
Jingga tengah menyuapi Langit saat pintu ruangan terbuka, pak Lim muncul setelahnya. Ada beberapa paper bag yang pria itu bawa. Pak Lim tersenyum saat melihat Langit tersenyum, ia berpikir hubungan Tuan dan Nyonyanya sudah membaik.
"Nyonya, ini pakaian ganti untuk anda. Bu Rika yang mengambilkannya dari kamar anda. Dan ini, ini makanan yang Bu Rika masak khusus untuk anda nyonya, beliau menitipkan salam rindu untuk anda," jelas Pak Lim.
Jingga menyimpan piring di atas meja, lalu mengambil beberapa paperbag yang pak Lim bawa. "Terima kasih pak Lim," ucapnya. Ia lalu menyimpan paperbag lainnya di atas meja sofa, dan membawa satu paperbag berisi pakaian ke dalam kamar mandi.
"Tuan, saya senang melihat anda dan nyonya.."
"Tidak sebaik yang kamu lihat pak Lim," potong Langit. "Ini justru awal perjuanganku," ucapnya lagi.
Pak Lim terdiam, meski ia tak tahu apa yang terjadi, juga tak mengerti dengan ucapan Langit, ia memilih diam. Bukan ranahnya terlalu dalam ikut campur ke dalam urusan rumah tangga sang tuan.
Memang terasa aneh, suami istri tapi bersikap asing. Permintaan yang sangat berat untuk Langit terima. Tapi ia terima, ia anggap ini hukuman untuknya. Langit juga akan menggunakan kesempatan itu untuk membuat Jingga kembali memaafkannya. Hitung-hitung memperbaiki diri, memperbaiki hubungan dan memperbaiki cara mereka menumbuhkan cinta dari awal.
Pernikahan mereka terjadi karena suatu hal, dan kali ini, Langit akan membuat pernikahan mereka terjadi karena cinta.
"Pak Lim, siapkan kamarku. Aku mau semuanya sudah siap saat aku pulang nanti. Jingga akan ikut pulang," ucap Langit.
Pak Lim mengangguk, bibirnya kembali mengukir senyuman, "Baik Tuan, sesuai keinginan anda. Saya permisi," pamit pak Lim. Ia membungkuk memberi hormat lalu pergi untuk melaksanakan perintah tuannya.
Beberapa saat setelah Pak Lim keluar, Jingga pun keluar dari kamar mandi. Perempuan itu tampak begitu cantik meski wajahnya polos tanpa polesan make up sedikitpun. Kulit putihnya begitu bersinar, bibirnya merekah seperti buah delima, hidung yang mancung, alis yang membentuk dan tebal, juga mata yang tampak bening menjadikan perempuan itu begitu sempurna.
Walaupun tubuhnya terlihat kurus dari sebelumnya, hal itu justru membuat Jingga tampak lebih muda.
Langit di buat terpaku, menatap Jingga tak berkedip. Entah mengapa, sejak Jingga bicara akan pulang ke rumah mereka, tubuhnya terasa lebih ringan. Panasnya berangsur turun. Hanya saja kepalanya masih terasa berat.
"Kamu cantik," komentar Langit.
Jingga menghentikan langkahnya, untuk sesaat ia tersanjung. Namun perempuan itu bisa menguasai dirinya, Jingga kembali bersikap dingin.
__ADS_1
"Mau aku suapi lagi?" tanya Jingga mengalihkan perhatian Langit. Di tatap sedemikian rupa oleh pria itu, nyatanya masih membuat jantungnya berdetak tak karuan.
Langit menggeleng, "Sudah cukup, duduklah.." pintanya seraya menepuk sisi ranjang di sebelahnya.
Jingga enggan, tapi ia sudah sepakat dengan pria itu untuk bersikap seperti dulu sebelum kesepakan mereka berjalan. Akhirnya ia menurut, duduk menghadap Langit di sisi ranjang. "Ada apa?" tanyanya.
"Aku sudah meminta pak Lim untuk menyiapkan kamar kita sebelum kita pulang," ujar Langit.
"Mas, kamu tidak melupakan kesepakatan kita kan? Kita akan tidur di kamar terpisah," jelas Jingga.
