MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
ADA APA DENGANNYA?


__ADS_3

Mega tertidur di mobil saat mereka pulang berbelanja yang di lanjutkan dengan acara makan malam.


Alex tak tega membangunkannya, pria itu meminta salah satu penjaga untuk membawa barang-barang belanjaan mereka, ia sendiri menggendong Mega.


Mega terbangun karena gerakan Alex berjalan membuat tidurnya tak nyaman, "Mas, turunkan aku, aku bisa berjalan. Aku pasti berat," ucapnya dengan suara serak.


Tapi Alex tak mendengar, ia tetap menggendong Mega. Pria itu bahkan tak memperdulikan penjaga apartemen yang berdiri satu lift dengannya. Membuat Mega malu dan berusaha untuk turun.


"Diamlah, kamu bisa terjatuh!" ucap Alex, ia menunduk menatap Mega dengan tajam.


Mega menurut, ia diam dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.


Sampai di unit apartemen miliknya, Alex mendudukkan Mega di sofa, dengan sangat lembut dan berhati-hati. Ia lalu meninggalkan perempuan itu untuk menghampiri penjaga apartemen dan memberikan sedikit rezeki untuknya. "Terima kasih, pak.." ucap Alex.


"Sama-sama tuan Alex, saya permisi.." pamitnya.


Alex mengangguk, ia mengantar penjaga apartemen itu sampai ke pintu. Tidak lupa Alex mengunci kembali pintunya sebelum akhirnya menghampiri Mega yang tengah duduk bersandar di sofa.


"Kamu lelah?" tanya Alex.


Mega menggeleng, "Tidak, aku hanya sedikit mengantuk. Mas mau aku buatkan teh atau kopi?"


"Jika tidak lelah, kopi juga boleh.." jawab Alex.


Mega mengangguk, ia beranjak menuju ke dapur untuk membuatkan kopi. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar lima menit saja, perempuan itu sudah kembali menghampiri suaminya.


Secangkir kopi yang masih sangat panas ia bawa dengan hati-hati. Namun baru saja hendak ia letakkan di atas meja, tanpa sengaja kaki Alex bergerak mengenai lengan perempuan itu. Membuat kopi panas itu sedikit tumpah mengenai ibu jarinya.


"Aw.." pekik Mega. Dengan cepat ia meletakkan kopi tersebut di atas meja, lalu Mega meniupi ibu jarinya yang terasa panas.

__ADS_1


Alex tentu terkejut, ia tak sengaja melakukan itu. Ia tak menyadari posisi Mega sudah dekat dengannya. karena itu ia menggerakkan kakinya bermaksud ingin sedikit meregangkan otot kaki yang terasa pegal.


"Maaf maaf, apa tanganmu terluka?" Tanya Alex dengan cemas. Ia menarik Mega dan membawanya duduk, dengan cepat ia meniupi tangan istrinya, "Maaf, aku tidak sengaja.." ucapnya lagi.


"Tidak apa-apa mas, hanya sedikit panas," ucap Mega seraya meringis.


"Jari kamu memerah. Ini pasti sangat panas, maafkan aku.." ucap Alex penuh penyesalan. Ia kembali meniupi tangan istrinya, padahal hanya ibu jarinya saja yang terkena kopi panas tersebut, tapi Alex meniupi semua jari-jari tangan Mega.


"Mas, aku benar-benar tidak apa-apa. Sebentar lagi panasnya akan hilang, jangan cemas.."


Alex tak mendengar, ia terus meniupi tangan Mega. Membuat Mega tersenyum dan menatap wajah suaminya dengan lekat.


Tersadar Mega tengah menatapnya, Alex pun mengalihkan perhatiannya membalas tatapan perempuan itu. "Maaf.." lirihnya.


Mega tersenyum, ia lalu mengangguk dan membalas genggaman tangan Alex.


Perlahan Alex mendekat, jantungnya terpompa lebih cepat dari biasanya saat Mega terus menatapnya. Ia terus mendekat, semakin dekat dan lebih dekat lagi. Sampai Mega memejamkan mata, dengan lembut Alex menyatukan bibir mereka. Entah apa yang mendorongnya, ia begitu ingin menyentuh perempuan itu.


