
Sore ini cuaca sangat cerah, Langit duduk di jok belakang menatap sisian jalan yang di laluinya. Menatap pohon-pohon yang tumbuh di sepanjang sisi jalan yang perlahan menjauh tertinggal di belakang sana. Sama seperti sebuah kenangan, yang sudah terlewat dan hanya akan tertinggal di belakang.
Melihat langit dengan cahaya keemasan membuat ia terkagum, sangat indah. Timbul pernyataan dalam hatinya, cahaya jingga itu memang indah, sama seperti sang istri yang indah dengan segala kesederhaannya.
Sungguh pandai Banyu Biru menyematkan nama untuk putra putrinya. ‘Langit’, ‘Jingga’, yang selalu terkait dengan cahaya ‘Senja’ di ‘Biru-nya’ hamparan langit.
“Tuan, apakah anda ingin membeli sesuatu untuk Nyonya?”
Pertanyaan Alex membuat Langit mengalihkan pandangan dari pemandangan di luar sana, ia tampak berfikir, “Aku bukan pria romantic Alex, aku tidak tahu harus memberikan apa pada istriku,” jawabnya.
Alex terkekeh, ia tahu betul bagaimana tuannya itu, memang kaku dan jauh dari kata romantic, baru setelah ada Jingga lah Langit sedikit mencair dan tak se kaku dulu. “Bagaimana kalau setangkai bunga, Tuan? Setahu ku, seorang wanita pasti menyukai bunga, apalagi jika bunga itu di berikan oleh seseorang yang di cintainya..”
“Benarkah?” Tanya Langit.
“Iya, Tuan. Menurut buku yang pernah saya baca tentang perempuan, biasanya mereka akan menyukai sesuatu yang indah atau lucu, seperti bunga, boneka, coklat atau bahkan bunga bank, Tuan.” Alex terkekeh dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan, karena rata-rata wanita yang dulu berusaha mendekati Langit adalah karena uang, tapi untungnya Langit pria yang sulit di dekati, sulit tersentuh dan dingin. Jika di pikir secara logika, seribu satu wanita yang mau dengan suka rela melempar tubuhnya pada pria tua seperti Langit, jika bukan karena uang. Dan beruntungnya, dari satu di antara seribu itu, nama Jingga tersemat dalam takdir kehidupan Langit.
Jingga mencintai Langit dengan tulus, meski dimata perempuan itu dulu, Langit adalah seorang pria tua yang lebih pantas menjadi ayahnya atau bahkan kakeknya.
“Aku rasa istriku tidak akan menyukai benda-benda seperti itu,” komentar Langit.
“Lalu?” Alex justru balik bertanya.
“Aiih, kamu membuatku pusing saja. aku tidak tahu,” ucap Langit. Ia memijat keningnya, mengingat-ingat apakah yang Jingga sukai.
__ADS_1
“Atau, makanan yang di sukai nyonya saja Tuan,” usul Alex lagi.
“Kamu benar, tapi apa?” di saat itulah ia baru menyadari satu hal, ternyata ia belum mengenal istrinya dengan baik. Sedangkan Jingga, perempuan itu nyaris tahu semua tentang dirinya. Dari hal kecil seperti makanan yang di sukai Jingga saja, Langit tak tahu. Pria itu merasa menjadi suami yang buruk. “Aku mengaku mencintainya, tapi bodohnya, aku bahkan tidak tahu apa yang dia sukai dan yang tidak dia sukai. Aku suami yang buruk, Alex..” lirihnya.
“Tuan, jangan bicara seperti itu. Anda adalah suami yang terbaik menurut nyonya. Maafkan saya, karena saya anda jadi menyadari kalau anda adalah suami yang buruk,” ucap Alex dengan penuh penyesalan. Ia tak menyadari ucapannya, sampai Langit menjewer telinganya dari belakang, Alex baru menyadarinya.
“Aduh aduh aduh, sakit Tuan. Saya sedang menyetir, maafkan saya. Saya salah bicara,” cap Alex.
“Jadi aku memang suami yang buruk? Gaji kamu aku potong 10%.”
“Loh loh loh, bukan salah saya Tuan. Saya minta maaf..”
“Kalau kamu tidak salah, kenapa kamu meminta maaf, hah?” Sengit Langit.
Alex menelan ludahnya dengan susah payah, ia berusaha menutup bibirnya rapat-rapat agar tak menyahut lagi, bisa berabe jika gajinya benar-benar di potong. Alex lupa rumusnya, Bos selalu benar, jika bos salah, maka anggaplah bos benar.
Bak membawa sebutir telur yang takut pecah, Langit sangat menjaga bunga mawar itu agar tidak rusak. Ia bahkan terus menyimpan bunga itu di pangkuannya, ia tak membiarkan bunga itu tergeletak sendirian di jok mobil. Langit mulai mengkhayal, membayangkan Jingga akan terharu dan memeluknya dengan erat saat menerima hadiah manis ini. Benar yang Alex katakan, bunga ini memang sangat indah dan manis.
