
Handoko menghampiri Langit, tatapan pria itu tampak sendu. Dua penjaga mengikutinya dari belakang, hendak menahan Handoko namun Langit mengangkat sebelah tangannya memberi interuksi agar mereka membiarkan pria itu mendekat padanya.
“Putraku..” lirih Handoko, suara handoko tercekat, ia begitu ingin memeluk Langit dan mendengar putranya itu memanggilnya ayah meski hanya sekali saja. Tapi ia sadar kesalahannya tak akan mungkin bisa termaafkan.
“Untuk apa anda datang lagi kesini?” Tanya Langit. Suara pria itu memang terdengar tenang, tapi tatapan matanya masih tampak tajam.
“Aku hanya ingin meminta maaf padamu, meski aku tahu kamu tidak mungkin bisa memaafkan ku, tapi sebelum aku pergi, aku ingin bisa memelukmu..” ungkapnya.
“Apa maksudmu?” Tanya Langit, entah mengapa ada ketakutan yang menyelinap dalam relungnya.
“Aku bersalah, aku lah yang paling bersalah. Aku akan menyerahkan diri ke polisi. Dan aku janji, aku tidak akan membawa nama Violet dalam hal ini. Selama berpuluh-puluh tahun hidupku tidak tenang, aku melampiaskan rasa bersalahku ini dengan kejahatan yang lain. Aku membenarkan perbuatan salah yang terus aku lakukan hanya untuk menutupi kesalahan besar itu. Aku minta maaf, jika ada yang bisa aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku, akan aku lakukan meski aku harus menukar nyawaku sekali pun..”
“Percuma, jika pun aku memintamu mati, apa kedua orang tua ku akan hidup kembali?”
Handoko menggeleng seraya menunduk dalam. Hatinya sedikit tercubit, bukan karena kematian yang Langit minta, tapi kata ORANG TUA yang semakin menegaskan bahwa tidak ada namanya di hati Langit sedikit pun. Tidak ada tempat untuknya di kehidupan Langit.
Hening, tidak ada lagi pembicaraan yang di antara mereka berdua, sampai kedatangan beberapa polisi yang sengaja Handoko panggil membuat mereka berdua menoleh ke arah yang sama.
“Sekali lagi, aku meminta maaf padamu. Dengan setulus hati aku meminta ampun,” ucap Handoko lagi.
Langit tak menjawab, pria itu hanya terus menatap Handoko dengan tatapan entah. Ada rasa sakit melihat tatapan sendu pria itu, entahlah. Sekuat apapun ia menyangkal keberadaan Handoko, darah pria itu tetap mengalir dalam tubuhnya.
Handoko pasrah saat salah satu petugas kepolisian meringkus tangannya dengan borgol. Tatapannya tak lepas dari Langit yang juga masih terus menatapnya.
“Sebentar pak,” pintanya pada pak polisi.
Pak polisi mengangguk, membiarkan Handoko mengutarakan keinginan terakhirnya.
Langit bergeming saat Handoko menghampirinya, entah mengapa kakinya sulit untuk menghindar.
“Bolehkah aku memelukmu sekali saja? Anggap ini permintaan terakhirku, nak..” pinta Handoko.
Langit masih tak menjawab, ia pun tak bisa berkata-kata. Sampai ketika Jingga dan Violet menghampirinya dan menyentuh lengannya. Langit seolah tersadar, ia mengedarkan pandangan, ternyata ia sudah menjadi pusat perhatian semua karyawannya.
__ADS_1
“Mas..” lirih Jingga dengan lembut, tatapan Jingga seolah memintanya menuruti keinginan Handoko.
Langit melangkah ragu, lalu berdiri di hadapan Handoko yang kini tampak meneteskan air mata. Mereka saling menatap dalam, sampai akhirnya Langit menyadari bahwa Handoko sudah tak bisa memeluknya lagi, kedua tangannya sudah terborgol ke belakang.
Perlahan Langit semakin mendekat, kedua tangannya terangkat dengan sedikit bergetar. Ia lalu memeluk Handoko, matanya terpejam, ada rasa aneh yang menjalar di hatinya. Apalagi ketika ia merasakan tubuh Handoko bergetar dan semakin terisak, entah mengapa hatinya semakin terasa sakit.
“Maafkan ayah, nak..” lirih Handoko dengan suara terbata. Tenggorokannya tercekat, dadanya sesak. Mengapa tidak dari dulu saja ia mengakui kesalahannya? Agar ia bisa merasakan pelukan ini dengan cepat.
Lagi-lagi Langit tak dapat berkata apa pun, pria itu tengah berusaha ikhlas. Batinnya tengah berperang, antara ingin mengakui keberadaan Handoko sebagai ayahnya, atau hanya memaafkan pria itu tanpa mengakuinya sebagai ayah.
“Kami harus segera membawanya pergi.”
