
Semakin hari, hubungan Langit dan Jingga semakin memburuk. Langit bahkan sangat jarang tidur bersama Jingga di kamar mereka. Pria itu lebih sering menghabiskan waktunya di ruang kerja dan tidur disana.
Semua orang mulai khawatir melihat kondisi rumah tangga Langit dan Jingga. Berbanding terbalik dengan rumah tangga Alex dan Mega yang semakin membaik. Mereka bahkan sudah saling menyatakan perasaan masing-masing.
Jingga begitu sedih, Langit benar-benar menghindarinya. Ia bahkan tak tahu letak kesalahannya dimana, tapi sang suami begitu enggan mendekatinya bahkan hanya sekedar melihat dan menyapanya.
Di usia kandungan yang mulai membesar, cobaan demi cobaan justru menimpa rumah tangganya dan Langit. Beberapa kali pak Lim dan Bu Rika harus mendatangkan dokter kandungan ke rumah, untuk memeriksa kondisi Jingga yang beberapa kali sempat drop.
Jingga membutuhkan Langit, tapi pria itu semakin menjauh. Pak Lim juga sudah menyarankan agar kedua orang tua Jingga tinggal untuk sementara waktu di rumah besar itu, untuk merawat Jingga dan menemani sang nyonya. Tapi Jingga menolak, ia beralasan tak mau membuat kedua orang tuanya cemas melihat kondisi rumah tangganya yang tak baik-baik saja.
Jingga jadi jarang keluar kamar, ia takut bertemu Langit dan akan kembali kecewa saat mendapati sikap pria itu yang semakin mengacuhkannya. Ia lebih memilih mengurung diri di dalam kamar, meski sesekali ia keluar kamar hanya untuk duduk termenung di taman belakang.
Mungkin jika tak ada bayi dalam kandungannya, Jingga akan putus asa. Tapi tidak, ia tak mau membuat anaknya tak merasakan kasih sayang dari kedua orang tua yang utuh. Meski ia sadar betul, impiannya untuk merajut kebahagiaan dengan keluarga kecilnya nyaris hancur. Tapi ia masih menaruh harapan walaupun hanya 1% saja.
Seperti sore ini, Jingga memutuskan untuk keluar kamar. Ia ingin duduk di taman belakang menatap rumput hijau dan bunga mawar merah yang mulai bermekaran. Bunga yang Langit sengaja tanam karena Jingga menyukainya meski di awal kehamilan Jingga sempat alergi pada bunga tersebut. Tapi seiring dengan kehamilannya yang mulai membesar, ia tak lagi bersin-bersin saat menghirup aroma dari mawar merah itu.
Ada Bu Rika yang menemaninya, padahal Jingga sudah melarangnya. Tapi Bu Rika tak membiarkannya sendirian.
__ADS_1
"Nyonya, anginnya cukup kencang. Apa tidak sebaiknya nyonya masuk?" Tanya Bu Rika dengan lembut.
Jingga menggeleng tanpa menoleh. Tatapannya masih lurus dan kosong, "Bu Rika masuk saja, aku masih ingin disini," jawabnya dengan suara parau.
Setiap hari Jingga menangis, sampai terkadang suara perempuan itu serak dan matanya membengkak. Bagaimana tidak, Langit yang dulu sangat mencintainya dan memanjakannya, kali ini bersikap acuh bahkan kasar. Pria itu tak memperdulikannya.
Jingga sudah mencoba bicara dengan Langit, meminta penjelasan atas perubahan sikap pria itu, tapi bukan jawaban yang Jingga dapatkan, namun sikap dingin Langit bahkan bentakan pria itu. Hal itu lah yang kerap membuat Jingga drop dan jatuh sakit.
Perempuan itu menjadi sering melamun, tubuhnya lebih kurus, senyum dan tawa pun tak lagi pernah terlihat di wajah sendunya.
"Aku tidak apa-apa Bu Rika, aku baik-baik saja.." ucap Jingga tanpa menoleh.
Tanpa Jingga sadari, Langit memperhatikannya dari balkon kamar mereka. Pria itu mengusap wajahnya dengan gusar, entah apa yang kini Langit pikirkan, ia semakin tak berhati.
***
"Boleh ya mas.." Mega tengah merengek meminta izin pada Alex untuk mengunjungi Jingga. Ia sudah merindukan sang adik, hubungannya dan Jingga memang sudah membaik seperti dulu.
__ADS_1
"Sayang, aku tidak melarang mu menemui nyonya Jingga, tapi sepertinya bukan waktu yang tepat untuk mengunjungi nyonya jingga dalam waktu dekat ini," jelas Alex. Ia tahu keadaan rumah tangga tuannya, tak mungkin Mega kesana dan mengetahui keadaan Jingga yang sebenarnya. Apalagi jika sampai Mega mengatakannya pada Hardi dan Yaya, itu artinya ia tak menghargai janjinya pada Jingga.
Alex memang pernah berjanji pada Jingga untuk melarang Mega datang, Jingga tak mau Mega atau kedua orang tuanya tahu tentang keadaan rumah tangganya yang berada di ujung tombak.
"Memangnya kenapa mas? Apa harus ada waktu khusus agar aku bisa menemui adikku sendiri?" Mega mulai merajuk, ia mengerucutkan bibirnya dan membuang muka saat Alex menatapnya.
"Sayang.."
"Jahat.." Kedua mata Mega berkaca-kaca, lalu menangis membelakangi Alex. "Huaaaaaa..kamu jahat mas!"
Alex kelabakan, ia menarik bahu Mega sampai perempuan itu berbalik menatapnya dengan air mata berlinang. Sejenak pria itu terdiam, sampai akhirnya berkata, "Baiklah, kita kesana sekarang, ok?"
Seketika Mega tersenyum lebar, ia mengangguk beberapa kali lalu memeluk Alex dengan erat, "Kamu memang yang terbaik, mas.." ucapnya.
"Hem, kamu berhutang untuk ini. Bayar nanti malam," bisik Alex.
Mega melepaskan dekapannya, mendorong pipi Alex yang tengah tersenyum menyeringai.
__ADS_1