
Sejak saling memaafkan dan berdamai dengan masa lalu, kehidupan Jingga dan Langit menjadi lebih bahagia, apalagi Violet tinggal bersama mereka. Violet juga sangat dekat dengan Yaya, ia sangat berterima kasih karena Yaya dan Hardi sudah mengurus dan mendidik Jingga dengan baik. Hingga Jingga tumbuh menjadi perempuan yang luar biasa.
Mungkin Tuhan memang sengaja memisahkannya dan Jingga, karena Tuhan tahu, belum tentu Jingga tumbuh menjadi wanita baik-baik jika hidup bersamanya. Mengingat kehidupannya setelah berpisah dengan Banyu begitu buruk dan sempat terjerumus ke dunia gelap.
Dan Tuhan juga tahu, kapan ia dan Jingga harus kembali bertemu lalu bersama. Semua memang akan indah pada waktunya.
Menginjak usia kehamilan Sembilan bulan, semua orang menjadi ekstra menjaga Jingga. Kehamilan Jingga dan Mega memang sedikit berbeda. Jika Mega begitu kuat saat mengandung, bahkan janin yang Mega kandung tetap hidup meski beberapa kali Mega sempat mencoba menggugurkannya, maka Jingga kebalikannya. Kehamilan Jingga sedikit lemah, bahkan Jingga sempat beberapa kali di rawat karena drop.
Karena alasan itu juga lah Jingga kembali mundur dari LaGroup, ia kembali menyerahkan kursi kepimimpinan pada sang suami. Karena menurutnya, memang Langit lah yang berhak menduduki posisi itu.
Malam ini, semua orang berkumpul di kediaman Langit dan Jingga. Langit mengundang seluruh keluarga untuk makan malam bersama agar Jingga bahagia. Karena siang tadi Jingga mengatakan rindu berkumpul bersama keluarganya.
Ada ayah Hardi, ibu Yaya, Mega, Alex, dan Violet tentunya. Hanya Handoko yang tak ada, pria tua itu tentu masih menjalani masa hukumannya. Beruntung Handoko tak di hukum mati, atas dasar keringanan tuntutan dari Langit dan Jingga, juga prilaku baiknya selama terkurung di sel, Handoko mendapat keringanan hukumam menjadi di penjara seumur hidup.
Langit pun rutin mengunjungi Handoko setiap dua hari dalam satu minggu, hubungan mereka kian baik dan kian dekat. Ternyata memaafkan, mengikhlaskan dan berdamai dengan masa lalu memang indah. Hidup pun terasa tenang, langkah ringan dan kebahagiaan menjadi lebih terasa.
Di meja makan suasana sangat ramai, apalagi dengan kehadiran Angkasa, putra Mega dan Alex yang kini menginjak usia Sebelas bulan. Bayi gembul yang di sukai semua orang itu tengah belajar berjalan dan berceloteh.
Mengenai Alex dan Mega, Alex sudah memberi tahu Mega apa yang ia lakukan pada Allo saat ia berhasil menghapus semua video syur yang menjadi ancaman untuk sang istri. Atas campur tangan Langit, hukuman untuk Allo tak main-main. Selain mendekam di balik jeruji besi, pria itu di depak dari silsilah keluarganya. Kedua orang tua Allo marah besar karena Allo sudah mencoreng nama baik keluarga. Apalagi ketika Langit membuat perusahaan milik Allo dan keluarganya bangkrut, penderitaan pria itu lengkap sudah. Papa Allo tak menyangka Allo berani berurusan dengan Alex yang berarti berurusan dengan Langit juga. Bahkan perusahaannya saja tunduk pada LaGroup, dan dengan bodohnya putranya justru sengaja bermain api dengan orang-orang penting LaGroup.
__ADS_1
Kembali ke kediaman Langit dan Jingga, saat ini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga setelah beberapa menit yang lalu mereka membubarkan diri dari meja makan. Seperti biasa, mereka tengah melihat tingkah menggemaskan Angkasa.
Namun tiba-tiba perhatian semua orang teralihkan saat mendengar Jingga meringis.
