
Menatap begitu banyak gaun indah, kedua mata Esta berbinar. Baru kali ini ia memasuki butik megah dengan isi berbagai gaun indah yang harganya juga uwow menurutnya. Bahkan harga satu gaun ada yang mencapai harga satu motor matic impiannya.
Esta sampai tak berani menyentuh gaun-gaun itu, takut rusak juga takut tangannya kotor dan mengotori gaun-gaun tersebut.
Gadis itu hanya berani melihat-lihat tanpa berani menyentuh apalagi mencobanya. Sekalinya menyentuh, Esta hanya berani menyentuh label price atau price tag-nya saja. Kemudian ia langsung menjauh saat mengetahui harganya.
Puas melihat-lihat, Esta memutuskan untuk duduk di sofa tunggu, menunggu Angkasa yang katanya tengah mencoba pakaian yang sudah ia pesan sebelumnya. Melihat harga-harga yang tertera pada label gaun tersebut membuat matanya perih dan jiwa misquinnya meronta.
"Ada yang kamu suka?"
Pertanyaan itu membuat Esta menoleh, alih-alih menjawab, gadis itu justru ternganga dengan mata berbinar. Esta terpesona melihat penampilan Angkasa dengan setelan jas berwarna biru dongker pekat yang sangat kontras dengan kulit bersihnya.
"Esta! Di tanya malah bengong, gimana? Ada yang kamu suka gak?" Angkasa mengulang pertanyaannya. Ia lalu duduk di sebelah gadis itu dan mencubit pipinya.
"Aw, sakit pak!" Pekik Esta, ia memukul lengan Angkasa, lalu balas mencubit pipi pria itu.
"Berani banget nyubit-nyubit saya?"
Esta mengerjap, ia yang hendak kembali mencubit pipi Angkasa sontak menjauhkan tangannya, "Maaf pak," ucapnya seraya menunduk.
Melihat wajah ketakutan Esta, Angkasa menahan tawa. Ia lalu berkata, "Ini hukuman buat kamu," ucapnya seraya menggelitik pinggang Esta.
"Ampun pak, gak lagi-lagi." Esta berusaha menahan tangan Angkasa, namun pria itu terus menggelitiknya hingga Esta tak bisa menahan tawanya. Gadis itu tertawa lepas, melupakan sekelilingnya, melupakan status bos dan bawahan, juga melupakan status pacar pura-pura yang ia sandang.
***
"Ini gimana, pak?" Tanya Esta, ia berputar lalu menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.
"Jelek, ganti lagi!" Penolakan Angkasa untuk yang ke sekian kalinya.
__ADS_1
Esta menghela nafas pasrah, lalu kembali ke ruang ganti untuk mengganti gaun yang ia coba. Jika di umpamakan dengan kepala, mungkin lantai yang ia pijak sudah botak karena ia bolak balik mengganti gaun.
"Yang ini, pak?" Tanya Esta sesaat setelah ia kembali keluar dari ruang ganti."
Angkasa menggeleng, "Lebih jelek, ganti!"
"Astaga, pak. Kenapa gak kamu aja yang coba gaunnya?! Apa kamu tahu? Mencoba satu gaun aja perjuangan banget, kamu gampang tinggal bilang jelek terus nyuruh aku ganti, aku udah sengklek nyoba sepuluh gaun!" Esta mengomel, memang sudah 10 gaun yang ia coba, tapi Angkasa terus menolak.
"Apa? Sepuluh? Perasaan baru dua," kata Angkasa dengan entengnya.
Esta semakin kesal, wajah tampan pria itu mendadak terlihat jelek di matanya. "Buat apa sih kamu minta aku nyobain gaun sebanyak ini?"
Angkasa menghela nafas panjang, lalu menjawab, "Untuk pergi ke acara tunangan sepupuku," lirihnya.
Esta mengatupkan bibirnya rapat-rapat, ada rasa kesal yang menyusup di hatinya. "Jadi pak Bintang dan mbak Bulan akan bertunangan?"
Angkasa mengangguk, "Tapi jangan beri tahu Bulan tentang hal ini. Bintang memintaku membantunya untuk memberikan Bulan kejutan," jelas Angkasa lagi.
Angkasa diam, ia tak bisa menjawab. Namun diamnya pria itu adalah jawaban untuk Esta. Meski Angkasa diam, Esta cukup mengerti dengan jalan pikiran pria itu. Dan tahu kah dia? Perasaan Esta sangat sakit.
