
"Sayang.."
Bulan dan Esta saling menoleh, tatapan penuh tanya mereka layangkan. Siapa yang Angkasa panggil sayang? Begitu kira-kira isi hati mereka.
Dua gadis itu diam, menatap Angkasa yang tampak beranjak menghampiri mereka.
"Aku tunggu kamu dari tadi, kemana aja sih? Aku kangen," kata Angkasa lagi.
Semakin membuat Esta dan Bulan bertanya-tanya. Belum hilang keterkejutan dua gadis itu, keduanya semakin terkejut saat Angkasa tiba-tiba merangkul Esta.
"Eh, loh loh loh?" Esta hendak melepaskan tangan Angkasa dari bahunya, tapi pria itu semakin mengeratkan rangkulannya.
"Diam, kentut!" bisik Angkasa.
Esta membulatkan matanya, apa tadi katanya? Kentut? Julukan macam apa itu? Angkasa menggunakan senjata yang Esta hembuskan siang tadi untuk mengancamnya.
"Ada apa, Bulan?" Tanya Angkasa.
Bulan jadi kikuk tak karuan, ia bingung dengan situasi di depannya. "Jadi kalian pacaran?" Justru pertanyaan itu yang terlontar dari bibirnya. Ia lupa tujuan awalnya menyambangi ruangan pria itu.
"Iya, kenapa? Kita serasi kan? Kamu gak percaya?" Tanya Angkasa, tiba-tiba ia mendekat dan mengecup pipi Esta.
Membuat Esta terkejut bukan main, ia diam membeku, darahnya serasa terhenti begitu saja. Matanya membulat sempurna, perlahan ia menoleh, menatap Angkasa setajam mungkin.
Tapi lihatlah Angkasa, pria itu justru tersenyum tanpa dosa dan mengusap pipinya lalu sedikit mencubitnya.
"Kurang ajar!!" Esta membatin, ingin rasanya ia menonjok hidung mancung Angkasa, agar hidung itu miring atau bahkan penyok sekalian. "Dasar soang! Main sosor aja!"
"Bukannya gak percaya, Sa. Aneh aja, kata Esta, ini hari pertama dia kerja disini, kalian udah kenal sebelumnya apa gimana?" Bulan menatap Esta dan Angkasa bergantian, mencari tahu kejujuran mereka lewat tatapan mata.
Angkasa berdehem, ia tengah mencari jawaban yang tepat. Ia tak pernah berpikir Bulan akan bertanya demikian.
__ADS_1
"Kita udah kenal lama kok, sebelum Esta kerja disini. Iya kan, sayang?" Angkasa mencubit bahu Esta, nyaris saja gadis itu memekik.
"I-iya mbak Bulan. Aku dan pak Angkasa sudah kenal lama," Esta menimpali. Terpaksa ia berbohong, "Soang mata keranjang!"
"Pak?" Ulang Bulan, ini semakin aneh menurutnya. Apa karena di lingkungan kantor, Esta memanggil kekasihnya dengan sebutan PAK?
"Maksud aku, mas." Esta meralat, ia tersenyum pada Bulan, senyuman yang kaku.
"Jadi Bulan, ada apa kamu datang ke ruangan ku?" Tanya Angkasa lagi, tangannya masih bertengger manis di bahu Esta.
"Ini, Sa. Ah maksud aku pak, aku cuma mau menyampaikan keluhan pekerja proyek, mereka mengatakan belum menerima gaji. Apa dari LaGroup memang belum turun?"
Angkasa tampak terkejut, tapi anehnya, tangannya masih erat merangkul bahu Esta, padahal Esta sudah bergerak tak nyaman dan beberapa kali menyingkirkan tangan pria itu.
"Belum menerima gaji? Aku bahkan sudah menurunkan gaji mereka sejak seminggu yang lalu. Ada apa ini?"
"Turunkan dulu tanganmu, Soang!" Bisik Esta, ia sudah tak tahan. Gerah, padahal pendingin di ruangan itu menyala.
