MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
TERTEMBAK BOM


__ADS_3

Esta berjalan lunglai menaiki tangga darurat menuju roof top. Posisinya sebagai OG membuatnya tak berani menaiki lift, bukan hanya itu, ia juga tak tahu cara menggunakan bilik berjalan itu. Dari pada salah, lebih baik ia menggunakan kakinya saja.


Lelahnya bukan main, bayangkan saja, dari lantai dasar, ia menaiki tangga darurat menuju lantai Lima belas. Kedua kakinya bahkan terasa gemetar, lututnya terasa tak bertulang, keringat juga membanjiri tubuhnya. Akibatnya, setelah sampai di roof top, gadis itu bukannya bekerja melainkan duduk berselonjor kaki mengistirahatkan kedua kakinya.


Beberapa saat lalu, Bu Retno memintanya membersihkan area roof top. Karena di area itu terdapat beberapa tempat duduk yang sengaja di minta oleh putra mahkota LaGroup beserta sepupunya. Roof top adalah tempat favorit untuk dua pria itu, tempat menyegarkan otak melepas penat karena pekerjaan.


"Astaga, lutut aku berasa mau copot," gumam Esta. Ia mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu mengibaskan tangannya di depan wajah. "Duh ini perut, kenapa mules yah?"


Kedua tangannya meraba area perut, lalu mengangkat sebelah bok*ngnya dengan pelan, dengan sekuat tenaga ia mengejan, DUUUUT. Bahkan matanya ikut terpejam karena besarnya tenaga dalam yang ia keluarkan demi mengeluarkan gas alam yang bergemuruh di perutnya.


"Aaah, leganya.."


"Buset, gue kira gledek!"


Suara itu membuat Esta terkejut, ia lalu berdiri sempoyongan, memiringkan tubuhnya melihat ke sisi tembok yang lain yang tadi ia jadikan sandaran saat duduk. Ternyata disana tak hanya ada dirinya saja, melainkan ada orang lain juga.


Posisi mereka saat duduk saling membelakangi, hanya saja ada tembok sebagai pembatas yang memisahkan punggung mereka.

__ADS_1


"Ka-kamu?" Esta menelan ludahnya dengan susah payah, wajahnya memerah seperti tomat baru matang. Malu bukan main, mungkin rasa malunya memuncak hingga ke ubun-ubun. Ia juga takut akan membuat pria itu marah, mengingat pembicaraannya dengan Bu Retno pagi tadi, bahwa pria itu adalah salah satu orang penting di perusahaan, Esta jadi semakin takut.


Bagaimana tidak, suara gas yang ia keluarkan sangat besar, bok*ngnya saja sampai ikut bergetar. Pasti pria itu mendengarnya dengan jelas, atau mungkin lebih parahnya merasakan getarannya juga.


"Kamu kentut?" Tanya Angkasa dengan ketus. Niatnya kesana untuk menenangkan diri, tapi ternyata ia justru di tembak gas beracun yang baunya lumayan menyengat.


Esta menggeleng, namun kemudian mengangguk. Ia sampai bingung harus menjawab apa. Menjawab tidak, ia berbohong. Menjawab iya, ia malu. Lagi pula pria itu pasti sudah tahu bahwa dirinya memang buang gas. Karena tak ada siapapun lagi selain mereka berdua.


"Mana yang bener? IYA atau TIDAK?" Angkasa menatap Esta dengan tajam, padahal ia tengah kesal karena melihat Bintang dekat dengan Bulan, dan sekarang bertambah kesal karena gadis itu mengebomnya dengan gas bau busuk. Ia jadi bertanya-tanya dalam hati, makan apa gadis itu? Kenapa bau kentutnya aneh seperti ini? Mengalahkan bau kentut papanya yang terkenal paling bau di keluarganya.


"Mu-mungkin itu suara angin, pak. Iya, itu pasti angin. Disini kan anginnya kencang, mungkin saking kencangnya jadi berbunyi," Esta memutuskan untuk berbohong.


Esta gelagapan, bingung harus berbuat apa. Sudah ketahuan, tapi ia masih nekad berbohong. Esta.. Esta..


"Maaf, pak," ucap Esta pada akhirnya. Sudah jelas ia tak bisa mengelak lagi.


"Dari tadi pagi kamu minta maaf, tapi kamu bikin kesalahan terus. Mau saya pe.."

__ADS_1


"Gak mau," pekik Esta memotong ucapan Angkasa. Pecat memecat adalah mimpi buruk untuknya, susah payah ia mendapat pekerjaan, masuk di LaGroup meski budenya yang membantu.


Kata orang, menggunakan orang dalam itu bisa mudah. Nyatanya bagi Esta tidak, ia tetap di persulit karena dirinya tak membawa ijazah lengkap. Beruntung Bu Retno bisa meyakinkan pihak HRD bahwa ijazah gadis itu akan menyusul, itu pun pihak HRD baru memutuskan setelah Esta menunggu dua Minggu lamanya.


"Memangnya apa yang mau saya omongin? Kenapa kamu langsung nolak? Kamu belum tahu kan saya mau ngomong apa?" cecar Angkasa, ia semakin asik mengerjai Esta yang wajahnya tampak memucat.


"Pecat kan pak? Jangan pak saya mohon, saya baru bekerja hari ini, masa saya sudah di pecat. Saya tidak mau pulang kampung dan di nikahi juragan tanah beristri Lima itu, saya mohon pak, jangan pecat saya.." Esta terus meracau, membuat Angkasa semakin ingin meledakkan tawanya.


"Bagus dong, kamu bisa jadi yang ke enam.." ledek Angkasa.


"Tidaaaaak, dia lebih cocok jadi kakek saya pak." Membayangkan tua bangka mata keranjang itu membuat Esta bergidik ngeri. Melihat gigi emasnya saja ia sudah tak tahan, apalagi menjadi istrinya yang pasti harus melihat pria tua itu setiap hari. Mau tidur, bangun tidur, mau makan, mau mandi, bahkan mau BAB, ia harus melihat gigi emas pria itu. Mengerikan!


"Tidak masalah, harusnya kamu senang dong. Kamu tidak perlu capek-capek melayaninya karena masih ada lima istri lainnya yang akan membantumu." Angkasa terus menjahili Esta, gadis kucel yang memberinya bom molotov beberapa saat lalu.


"Permisi pak, saya mau beresin tempat ini. Jangan paksa saya lagi pak, saya akui saya memang kentut. Nanti saja bapak hukum saya, tapi jangan paksa saya membayangkan hal mengerikan seperti menikah dengan juragan tua itu." Esta mengambil peralatan perangnya, meninggalkan Angkasa tanpa menunggu pria itu menjawabnya.


"Hei! Dasar tidak sopan! Saya masih mau ngomong, kenapa main pergi aja?!"

__ADS_1


"Bapak ngomong sama tembok aja, saya sibuk pak.." Esta menjawab sedikit berteriak. Membuat Angkasa lagi-lagi tercengang.


Gadis itu begitu berani padanya, polos tapi juga melawan. Menarik, mengingatkannya pada sosok sang mantan.


__ADS_2