"Aku adalah aku, dan Bulan adalah Bulan. Aku gak akan pernah bisa menjadi Bulan, begitu pun sebaliknya. Jangan paksa aku menyerupainya, karena kami berbeda pak. Aku gak akan pernah bisa sama dengannya, lagi pula, aku bukan pacar kamu yang sebenarnya. Apa pura-pura menjadi pacar harus menuruti semua yang kamu mau? Kalau kamu memintaku menjadi Bulan, maaf pak, aku gak bisa. Uang yang kamu berikan masih utuh, aku akan mengembalikannya dan kesepakatan kita batal. Anggap aja kita gak pernah kenal seperti sebelumnya. Dan tolong ingat ini pak, semua orang punya kepribadian yang berbeda, beda kepala beda hati dan sudah pasti beda rupa pak. Maaf, aku bukan Bulan!"
Mendengar kalimat itu, Angkasa merasa bersalah. Memang tidak seharusnya ia membayangkan Esta sebagai Bulan. Mereka gadis yang berbeda, dan mereka mempunyai keistimewaan yang berbeda pula.
"Esta, aku minta maaf. Aku gak bermaksud begitu, aku.."
"Aku udah maafin kamu. Tapi maaf, aku harus pulang." Tanpa memberi kesempatan Angkasa bicara lagi, Esta kembali memasuki ruang ganti. Ia mengganti gaun terakhir yang ia pakai dengan pakaiannya sendiri. Ada satu karyawan butik yang membantunya.
"Mbak, apa mbak punya nomor rekening pak Angkasa?" Entah mengapa Esta bertanya demikian, ia merasa yakin kalau butik itu adalah butik langganan Angkasa. Mungkin saja mereka tahu banyak tentang Angkasa termasuk nomor rekening pria itu.
__ADS_1
"Saya gak punya, mbak. Tapi Nona Zeny mungkin punya," jawab karyawan tersebut.
"Bisa tolong mintakan, mbak? Ini nomor ponsel saya, tolong kirim nomornya ke nomor saya." Esta memperlihatkan nomor ponselnya pada karyawan butik, "Maaf saya merepotkan, mbak."
"Gak papa mbak, nomor mbak akan saya simpan, dengan mbak..?"
"Esta, mbak."
"Ok, nanti saya mintakan nomor rekening pak Angkasa ke nona Zeny."
Esta mengangguk, lalu pamit pergi. Di luar ruang ganti, Angkasa sudah menunggunya.
"Ta, maaf. Jangan marah, tolong ngerti, aku benar-benar gak sengaja. Itu karena.."
"Karena kamu gak bisa lupain mbak Bulan kan? Itu urusan anda pak, dan saya gak marah. Memangnya siapa saya? Apa hak saya untuk marah? Saya hanya tidak mau menjadi orang lain, apalagi menjadi bayang-bayang mantan anda." Kata Esta dengan tegas, bahkan bahasa formalnya kembali ia gunakan.
Angkasa mengusap wajahnya dengan gusar, tanpa ia sadari, ia menyakiti seseorang yang tak tahu apa-apa karena ambisinya.
"Aku antar kamu pulang," kata Angkasa.
Esta menggeleng, "Gak usah pak, saya naik angkot aja."
"Emang kamu tahu jalan pulang?"
Esta menggigit bibir bawahnya, sialnya, ia memang tak tahu jalan pulang. Sejak berada di Jakarta, ia tak pernah keluar rumah. apalagi dengan jarak yang jauh, paling-paling hanya pergi ke warung atau ke super market yang tak jauh dari rumah sang Bu'de.
"Ayo, aku antar kamu," ucap Angkasa lagi.
Esta tak menjawab, tapi langkahnya mengikuti langkah pria itu menuju mobil. Sepanjang perjalanan, Esta benar-benar diam. Jika sebelumnya gadis itu cerewet dan banyak bertanya, kali ini Esta hanya diam dan bicara jika Angkasa bertanya. Itu pun hanya menunjukan alamat rumah Bu'denya.
__ADS_1
Dan diamnya gadis itu terasa aneh untuk Angkasa. Entah mengapa ia jadi sangat ingin mendengar suara Esta, bahkan ia ingin mendengar suara kentut gadis itu lagi. Angkasa mulai merasa gila karena merindukan suara kentut Esta.