MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
KEBAHAGIAAN GANDA


__ADS_3

Langit mendekat saat Jingga dan Violet sudah sedikit meredakan tangis. Ia duduk di sebelah kiri Jingga, tersenyum saat Jingga tiba-tiba memeluknya.


"Terima kasih mas.." ungkapnya.


"Untuk?" Tanya Langit, ia mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Membuat aku sadar bahwa memaafkan dan mengikhlaskan adalah pilihan terbaik," jawab Jingga.


Langit mengangguk, "Aku mempunyai satu kabar bahagia lagi, untukmu, untukku, untuk kita semua.."


Jingga mendongak, "Apa?"


Langit menoleh pada Violet, wanita paruh baya itu tampak mengangguk seraya tersenyum meski sisa-sisa air mata masih tampak di ujung matanya.


“Kamu hamil, sayang. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua..”


Jingga menutup mulutnya dengan sebelah tangan, air matanya kembali mengalir. Ini lah kuasa Tuhan, di saat ia mengikhlaskan semuanya, ternyata Tuhan memberinya kebahagiaan ganda.


“Aku hamil, mas?” Tanya Jingga untuk memastikan. Ia menatap Langit dan Violet bergantian, mereka berdua kompak mengangguk. Ruangan itu banjir air mata bahagia, apalagi yang Jingga inginkan? Semuanya telah terpenuhi dalam hidupnya. Rumah tangga yang bahagia, suami yang mencintainya, orang tua yang lengkap dan kini bertambah dengan kehadiran Violet, Jingga benar-benar bersyukur. Mungkin inilah hikmah dan anugerah yang ia dapat setelah hidupnya di penuhi dengan air mata.


Benar kata pepatah, jika kita mengikhlaskan semua kejadian buruk dalam hidup kita, maka semuanya akan terasa ringan hati pun tenang. Jika Tuhan mengambil seseorang yang sangat kita cintai, maka ikhlaskan lah, niscaya Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik, di waktu yang tepat.


***


“Maafkan, aku ayah, ibu..” lirih Mega seraya terisak. Setelah mengumpulkan keberanian, ia memutuskan untuk berterus terang perihal kehamilannya pada kedua orang tuanya. Meski rasanya ia tak sanggup mendapat tatapan kekecewaan dari mereka, tapi untuk hidup yang tenang, ia harus berkata jujur meski terkadang jujur itu pahit.


“Ya Tuhan, nak. kenapa kamu tidak bisa menjaga diri? Kami malu rasanya,” lirih ayah. “Apa kamu tahu? Ayah menyalahkan nak Alex karena ayah pikir dia tidak bisa menjagamu dan menyakitimu, ternyata..” Ayah tak mampu melanjutkan kalimatnya, ia tertunduk sedih.

__ADS_1


“Maaf, ayah..” lirih Mega. Ia semakin terisak.


Alex yang berada di sebelahnya hanya bisa memeluk perempuan itu, mengusap punggungnya yang bergetar.


“Ayah, sudahlah. Semua sudah terjadi, kita memang kecewa padanya, tapi walau bagaimana pun Mega putri kita. Ibu memang tidak membenarkan apa yang dia lakukan, tapi jika pun kita marah, semuanya tidak akan kembali seperti semula. Jika nak Alex saja bisa memaafkannya, apa kita harus menghakiminya lagi?”


“Tapi bu, ayah malu. Apalagi besan kita sudah tahu, mau di tarus dimana muka ayah?”


“Justru itu ayah, besan kita sudah memaafkannya, dan kita sebagai orang tuanya apa tidak bisa memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri?”


Ayah terdiam, ia tak tahu lagi harus berkata apa. Ia sungguh kecewa dan malu. Ia merasa gagal menjaga putrinya.


Mega beranjak, ia bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya. “Maaf.. ampuni aku ayah, aku mohon. Aku ingin melanjutkan hidupku tanpa beban dan rasa bersalah karena terus menyimpan kebohongan. Aku mohon ayah, beri aku kesempatan untuk memperbaiki diriku..”


Hardi masih diam, hanya air mata yang tampak mulai menetes dari ujung matanya. Perlahan kedua tangannya terulur, mengusap puncak kepala Mega lalu memeluknya. “Ayah yang harusnya minta maaf, ayah tidak bisa menjaga mu dengan baik. Ayah adalah ayah yang buruk..”


