebanyak ini?” Langit panik, ia menatap bu Rika yang raut wajahnya tampak memucat.
“Nyonya, astaga tuan, nyonya pendarahan,” ucap bu Rika dengan bibir bergetar.
Tak mengatakan apapun lagi, Langit menggendong tubuh lemah Jingga, ia berlari di ikuti pak Lim dan bu Rika. Dengan sigap pak Lim mengeluarkan salah satu mobil milik Langit, lalu membukakan pintu bagian belakang untuk sang tuan. Ia sendiri duduk memegang kemudi di temani bu Rika yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1