
Pagi ini, Alex bangun terburu-buru. Pasalnya, ia terlambat bangun karena semalam pulang larut malam. Untungnya pakaiannya sudah rapi, sepertinya Mega menyiapkan pakaiannya saat ia belum bangun. Mungkin Mega tak berani membangunkannya, atau mungkin perempuan itu mulai membatasi diri untuk berinteraksi dengan suaminya?
Bunyi di dalam perutnya membuat pria itu berbelok arah, mampir ke ruang makan untuk sarapan sekejap. Karena meski keadaan rumah tangganya dan Mega tengah tak baik, perempuan itu selalu memasak untuknya walau Alex jarang memakannya.
Tapi sayang, kali ini dapur tampak sepi dan masih sangat rapi. Pandangannya terfokus pada meja makan yang juga bersih, "Kenapa pagi ini dia tidak memasak?" gumamnya. Padahal ia sangat lapar, semalam Alex melewatkan makan malamnya.
Tak ingin membuang-buang waktu, Alex pun memilih pergi saja. Langkahnya terhenti saat pintu apartemen lebih dulu terbuka sebelum ia membukanya, Mega muncul dari balik benda persegi itu.
Perempuan itu membawa satu kantong plastik berwarna putih berlogo sebuah apotek yang buka dua puluh empat jam. Wajahnya pun tampak pucat, jaket tebal membalut tubuhnya.
"Mas, maaf aku tidak sempat memasak. Aku.."
"Aku tidak perduli," potong Alex. "Apapun yang kamu lakukan, aku tidak mau tahu!"
Mega menunduk, menggigit bibir bawahnya menahan tangis. Begitu besar rasa rindunya juga rasa takutnya pada Alex, ia sampai demam tinggi semalamam.
Karena itu pagi-pagi sekali Mega terpaksa keluar untuk membeli obat, ia yakin Alex tak akan mau membelikannya. Lagi pula, setelah melihat kemarahan Alex kemarin, ia tak cukup berani untuk kembali mengusik pria itu.
"Maafkan aku, mas. Jangan marah lagi.." lirih Mega. "Aku sudah memblokir nomor Allo, aku.."
"Apa kamu tuli? Atau kamu bodoh tidak mengerti ucapanku? Aku sudah katakan, aku tidak perduli dan aku tidak mau tahu! Tidak usah menjelaskan apapun padaku! Wanita murahan sepertimu memang tidak akan pernah berubah."
Menyakitkan, kalimat itu begitu menyakitkan. Mega hanya bisa meremas kantong plastik yang masih ia pegang, sebagai pengalihan rasa sakit yang ia rasakan.
Mega akui ia memang salah, tapi ia juga berusaha berubah. Ia berusaha menjadi wanita yang baik juga istri yang baik untuk Alex, tapi ucapan pria itu sungguh menusuk relung hatinya.
"Aku menyerah mas.." lirihnya.
Alex yang baru saja melangkah kembali terdiam, namun ia tak mengatakan apapun atau pun menoleh, pria itu hanya terdiam sejenak kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
Secinta apapun ia pada Alex, segila apapun perasaannya pada pria itu, tapi penghinaan yang ia dapatkan mampu membuatnya menyerah berjuang.
__ADS_1
***
Pagi ini kegaduhan juga terjadi di gedung LaGroup. Pasalnya, di website resmi perusahaan tiba-tiba beredar pengumuman bahwa CEO LaGroup akan mengundurkan diri dari posisinya.
Tentu saja hal itu membuat semua orang terkejut termasuk para petinggi perusahaan. Merek tak tahu masalah apa yang menyebabkan keputusan besar itu di ambil CEO mereka.
Dan hal itu sampai ke telinga Jingga. Jingga yang saat itu tengah duduk di taman belakang rumah terkejut saat Pak Lim memintanya datang ke perusahaan untuk menghentikan keputusan Langit. Karena pak Lim berpikir hanya Jingga lah yang mampu menghentikannya.
"Apa yang dia lakukan pak Lim? Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya," Jingga terus menggerutu, perempuan itu berjalan cepat menuju mobil yang sudah pak Lim siapkan.
Dengan kecepatan sedang pak Lim melajukan mobilnya, meski Jingga memintanya lebih cepat, tapi pak Lim lebih memilih keselamatan sang nyonya.
Sampai di gedung LaGroup, ia di antar pak Lim menuju ke ruangan Langit. Ia tak memperdulikan tatapan dari karyawan yang berpapasan dengannya, tujuannya hanya satu, Langit.