“Kenapa sayang?” Tanya Langit yang duduk di sebelah Jingga. “Ada yang sakit?” tanyanya lagi.
Jingga mengangguk, “Perut aku sakit,” jawabnya.
“Ya sudah, aku akan mengantarmu ke kamar mandi. Kamu terlalu banyak makan sambal yah? Sampai perutnya sakit,” Langit sedikit menggerutu. Sejak mengandung, Jingga memang sangat suka makanan pedas. Dengan dalih mengusir mual, perempuan itu kerap memakan makanan pedas bahkan jika Langit melarangnya.
Jingga menggeleng, “Sakitnya sedikit berbeda, melilit..” lirihnya seraya meringis. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang kembali terasa.
“Hah?” Langit justru terbengong dengan bibir sedikit menganga. Ia masih mencerna ucapan dari ayah mertuanya itu.
“Iya, nak. Jangan-jangan Jingga mau melahirkan,” timpal Violet yang di angguki semua orang.
“Benar begitu sayang?” Langit justru balik bertanya pada Jingga. Padahal jika Jingga menjawab, ia mana tahu. Karena ini pengalaman pertamanya.
“Terus aku harus bagaiamana?” Tanya Langit lagi, tiba-tiba ia teringat ucapan dokter kandungan Jingga, dokter itu mengatakan Langit harus terus menemani Jingga untuk memberikan kekuatan pada Jingga di saat perempuan itu hendak melahirkan dan mengejan. “Aku akan membantumu mengejan, ayo sayang mengejan. Heeeuuu..” Langit mengejan kuat, membuat semua orang terbengong dengan kebodohan pria itu.
__ADS_1
“Tidak seperti itu konsepnya, bos..” ucap Alex. Ia bahkan sangat ingin melempar bosnya itu dengan sandal istrinya.
Langit menoleh, menatap Alex dengan tajam, “Diam kamu! Memangnya kamu tahu? Kamu juga sama bodohnya denganku, kamu buang gas saat istrimu mengejan kan? Kamu juga ikut mengejan,” ledek Langit.
Alex membulatkan matanya, lalu menoleh pada Mega yang berpura-pura tak melihatnya. “Sayang, kamu menceritakan kejadian itu pada adik ipar? Apoa jangan-jangan bukan hanya adik ipar saja yang mengetahuinya?”
“Iya, kami juga tahu..” ucap ayah dengan polos.
Alex membuang nafas gusar, “Itu rahasia kita, kenapa kamu menceritakannya?”
“Maaf mas, aku keceplosan. Lagi pula dokter yang lebih dulu membocorkannya pada mereka, aku hanya menambah sedikit saja.” Elak Mega, membuat bahu Alex melorot karena malu.
“Hei, kenapa kalian berdebat, Jingga harus kita bawa ke rumah sakit,” ucap Violet yang pikirannya sedikit sadar dari mereka.
Langit kalang kabut bahkan tubuhnya bergetar saat berdiri, ia mengatur nafasnya agar sedikit tenang. Lalu menggendong Jingga dan membawanya ke rumah sakit. Bersama Violet dan ibu, mereka menaiki satu mobil yang sama.
Sedangkan ayah dan yang lainnya akan menyusul setelah Mega menyiapakan barang-barang Jingga dan calon bayinya nanti.
NB: Akhirnya Langit memutuskan untuk membuka topeng tuanya. Ia memakai wajahnya yang asli setelah melalui berbagai pertimbangan. Tentu hal itu mengejutkan semua orang, pelayan di rumahnya, juga karyawan di kantornya. Karena memang hanya segelintir pelayan saja yang tahu wajah asli Langit, apalagi orang-orang di perusahaan, mereka tidak tahu bahwa Langit masih muda.
__ADS_1
Pertanyaan para karyawan yang beberapa bulan lalu melihat peristiwa antara Langit dan Handoko kini terjawab. Usia mereka memang terlihat sama jika Langit menggunakan topeng tuanya, tapi kali ini wajah muda pria itu menjawab rasa penasaran semua orang atas panggilan Ayah dari Langit untuk Handoko yang usianya tak jauh berbeda.