Sejenak Langit terdiam, ia melupakan poin itu atau ia berharap Jingga melupakan syarat itu. Ia mencoba tersenyum, "Iya, aku ingat. Kamar itu untukmu," ungkapnya.
"Tidak, aku tidak mau tidur di kamar itu. Aku akan tidur di kamar yang lain," jawab Jingga.
Langit menelan ludahnya dengan susah payah, "Kenapa, sayang?"
"Jangan bertanya mas, mungkin kamu sendiri juga tahu jawabannya.."
"Kamu mau sesuatu?" Tanya Jingga.
"Apel," jawab Langit.
Jingga mengangguk, ia mengambil buah apel dari atas nakas lalu mengupasnya. Ia potong menjadi bagian-bagian kecil agar Langit dapat langsung menyantapnya.
Setiap pergerakan yang Jingga lakukan tak luput dari pandangan Langit, pria itu terus menatap istrinya tanpa berkedip, seolah tak ingin kehilangan kesempatan memandang istrinya walau sedetik pun.
"Jangan menatapku terus, mas!" ucap Jingga.
Langit terkekeh, ternyata perempuan itu menyadarinya. "Aku hanya ingin puas menatapmu, tidak bolehkah?"
__ADS_1
"Terserah kamu," jawab Jingga.
Selesai memotong-motong buah apel, Jingga kembali duduk di sisi ranjang. Ia menyuapi Langit meski raut wajahnya tampak dingin.
"Apa aku harus lebih lama sakit?" ucap Langit.
Jingga yang hendak kembali menyuapi Langit menghentikan pergerakan tangannya, ia terdiam sesaat lalu bertanya, "Kenapa bertanya seperti itu?"
"Saat aku sakit, kamu mau ada di dekatku. Jika seperti itu, aku rela selamanya sakit. Aku rela melakukan apapun agar kamu tetap ada di dekatku." Jelas Langit, ia meraih tangan Jingga, membuat perempuan itu melepaskan garpu yang tengah ia pegang.
Mereka saling menatap dalam diam, jika dapat terlihat, mungkin begitu banyak untaian kata cinta yang keluar dari kedua mata mereka. Namun cinta itu terhalang rasa kecewa yang Jingga rasakan saat ini.
Perlahan Langit menarik Jingga, membuat perempuan itu lebih mendekat padanya. Tak ada pengolahan dari Jingga membuat Langit semakin mendekat, terus mendekat hingga hidung mancung mereka saling beradu.
Jingga menunduk, ia tahu apa yang di inginkan suaminya. Batinnya berperang, antara ingin menolak namun ia sudah berjanji untuk bersikap seperti dulu, seperti saat hubungan mereka sebagai suami istri baik-baik saja.
Langit mengangkat dagu istrinya, membuat perempuan itu kembali bersitatap dengannya dari jarak yang begitu dekat, sangat dekat.
"Aku merindukanmu," lirih Langit. Langit tak butuh jawaban dari Jingga, karena meski perempuan itu merasakan rasa rindu yang sama, tentu Jingga tak akan mau mengatakannya.
"Mas.." ucap Jingga. Ia sedikit menjauh, memberi jarak pandang di antara mereka. "Aku.."
"Tidak apa-apa, Jingga. Aku mengerti," potong Langit. Ia tersenyum meski senyumannya tampak di paksakan. "Jika hanya memeluk, apakah boleh?"
Jingga terdiam sejenak, kemudian mengangguk. Ia pasrah saat Langit memeluknya. Ada kehangatan yang ia rindukan, ada detak jantung yang kembali ia dengar setelah sekian lama tak dapat mendengar irama detak jantung pria itu.
Saat ia masih mengandung, ia sangat merindukan kehangatan ini, dekapan ini dan sikap manis pria itu. Sayangnya, sampai bayinya tiada, ia dan sang bayi tak dapat merasakannya.
Tanpa dapat Jingga tahan, air matanya meluruh begitu saja. mengingat putranya selalu membuatnya rapuh dan lemah.
__ADS_1
"Jangan menangis," bisik Langit. Namun ucapan pria itu justru semakin membuatnya terisak. Andai saja pelukan ini dapat di rasakan putranya juga, mungkin saat ini ia akan sangat bahagia. Sayangnya, takdir memisahkan mereka bahkan saat mereka belum sempat saling mendekap dan mencurahkan kasih sayang pada putranya.