MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
ADEGAN LANGKA


__ADS_3

Dengan lekat mereka terus saling menatap, kedua tangan Langit bahkan tak lepas dari pinggang ramping Jingga yang juga memeluknya.


Perlahan wajah mereka mendekat, terus dekat dan sangat dekat. Sampai entah siapa yang memulai lebih dulu, bibir mereka menyatu dengan hangat.


Rasanya seperti mimpi, Langit bisa kembali merasakan kenyalnya bibir sang istri setelah sekian lama. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Langit mulai menggerakkan bibirnya dengan lembut. Bak gayung bersambut, Jingga pun membalasnya.


Perasaan rindu yang membuncah membuat keduanya enggan saling melepaskan. Bahkan pagutan bibir itu semakin dalam dan menuntut. Sedikit membuat Jingga kewalahan tapi ia masih bisa mengimbangi keganasan pergerakan bibir suaminya.


Merasakan tangan sang suami yang mulai nakal, Jingga sedikit mendorong dada pria itu. Membuat Langit melepaskan pagutan bibirnya lalu menatap Jingga penuh harap.


"Kenapa, sayang?" Tanya Langit. Tatapan pria itu tampak sayu, sepertinya Langit tak mampu lagi menahan keinginannya.


"Kita harus ke kantor mas, bukankah ada pertemuan penting pagi ini?" tanya Jingga, ia mengulurkan tangannya, mengusap bibir basah Langit lalu mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu.


"Tapi, sayang. Aku sangat merindukanmu.." lirihnya dengan suara serak.


"Aku juga, nanti malam. Aku janji nanti malam kita akan menghabiskan waktu berdua, jangan sekarang.." rengek Jingga di akhir kalimatnya.


Langit berdecak, ia mulai bertingkah. Pria itu merajuk.


"Kalau kamu marah, nanti malam pun batal. Kamu bisa tidur di kamarmu dan aku akan tidur di kamarku," ancam Jingga.


Langit gelagapan, itu tidak mungkin. Ia lalu tersenyum, "Aku tidak marah, lihatlah, bukankah aku tersenyum?"


Jingga tertawa, berjinjit dan mengecup bibir suaminya dengan gemas. "Baiklah, bersiaplah untuk nanti malam.."


"YESS," pekik Langit, ia bahkan melompat seperti anak kecil yang baru saja mendapat jatah uang jajan.


"Kita pergi sekarang?" tanya Jingga, ia tersenyum saat Langit mengusap bibirnya juga.


Langit mengangguk, merapihkan pakaian Jingga dan tatanan rambut perempuan itu yang sedikit berantakan karenanya.


Dengan saling bertaut tangan keduanya berjalan bersama, melewati pak Lim dan Bu Rika yang menunggu mereka di dekat pintu utama.


Dari raut berseri keduanya, pak Lim dan Bu Rika dapat menebak apa yang sudah terjadi. Mereka pun turut bahagia, setelah sekian lama rumah itu terasa tandus karena senyuman Tuan dan Nyonyanya menghilang, kini rumah itu serasa bertabur bunga.


"Pak Joko, hari ini kamu libur kembali," ucap Langit. Ia lalu memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada pria paruh baya itu, "Ini uang liburan kamu."

__ADS_1


Pak Joko tersenyum, tapi raut wajahnya terlihat terheran-heran. "I-ini untuk saya Tuan?"


Langit mengangguk, "Hem.." jawabnya.


Pak Joko lalu menoleh pada Jingga, Nyonyanya itu tampak mengangguk seraya tersenyum. Ia tak ragu lagi menerima uang liburannya. "Terima kasih, Tuan. Nyonya.."


Langit dan Jingga kompak mengangguk, lalu mereka memasuki mobil.


Sepanjang perjalanan, Langit terus menggenggam tangan Jingga. Ia simpan genggaman tangan itu di pangkuannya, ia tak ingin jauh lagi dari sang istri.


Jingga pun tak ingin jauh dari Langit, ia menyandarkan kepalanya di bahu Langit. Sesekali Langit menunduk, mengecup puncak kepala Jingga di bahunya.


Hari ini terasa sangat indah, Langit bahkan melihat banyak bunga bermekaran di jalanan.


***


Sejak saling mengungkapkan perasaan, Langit dan Jingga benar-benar tak ingin jauh. Bahkan di kantor pun Langit selalu mengekor kemana pun Jingga pergi, begitu pun sebaliknya. Mereka seperti pasangan yang baru jatuh cinta.


"Kenapa siang sangat lama?" Celetuk Langit saat mereka tengah menikmati makan siang bersama di ruangan Jingga.