"Nyonya.." sapa Alex seraya membungkuk saat ia bertemu Jingga di depan ruangan Langit.
Jingga hanya mengangguk membalas sapaan pria itu, ia kemudian memasuki ruangan Langit setelah Alex membukakan pintu. Langit tampak tengah bicara dengan pak Gilbert, ternyata pengacara itu juga ada disana, itu artinya keputusan Langit memang tak main-main.
Jingga bahkan tak membalas sapaan pak Gilbert, ia terus menatap Langit dengan tajam.
"Apa maksud kamu mas?" Tanya Jingga tanpa basa basi.
"Duduklah dulu, akan aku jelaskan.." jawab Langit.
Jingga menghela nafas gusar, lalu duduk di sofa di ikuti Langit yang duduk di sebelahnya.
"Jelaskan!" pinta Jingga.
"Aku melakukan semuanya untukmu, karena.."
"Karena semuanya hak ku?" potong Jingga. Langit mengangguk sebagai jawaban. Lagi-lagi Jingga menghela nafas gusar, ia memalingkan wajahnya dari Langit yang tengah menatapnya. "Jangan membuatku semakin marah mas! Sebenarnya apa tujuan kamu melakukan ini? Apa kamu ingin membuat aku terlihat bodoh di hadapan semua orang? Kamu tahu betul aku tidak mengerti bisnis, aku tidak akan bisa menangani semuanya."
__ADS_1
"Tidak begitu, sayang. Aku tidak berfikir seperti itu sedikit pun.." lirih Langit, ia melanggar kesepakatannya dengan Jingga untuk tak lagi memanggil sayang.
"Lalu?"
"Aku hanya ingin menyerahkan perusahaan ini ke tangan yang tepat. Mengenai bisa atau tidaknya, aku yakin kamu bisa. Aku akan mengajari kamu menangani perusahaan sampai kamu bisa, Jingga."
"Apa tujuan kamu yang sebenarnya?"
"Tidak ada, seperti yang tadi aku katakan, aku hanya ingin menyerahkan perusahaan ini pada pemiliknya. Kamu wanita yang kuat Jingga, kamu juga cerdas, aku yakin perusahaan ini akan berjalan lebih baik di tanganmu.."
"Omong kosong! Kamu ingin semua orang menertawakan ku? Aku bahkan tidak melanjutkan kuliahku, bagaimana bisa aku melakukannya?!"
"Aku akan membimbing mu sampai kamu bisa berjalan sendiri. Aku mohon, ini milikmu Jingga, papa akan bahagia kalau kamu yang memegang perusahaan ini. Sudah cukup aku memiliki semuanya, sekarang aku ingin pemilik yang sebenarnya lah yang memegang kendali di perusahaan ini."
Jingga terdiam, ia bingung harus melakukan apa.
"Aku mohon, Jingga.."
"Aku tidak tahu."
"Jangan membuatku semakin merasa bersalah, aku hanya ingin semua yang papa miliki di miliki oleh putrinya. Aku sudah cukup menikmati semuanya, kasih sayang, kebahagiaan, juga materi yang berlimpah. Sedangkan kamu, kamu bahkan harus berjuang untuk bisa sekolah.." jelas Langit. Karena dulu, Banyu memang tak pernah membantu perihal materi pada Hardi.
Bukan tak ingin, tapi semua pergerakan Banyu di awasi oleh mantan istrinya, Violet. Violet selalu memerintah seseorang untuk membuntutinya kemana pun Banyu pergi, termasuk mengawasi kucuran dana yang keluar dari rekening Langit.
Itu semua Violet lakukan agar bisa menemukan putrinya yang di sembunyikan Banyu. Perempuan itu bersekutu dengan seorang mafia, karena itu Banyu tak bisa gegabah dalam bertindak. Salah melangkah sedikit saja, maka semuanya akan fatal.
"Aku mohon, Jingga. Aku hanya takut kamu tidak akan pernah memaafkan ku lagi. Aku ingin kamu sudah mampu berdiri tegak saat kamu tidak membutuhkanku lagi. Itu saja.."
Sejauh itu pemikiran Langit. Jika Jingga tak akan memaafkannya lagi, maka perempuan itu pasti akan menolak apapun darinya, termasuk nafkah yang selama ini masih bisa Langit berikan padanya. Langit ingin Jingga berhasil, ia ingin Jingga bahagia dan bisa menikmati kekayaan yang memang seharusnya dia miliki.
"Aku.."
__ADS_1