
Mega menatap jam dinding yang menggantung di dinding kamarnya. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, tapi Alex belum juga pulang.
Sebagai seorang istri, tentu ia cemas. Apalagi akhir-akhir ini Alex kerap pulang dalam keadaan mabuk berat. Meski pun Alex mengacuhkannya, ia terima. Mega tak pernah tersinggung dengan sikap Alex, karena ia menyadari kesalahannya lah yang sudah membuat pria itu berubah.
BRAK
Suara pintu terbuka keras membuat Mega terkejut. Ia lantas beranjak dari ranjang, keluar kamar untuk melihat apakah suaminya sudah pulang?
Langkahnya memelan saat ia melihat Alex pulang tak sendiri, ada perempuan cantik dan seksi yang ikut bersamanya. Mereka tampak saling merangkul satu sama lain.
Dengan susah payah ia menelan ludah, dadanya terasa sesak, ia tahan dengan sikap acuh dan dingin pria itu, tapi melihat suaminya membawa pulang perempuan lain ke apartemen mereka, apakah ia bisa bertahan?
Tidak ada yang lebih menyakitkan dalam rumah tangga selain pengkhianatan. Meski Mega sendiri berbohong, tapi itu ia lakukan sebelum menikah dengan Alex, setelah menikah ia berubah menjadi perempuan yang lebih baik walau kebohongannya terus ia tutupi.
"Mas.." lirih Mega.
Alex pun menoleh, begitu juga dengan Bunga. Tatapan mereka bertemu, sampai akhirnya Alex memutusnya lebih dulu.
"Dia siapa?" bisik Bunga. Bunga yang seorang bunga malam itu merasa iba melihat wanita hamil menangis menatap pria yang tengah merangkul pinggangnya dengan posesif.
"Bukan urusanmu, turuti saja apa mau ku. Kita bicara di kamarku," jawab Alex.
__ADS_1
Bunga mengangguk patuh, ia tak bisa menolak penawaran menggiurkan yang Alex suguhkan.
Tanpa menatap Mega sedikit pun, Alex melewati perempuan itu begitu saja. Merangkul erat pinggang ramping Bunga menuju ke kamarnya yang juga kamar Mega.
"Mas, tunggu mas!" Mega berbalik, menyusul Alex dengan langkah cepat, "Mas dengarkan aku!"
Dengan kasar Mega menghapus air matanya, lalu mendahului Alex dan menghadang pria itu. Membuat Alex dan Bunga menghentikan langkah bersamaan.
"Minggir!" ucap Alex dengan tegas.
Mega menggeleng beberapa kali, "Tidak, aku tidak akan menyingkir."
"Jangan halangi langkahku, Mega!" sentak Alex.
"Mas, aku mohon jangan seperti ini.."
"Lalu aku harus seperti apa?"
Mega kembali menghapus air matanya, lalu berkata, "Aku tidak akan menghalangi mu, lakukan apapun yang mau kamu lakukan bersama perempuan ini mas. Asal jangan di kamar kita, aku mohon.."
Alex mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan perang batin yang membuat dadanya sesak. "Menyingkir lah, Mega!" Tegasnya lagi.
__ADS_1
Mega kembali menggeleng, "Aku mohon.." pintanya mengiba.
Alex berdecak, lalu menggeser tubuh Mega dari hadapannya, kemudian ia kembali merangkul Bunga dan melanjutkan langkahnya.
"Mas, tolong dengarkan aku.." Mega meremas dadanya yang sesak, kemudian memegang bagian perut saat perutnya kembali terasa sakit. "Mas.." lirihnya semakin lemah.
Tapi sayangnya, Alex tak mau mendengarkannya. Ia tetap membawa Bunga masuk ke dalam ruang pribadinya.
Mega terus memanggil-manggil Alex dengan begitu menyedihkan. Ia tak rela, tempatnya memadu kasih dengan sang suami di tempati oleh perempuan lain.
Sementara itu..
"Tuan, dia istrimu?" tanya Bunga sesaat setelah mereka memasuki kamar.
Alex mengangguk sebagai jawaban, ia melempar kemeja yang ia pakai ke sembarang arah, menyisakan kaos polos putih yang membungkus tubuh kekarnya.
"Dia sedang hamil, emmm menurutku apa tidak sebaiknya kamu menemuinya?"
Alex menoleh, menatap Bunga dengan tatapan tajam, "Jangan campuri urusanku. Tugasmu bukan itu!"
Bunga menghela nafas panjang kemudian mengangguk, ia duduk di sisi ranjang ketika Alex memberi perintah lewat isyarat gerak tangannya. Ia siap menerima perintah.
__ADS_1
Huaaam, maaf baru sempet up ya ges ya. Mak sibuk di dunia nyata, nganterin si Buntut ke sekolah barunya. Maafin ya ges..