MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
PERTEMUAN


__ADS_3

"Lihatlah, mereka tertawa bahagia. Sedangkan kamu disini hanya bisa bersembunyi mencari putrimu," bisik Handoko.


Ia meminta Violet bersembunyi agar Banyu tak melihatnya. Sedangkan dirinya sesekali menemui Violet di persembunyiannya, sesekali juga bergabung bersama Banyu dan Senja juga Langit.


Memang acara kecil-kecilan dan hanya ada keluarga inti saja juga beberapa pelayan yang Banyu ikut sertakan.


Emosi Senja tersulut saat ia melihat betapa mesranya Banyu dan Senja. Banyu memperlakukan senja bak seorang ratu, entah mengapa Violet tak rela. Apalagi mereka terlihat bahagia dengan keluarga sempurna dan utuh.


"Jika kamu mau melakukan sesuatu, aku akan mengajarimu," bisik Handoko lagi.


Violet menoleh, menatap Handoko penuh tanya, "Apa maksudmu?"


Handoko menyeringai, ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Benda yang membuat Violet terkejut.


"Bidik lah ke sembarang arah, hanya untuk memberi mereka kejutan." Ucap Handoko lagi, ia mengedarkan pandangannya, ada CCTV di setiap penjuru ruangan. Pria itu lalu menghubungi seseorang untuk memanipulasi CCTV tersebut.


"Ambil lah, kesempatan bagus untuk memberi mereka pelajaran. Pria brengsek seperti Banyu memang harus di beri efek kejut. Cepat lah.." desak Handoko.


Di kabuti dengan kekalutan, di penuhi dengan dendam, amarah dan kekecewaan juga rasa cemburu yang membara, Violet mengambil benda tersebut dengan tangan bergetar.


Senjata api berbentuk mungil itu nyaris Violet jatuhkan, namun Handoko sigap menahan tangannya lalu mengarahkan tangan perempuan itu ke arah Banyu dan Senja. Handoko sengaja mencari kesempatan saat Langit tak bersama mereka.


"Telan pelatuknya, Violet.." bisik Handoko.


"Tidak, ini salah." Awalnya Violet menolak, perempuan itu hendak kembali memberikan senjata api tersebut, namun Handoko tiba-tiba justru mengarahkan benda itu ke arah Banyu.

__ADS_1


Violet yang terkejut tanpa sengaja menekan pelatuk benda itu dua kali berturut-turut, matanya terpejam seiring dengan terdengarnya bunyi keras dari benda itu.


Suasana menjadi kacau, ia melempar benda itu lalu berlari keluar dari villa tersebut. Sejak saat itu Violet bersembunyi, atas pertolongan dari kekasihnya, ia berhasil menyembunyikan identitasnya. Atas bantuan kekasihnya pula lah kasus itu tenggelam begitu saja.


Sedangkan Handoko, pria itu segera meminta anak buahnya untuk mengamankan rekaman CCTV sebelum rekaman itu jatuh ke tangan orang-orangnya Banyu. Ia harus memastikan bahwa dirinya tak terlihat dalam rekaman CCTV itu.


Teriakan beberapa orang yang melihat Banyu dan Senja terkapar bersimbah darah tak Handoko hiraukan, ia justru sibuk mencari Langit dan akan membawanya pergi. Tapi Langit tak terlihat sama sekali.


Sejak saat itu juga lah ia kehilangan jejak putranya.


FLASHBACK END


Jingga melangkahkan kakinya dengan cepat, ia dan Langit akan menghadiri pertemuan penting di salah satu hotel yang tak jauh dari LaGroup, tapi ia meninggalkan ponselnya. Karena itu ia hendak kembali ke ruangannya.


"Putriku.." lirih Violet.


Jingga mundur, ia menghindari Violet yang hendak menyentuhnya. Ia ingin pergi, sayangnya lift sudah tertutup dan mulai berjalan.


"Ini mama, sayang.." lirih Violet lagi.


Jingga menggeleng, "Tidak, aku hanya punya satu ibu, ibuku Yaya. Tolong jangan mengganggu ku, aku tidak mengenalmu.."


Jingga berusaha menahan tangis, bohong jika ia kuat. Yang menjadi penyesalannya adalah, mengapa Violet begitu jahat dan tega menghabisi Banyu dan Senja. Jika saja bukan Violet yang membunuh mereka, mungkin Jingga masih bisa menerima Violet. Tapi perempuan itu adalah penyebab hancurnya hidup Langit dan keluarganya.


"Sayang, aku ibumu. Aku mencari mu bertahun-tahun, aku merindukanmu.."

__ADS_1


Jingga kembali menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak punya ibu yang lain selain ibu Yaya.."


"Nak.."


"Kenapa kamu datang dan menggangguku? Apa kamu belum puas menghancurkan hidup orang lain? Jika aku boleh memilih, aku tidak mau terlahir dari rahim perempuan jahat sepertimu! Jangan mengganggu ku lagi, pergi lah.." Jingga menghapus air matanya dengan asal, sekuat apapun ia berusaha untuk menahan tangis, nyatanya matanya tetap saja perih dan air kesedihan itu membanjir.


"Maafkan mama, nak. Tolong dengarkan dulu penjelasan mama. Sungguh, mama tidak berniat sedikitpun menyakiti orang lain, semua itu terjadi karena.."


"Aku mohon jangan bicara lagi," potong Jingga. Ia meremas dadanya yang terasa sesak, ia membutuhkan pelukan Langit untuk menguatkannya.


Violet menunduk sedih, ia menyesal. Tapi apa gunanya? Nasi sudah menjadi bubur, ia tahu Jingga tak akan mudah memaafkannya. Apalagi Jingga sangat mencintai Langit, tentu akan semakin sulit untuknya mendapatkan maaf dari putrinya itu.


Andai waktu bisa terulang, Violet tak akan pernah mengkhianati Banyu dan menghancurkan keluarganya sendiri. Mungkin sampai saat ini, ia akan hidup bahagia bersama Banyu dan Jingga.


"Maafkan mama, nak.." lirih Violet seraya terisak. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu hanya bisa diam melihat Jingga semakin terisak, padahal ia sangat ingin memeluk putrinya itu.


Violet mendekat saat melihat Jingga memegang kepalanya, "Nak, kamu baik-baik saja? Jangan membuat mama takut, sayang.."


Jingga menggelengkan kepalanya, ia mengerjap beberapa kali untuk mengusir rasa pusing yang tiba-tiba datang. Dan rasa pusing itu membuatnya limbung tak bisa menyeimbangkan diri. Semakin lama rasa pusing itu semakin terasa, pandangannya mulai kabur, namun ia masih tetap berusaha berdiri meski tubuhnya sudah tampak lemas.


"Jingga, sayang kamu kenapa nak?"


BRUK


Jingga terjatuh tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2