Kalimat itu membuat tangis Handoko semakin pecah karena Langit mulai melerai dekapannya.
“Maaf, nak. maafkan ayah..” hanya kalimat itu yang terus Handoko ucapkan, hatinya benar-benar sakit harus berpisah dengan Langit dalam keadaan tangan terborgol. Tapi ia terima, karena ia mengakui semua kesalahannya.
Bibir Langit perlahan bergerak, seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi begitu berat. Sampai Handoko berbalik dan mulai melangkah, Langit berkata, “A-ayah..”
“Ayah..” ucap Langit lagi.
Handoko memejamkan matanya, akhirnya ia bisa mendengar putranya memanggilnya ayah meski di situasi menyedihkan seperti sekarang ini. Tangisnya kian pecah, dadanya kian sesak. “Iya, nak. ini ayah..”
Semua orang terkejut dengan pemandangan haru itu. Bahkan Jingga dan Violet pun tak menyangka Langit akan mengakui Handoko sebagai ayahnya. Tapi terlepas dari keterkejutan mereka, mereka bersyukur akhirnya semua selesai. Kejadian pahit di masa lalu yang menorehkan luka dalam itu akhirnya tak akan menghantui kehidupan mereka di masa depan lagi.
Berbeda dengan Jingga dan Violet, semua karyawan yang menyaksikan hal itu justru bertanya-tanya, mengapa antara ayah dan anak usianya nyaris sama? Mereka sama-sama terlihat tua. Langit yang berwajah tua memanggil Handoko dengan sebutan ayah yang usianya juga terlihat sama.
Cukup lama Langit mendekap Handoko, sampai petugas kepolisian kembali mengatakan bahwa Handoko harus segera pergi, barulah Langit melepas dekapannya.
“Terima kasih, nak. Sekarang ayah sudah tenang, jika pun ayah harus di hukum mati, ayah akan menerimanya dengan perasaan bahagia.”
“Jangan katakana itu ayah, aku tidak akan menuntut ayah atau memberatkan hukuman ayah..” ucap Langit.
Handoko menggelengkan kepalanya, “Tidak, nak. ayah memang pantas menerimanya.” Ia lalu menoleh ke belakang Langit, menatap Jingga dan Violet bergantian.
__ADS_1
“Vio, maafkan aku. Kamu tidak bersalah, kamu berhak bahagia dengan putrimu. Dan Jingga, maafkan ayah nak, ayah melukaimu..”
Jingga mengangguk seraya tersenyum, ia lalu menghampiri Handoko dan memeluknya, “Aku sudah memaafkan ayah..”
“Terima kasih, terima kasih nak. Semoga kalian selalu bahagia, ayah titip Langit..”
Jingga kembali mengangguk, ia tak dapat lagi menahan air matanya.
“Vio, aku titip anak-anak..” ucap Handoko lagi.
Violet mengangguk, “Terima kasih, kamu sudah melakukan hal yang luar biasa Han. Kamu tidak perlu cemas, aku akan memastikan Langit dan Jingga bahagia..”
Handoko tersenyum meski matanya berair. Ia lalu berbalik dan pasrah ketika petugas kepolisian membawanya pergi.
Seiring dengan mobil kepolisian yang mulai melaju, Langit limbung dan meremas dadanya yang tiba-tiba sakit.
“Mas, kamu tidak apa-apa?” Tanya Jingga dengan cemas, ia dan Vio menuntun Langit untuk duduk di kursi lobby.
Sementara para penjaga mengintruksikan para karyawan untuk kembali bekerja dan membiarkan Langit beristirahat disana.
“Mama ambil kan air dulu,” ucap Violet yang di angguki Jingga.
“Mas, jangan membuat aku cemas. Mana yang sakit? Kita pergi ke dokter saja..”
Langit menggeleng, “Tidak, sayang. Aku hanya sedikit sesak. Apa aku boleh menangis lagi?” Tanyanya.
Jingga mengangguk dan merentangkan tangannya agar Langit menangis di pelukannya. Seperti seorang anak yang menangis pada ibunya, Langit menangis di pelukan Jingga. Tangisan tersedu yang terdengar begitu menyayat, menggambarkan seberapa besar rasa sakit yang pria itu rasakan ketika melihat sang ayah harus menerima hukuman karena kesalahannya, juga teringat pada Banyu dan Senja yang di habisi di hadapannya. Semuanya bercampur aduk, ia meluapkan rasa sesak yang sejak tadi ia tahan. Penguasa LaGroup itu terlihat begitu rapuh dalam dekapan istrinya, menjadikan tubuh hangat sang istri sebagai labuhan rasa sakitnya juga sebagai kekuatannya.
IKLAN
Ges, menurut kalian cerita anak-anak mereka aku terusin disini atau aku bikin baru aja?
Aku bingung, kasih masukan lah..
__ADS_1