"Sa, eh pak. Gimana ini? Aku rasa ada yang gak beres," kata Bulan lagi.
Angkasa manggut-manggut, "Aku rasa juga begitu, kita ke proyek sekarang. Aku hubungi Bintang dulu, dia juga harus ikut karena Om Langit sedang di Surabaya."
"Ok, aku juga harus mengajak mbak Gea, kita ketemu di proyek aja," Bulan hendak pergi, tapi Angkasa menahan lengannya. "Ada apa lagi?"
"Pergi bareng aku aja, kita pergi sama-sama. Gak enak kalau pisah-pisah." Angkasa menatap Bulan penuh permohonan, interaksi sedekat itu memancing jiwa kepo Esta. Esta berasumsi, bahwa di antara Angkasa dan Bulan ada sesuatu.
"Ish, jangan modus! Ada pacarnya juga," ucap Bulan seraya melepas tangan Angkasa dari lengannya.
Angkasa sontak melepaskan tangannya, ia lupa tengah bersandiwara. "Maksud aku bareng Bintang juga, Lan. Kita satu mobil aja, ajak Gea juga."
"Yaudah iya," Bulan lalu pergi kembali ke ruangannya, ia juga harus memberi tahu Gea tentang rencana pergi ke tempat proyek.
__ADS_1
Melihat Bulan pergi, Esta pun hendak pergi. Namun kerah belakangnya Angkasa tahan dan ia sedikit tertarik hingga ia tak bisa berkutik.
"Mau kemana kamu Kentut?" Tanya Angkasa, pria itu menyeringai, lalu memutar tubuh mungil Esta. "Jangan coba-coba kabur!"
"Saya mau kerja pak," kata Esta.
"Urusan kita belum selesai wahai gadis kentut!"
"Esta pak, nama saya Esta!" Gadis itu mendelik, lalu menepis tangan Angkasa dari kerah bajunya.
"Nama saya juga Angkasa, bukan Soang! Sejak kapan mama saya bikin nasi tumpeng untuk mengganti nama saya?"
"Mana saya tahu, pak! Lagian, yang suka main sosor itu kan Soang, sama kaya anda tadi. Main sosor seenaknya, harusnya yang marah itu saya! Saya gak kasih izin bapak buat nyosor! Gak sopan itu namanya!" Esta menirukan gaya bicara Angkasa saat pria itu menggerutu padanya siang tadi.
Angkasa mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan kesal juga tawa bersamaan. "Itu hukuman untuk kamu, karena kamu sudah tidak sopan pada saya!"
"Mana ada hukuman kaya gitu?! Modus, kalau aja anda bukan atasan saya, saya pasti sudah melayangkan sepatu butut saya ini ke wajah anda!"
Alih-alih terfokus pada kekesalan Esta, Angkasa justru menunduk melihat sepatu yang Esta pakai, ternyata memang benar, sepatu yang gadis itu pakai butut. Warna hitamnya sudah memudar, Angkasa tebak usia sepatu itu sudah lapuk. Di tambah lagi sepatu itu sudah tampak sangat tipis, mungkin kaki gadis itu akan terluka jika lama-lama berjalan. Karena sama saja seperti tak memakai alas kaki.
"Emang butut," gumam Angkasa tanpa sadar.
Esta ikut menunduk, ia mundur beberapa langkah saat Angkasa terus memperhatikan sepatunya. Sangat berbeda dengan warna sepatu yang pria itu pakai.
Sepatu yang Angkasa pakai pasti dari brand ternama dengan harga fantastis. Dari warnanya saja sudah terlihat, hitam legam dan mengkilat. Berbeda dengan sepatu usang milik Esta. Hitamnya terlihat belel.
"Saya ada penawaran menarik untuk kamu, kamu bisa membeli sepatu baru kalau kamu menerima tawaran saya. Gajinya dia kali lipat dari gaji kamu sebagai OG. Gimana?"
Mendengar kata gaji, mata Esta hijau. Ia bertanya dengan mata berbinar, "Penawaran apa itu pak?"
"Sini saya bisikin.."
__ADS_1