“Tidak ayah, jangan bicara seperti itu. Ayah adalah ayah terbaik buat aku dan Jingga, ayah.. Aaaakh..”


Semua orang menatap ke lantai, ada air sedikit kental menetes dari Mega.


“Ya Tuhan, mungkin kamu pecah ketuban nak. kita harus segera ke rumah sakit, kamu mau melahirkan,” ucap ibu dengan panik.


Alex yang masih terkejut justru semakin panik. Ia berdiri dan pergi begitu saja, membuat Mega sontak memekik memanggilnya.


“Maaas..”


Alex kembali berbalik, “Kenapa sayang? Kita harus ke rumah sakit bukan?”

__ADS_1


“Kamu mau ke rumah sakit sendiri? Aku masih disini,” ucap Mega seraya meringis. Ia kesal pada Alex, bisa-bisanya di saat seperti ini pria itu melawak meninggalkannya. Sebenarnya siapa yang akan melahirkan? Dirinya atau Alex?


“Asataga, maaf sayang. Aku panik..”


Antara ingin tertawa dan kesal, Mega lalu meminta Alex memapahnya. Namun pria itu justru menggendongnya. Ibu dan ayah yang juga panik justru terbengong dan saling menatap.


“Bu, ayo kita pergi..” panggil Alex yang kembali berbalik saat ia tak mendengar langkah ayah dan ibu mertuanya mengikutinya di belakang.


“I-iya nak, ayah ayo kita ke rumah sakit..”


Hardi yang masih saja terbengong kemudian mengangguk. Melihat Mega meringis membuat semua orang semakin panik. Padahal ibu harusnya bisa tenang karena sudah tahu bagaimana rasanya melahirkan, tapi disini ibu justru yang paling panik. Melihat putrinya kesakitan, ia merasa takut. Seperti dejavu, mungkin karena ia sudah tahu bagaimana proses melahirkan, ia justru takut.


***


Langit menghentikan langkahnya dengan tangan terkepal saat di depan pintu utama gedung perusahaannya seorang pria berdiri menunggunya. Begitu pun dengan Violet san Jingga, mereka sama-sama menghentikan langkah.


Sesaat yang lalu, Alex mengabari mereka bahwa Mega akan melahirkan di rumah sakit Kasih Bunda, karena itu mereka hendak pergi ke ruamh sakit tersebut. Tapi ternyata ada seseorang yang sudah menunggu di pelataran gedung.


“Mas..” lirih Jingga, ia tak mau Langit emosi dan membahayakan dirinya sendiri. Apalagi ketika melihat rahang pria itu mengeras dengan mata memerah, Jingga sontak menahan lengan pria itu. “Jangan mas..”


Langit menghembuskan nafas kasar, sentuhan Jingga membuatnya sadar bahwa ia sudah membuat istrinya ketakutan. Langit harus berhati-hati, apalagi Jingga kini tengah mengandung, ia tak mau kesalahan yang sama sampai ia lakukan kembali. Ia lalu menoleh pada Violet, “Ma, tolong bawa Jingga ke ruangan itu. Tunggu aku disana,” Langit menunjuk lobbi khusus untuk tamu VVIP, ruangan kedap suara yang menurutnya sangat aman untuk Jingga.


Violet mengangguk, ia menggandeng tangan putrinya, “Ayo, sayang..” ajaknya.


“Tapi, ma..” Jingga enggan meninggalkan Langit, ia takut Langit gegabah, apalagi tak ada Alex yang mendampinginya. Dan Langit sudah tahu siapa sebenarnya yang paling bersalah dalam peristiwa kematian kedua orang tuanya, meski pria itu sudah mengikhlaskan semuanya, tapi jika emosi yang menguasai, maka hati nurani akan tertutupi.


“Sayang, menurutlah. Tunggu aku disana, mama akan menemanimu. Aku tidak akan gegabah, aku janji..” ucap Langit dengan lembut. Namun mata pria itu masih terlihat memerah, Jingga pun dapat merasakan kemarahan suaminya itu.

__ADS_1


“Percaya padaku..” ucap Langit lagi.


Jingga akhirnya mengangguk, ia dan Violet pergi ke ruangan yang Langit tunjuk. Mereka bisa menyaksikan interaksi Langit dan Handoko dari jendela kaca besar ruangan itu, tapi sayangnya mereka tak dapat mendengar apapun karena ruangan itu kedap suara.


__ADS_2