Pertanyaan itu membuat Jingga menoleh, ia lalu bertanya, "Memangnya kenapa? Bukankah sama saja seperti hari-hari biasanya?" Perempuan itu lupa dengan janjinya pagi tadi.


Jingga mengerjap, lalu terkekeh, "Kenapa di ingat-ingat, mas?"


"Ya karena aku sudah tidak tahan, sayang. Aku sangat merindukanmu, apa sekarang saja? Bagaimana?" Tanyanya dengan antusias, ia menatap Jingga penuh harap, sengaja membuat tatapan terlihat seimut mungkin.


"Sekarang?" ulang Jingga.


Langit mengangguk beberapa kali, ia tersenyum manis, sangat manis mengalahkan gula.


Belum sempat Jingga menjawab, suara ponsel milik Langit membuat pria itu berdecak sebal. Apalagi ketika melihat nama Alex lah yang ternyata menghubunginya.


"Ish, untuk apa manusia aneh ini menghubungiku?" gerutunya.


"Siapa, mas?"


Langit memperlihatkan layar ponselnya pada Jingga, "Kakak ipar kamu," ucapnya dengan ketus.

__ADS_1


"Kakak ipar kamu juga kalau kamu lupa," balas Jingga.


Langit berdecak, tapi ia tetap menerima panggilan dari asisten merangkap sebagai kakak iparnya itu.


"Ada apa?" Tanyanya dengan bibir mengerucut, pria berwajah tua itu tampak seperti anak kecil yang tengah merajuk.


"Adik ipar, aku sudah menemukan Mega.." ucap Alex dari seberang sana. Karena bahagia, Alex jadi mempunyai seribu keberanian untuk menggoda sang tuan.


"Siapa yang kamu sebut adik ipar? Mau ku potong gaji mu, hah?" Semprot Langit, alih-alih mengapresiasi kabar bahagia yang Alex sampaikan, Langit justru memprotes panggilan Alex untuknya.


"Ah, tidak tuan. Aku salah bicara, aku kira ini nyonya Jingga," sangkal Alex. Mendapat ancaman jenis itu, seribu keberanian Alex tinggal tersisa satu saja.


"Ck, ada apa?" Tanya Langit masih dengan nada ketus.


"Aku sudah menemukan istriku, Tuan. Aku sedang dalam perjalanan pulang," ucap Alex sumringah.


Langit tersenyum lebar, "Benarkah? Ini kabar bahagia, Alex. Akan aku sampaikan kabar bahagia ini pada istriku," ucap Langit.


Dari nada sumringah yang Alex dengar, Alex jadi tertarik untuk bertanya, "Tuan, sepertinya ada kabar baik juga darimu. Apakah.."


"Bukan urusanmu! Sudah-sudah, kamu mengganggu waktuku dan istriku!"


Tanpa permisi, Langit menutup sambungan telponnya. Di seberang sana, Alex menggerutu. Tapi pada intinya, kedua pasangan itu tengah merasakan kebahagiaan yang sama dengan alasan yang nyaris sama juga.


"Ada apa mas?" Tanya Jingga.


Raut wajah asam Langit berubah manis seketika ketika pria itu menoleh pada istrinya, "Mega sudah di temukan. Mereka dalam perjalanan pulang, sayang.." jelas Langit. Tidak lupa juga ia tersenyum manis lalu mencuri kecupan di bibir mungil sang istri.


"Ish, pintar sekali kamu mencuri kesempatan.." gerutu Jingga. Tapi pada akhirnya ia tersenyum begitu lebar, "Syukurlah, akhirnya mbak Mega pulang. Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya, apa malam ini kita bisa mengunjungi mereka mas?"


Langit sontak menggeleng, "Tidak tidak tidak, besok saja kita mengunjungi mereka. Malam ini kita akan menghabiskan waktu bersama, jangan lupakan itu. Tolong mengertilah sayang, aku sangat merindukan mu.." pinta Langit.


Jingga tampak berpikir, "Tapi, mas. Ayah dan ibu pasti meminta kita datang dan berkumpul di rumah ibu, bagaimana?"


Langit tampak kusut, dengan gusar ia usap wajah tuanya, nyaris saja janggut putih yang menempel di dagunya ikut terlepas. Langit galau..


IKLAN

__ADS_1


Sekedar klarifikasi, Mak othor udah tuwir ges, takut ada yang percaya kalau Mak masih 17 tahun🤣🤣


Selamat menunggu adegan nganu-nganu. Aku mikir dulu, mau skip atau aku tulis😜😜


__ADS_2