Karena terlalu menghayati dan menikmati, Alex bahkan enggan melepaskan tautan bibirnya meski Mega sempat ingin menjauh untuk meraup oksigen.


Pergerakan Alex yang sedikit kaku mulai lihai karena Mega justru kini mengambil kendali. Perempuan itu benar-benar membuat Alex mabuk kepayang, hingga tanpa sadar Alex mendorong tubuh istrinya lalu sedikit menindihnya.


Pergerakan terbatas karena sofa yang sempit membuat Mega sedikit mendorong dada suaminya.


Alex melepaskan tautan bibir mereka, menatap perempuan itu penuh tanya, "Ada apa?" tanyanya dengan suara serak. Matanya tampak sayu, tertutup kabut gairah yang mulai singgah.


"Disini sempit, mas. Apa tidak sebaiknya kita ke kamar saja?" Saran Mega.


Sejenak Alex terdiam, ia menatap wajah memerah istrinya. Alex kira Mega akan menolaknya dan menghentikan kegiatan mereka, ternyata perempuan itu justru menyarankannya pindah tempat. Ia pun mengangguk seraya tersenyum. Tanpa meminta izin lagi, ia menggendong tubuh Mega, menaiki anak tangga yang tak seberapa tinggi menuju ke kamar mereka.

__ADS_1


***


Keadaan berbanding terbalik dengan Jingga, perempuan itu benar-benar tak dapat memejamkan matanya malam itu, selain karena Langit tak kembali lagi ke kamar, ia juga masih mengingat suara keras suaminya saat membentaknya. Suara bentakan pria itu terus terngiang-ngiang, membuatnya merasakan sakit lagi dan lagi. Tapi Jingga berusaha berpikir baik, mungkin Langit tengah ada masalah, pria itu terbawa emosi.


Sialnya, sakit di perutnya terasa semakin melilit. "Tenang ya nak, mami disini. Tenanglah, mami baik-baik saja."


Jingga terus berbicara, seolah mengajak bicara calon bayinya di dalam perut. Sebelah tangannya masih terus mengelus lembut perutnya yang mulai terasa berubah, sementara sebelah tangannya yang lain sibuk menghapus air mata yang tak kunjung mau berhenti.


"Papi tidak sengaja membentak mami, papi pasti sedang lelah. Mengertilah nak, papi sangat menyayangi kita.."


Untungnya, sakit di perutnya mulai mereda. Calon anaknya seolah mengerti dengan keadaannya.


Jingga memutuskan untuk menyusul Langit, pria itu pasti ada di ruang kerjanya. Tak perduli dengan penolakan Langit atau larangan dari pak Lim lagi, Jingga harus menemui Langit dan berbicara dengan pria itu.


Dengan langkah pelan ia menuju ruang kerja Langit yang berada di lantai dua tak jauh dari kamar mereka. Karena ruangan kerja pria itu ada dua, di lantai bawah dan di lantai dua sebelah kanan kamar mereka.


Tapi di depan ruangan itu tak ada pak Lim yang semula berjaga. "Apa mas Langit tidak ada disana?" gumam Jingga.


Baru saja hendak mengetuk pintu, suara seseorang sedikit mengejutkannya.


"Nyonya Jingga.."


Jingga menoleh, "Pak Lim? Apa suamiku ada di dalam?" tanyanya.


"Tidak, nyonya. Tuan Langit keluar.." jelas pak Lim.


Jingga mengerutkan dahinya, tak biasanya Langit keluar saat malam sudah larut seperti ini. Sejak mereka menikah, baru kali ini pria itu pergi keluar malam-malam tanpa memberi tahunya pula. "Kemana pak? Tidak biasanya mas Langit keluar malam-malam, apa ada pekerjaan mendesak?"


Pak Lim menggeleng, "Maaf nyonya, saya juga tidak tahu tuan pergi kemana. Saat saya bertanya, Tuan tidak menjawabnya. Tapi saya sudah meminta salah satu penjaga untuk mengikuti tuan dari jauh, nyonya.." jelas pak Lim. Karena Langit memang tak menjawabnya saat ia bertanya pada pria itu.

__ADS_1


Jingga menunduk, rasanya campur aduk. Antara cemas dan gelisah bercampur menjadi satu.


"Ada apa dengannya?"


__ADS_2