Sampai di rumah pun, Langit sangat berhati-hati membawa bunga mawar itu. Pria itu bahkan melangkah sangat pelan dengan tatapan tak beralih dari bunga tersebut. Maklum saja, ini pertama kalinya dalam hidup ia memberikan hadiah pada seseorang. Apalagi seseorang itu adalah seseorang yang sangat istimewa untuknya, perempuan yang sangat ia cintai.
“Mas, apa kamu sedang sakit perut? Kenapa langkahmu sangat pelan?” Jingga yang justru muncul di belakang Langit membuat pria itu terkejut dan nyaris saja menjatuhkan bunga itu. Untung saja Alex sigap berlari dan menangkap bunga itu hingga tak berhasil menyentuh lantai.
“Sayang, kamu mengejutkanku,’ ucap Langit. Ia kembali mengambil bunga mawar dari tangan Alex, kemudian ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Membuat Jingga mengerutkan dahinya dan semakin mendekat padanya.
__ADS_1
“Ada apa mas?” Tanya Jingga, teringat sikap aneh Langit tadi malam, Jingga berhenti mendekat. Ia menatap Langit lalu menunduk, “Maafkan aku mas, mungkin aku mempunyai salah padamu, tadi malam kamu bersikap aneh, jika aku mempunyai kesalahan, maafkan aku. Jangan mendiamkanku,” ucapnya dengan suara semakin pelan.
Jika sudah seperti ini, Alex pun mundur alon-alon, membuat pak Lim dan Bu Rika yang baru saja hendak menghampiri tuannya melakukan hal yang sama.
Langit menghela nafas panjang, ia mendekat pada sang istri, mengangkat dagu perempuan itu dengan sebelah tangannya. Sementara sebelah tangannya yang lain masih sibuk menyembunyikan setangkai bunga mawar yang akan ia berikan pada Jingga sebagai permintaan maafnya. “Ini untukmu. Sebagai permintaan maafku karena sikapku tadi malam,” ucapnya dengan lembut saat ia sudah berhadapan dengan Jingga. Ia memberikan bunga mawar merah itu pada istrinya, membuat Jingga tersenyum lebar dan menerima bunga tersebut.
“Haccciiih,” Jingga justru bersin.
Membuat Langit panik dan bertanya, “Kamu tidak apa-apa? Apa kamu tidak menyukai bunganya?”
“Aku menyukainya, mas. Aku bahkan sangat menyukainya, tapi tidak tahu kenapa hidungku gatal. Wangi bunga ini membuat aku bersin, padahal aku tidak pernah sensitive seperti ini sebelumnya.”
Langit mengerutkan dahinya, ia lalu mencium wangi bunga tersebut, wanginya harum, tidak ada wangi yang aneh. “Tapi ini memang wangi khas bunga mawar sayang, tidak ada yang aneh. Aku juga meminta pelayan toko bunga itu untuk tidak menambahkan wangi apapun. Karena aku mau bunga ini mengeluarkan wangi khas yang alami,” jelas Langit.
Jingga tersenyum kikuk, “Benarkah?” ucapnya, ia lalu kembali mencium bunga tersebut, “Haciiih haciiih..”
“Buang saja bunganya, sayang.” Langit hendak kembali mengambil bunga tersebut, khayalannya tentang Jingga yang terharu dan memeluknya karena hadiah bunga itu ambyar sudah. Ternyata Jingga justru terlihat alergi dan bersin-bersin.
Padahal memang sebelumnya Jingga tak pernah seperti itu. Ia tak mempunyai riwayat sensitive atau alergi terhadap wewangian apapun.
“Jangan, mas. Aku menyukai bunga ini, terima kasih. Aku bahkan akan sangat bahagia jika kamu membawakan aku banyak bunga mawar. Sayangnya, ini hanya setangai saja,” ucap Jingga. Ia mengatakan itu agar Langit tak bersedih atau berkecil hati.
“Benarkah?” Tanya Langit antusias.
__ADS_1
Jingga mengangguk beberapa kali seraya tersenyum kikuk. Ia lalu bertanya saat Langit tiba-tiba pergi, “Mau kemana mas?”
“Tunggulah sebentar, aku akan menemui Alex.” Setelah mengatakan kalimat itu, Jingga tak bertanya lagi. Ia memutuskan untuk naik ke kamarnya. Menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya juga beristirahat disana. Entah mengapa tubuhnya begitu lemas, padahal ia sudah tidur siang tadi, tapi tubuhnya justru semakin lemas meski sakit dan pusing di kepalanya sudah mereda. Karena itu ia berjalan-jalan sebentar di taman di halaman rumah, ia ingin menghirup udara sore. Dan kembali memasuki rumah saat ia melihat mobil Langit datang.