MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
UNTUNG GAK KERACUNAN!


__ADS_3

"Kamu masih disini?" Tanya Angkasa, setelah puas merenungi nasibnya, Angkasa hendak kembali ke ruangannya, tapi ia mendapati Esta duduk di lantai di dekat pintu masuk ke roof top.


Esta nyengir, ia lalu berdiri, "Iya pak, saya, emm, saya cuma berjaga-jaga," cicitnya dengan pelan.


"Jaga-jaga? Jaga-jaga dari apa?"


"Saya takut bapak bunuh diri karena patah hati," cicit Esta lagi. Ia menunduk, bersiap barang kali raja Soang ini kembali menyemprotnya.


"Astaga Esta, kamu pikir saya selemah itu? Saya emang patah hati, tapi saya gak bodoh! Mau gaji kamu saya potong? Bukannya kerja malah duduk disini!" Angkasa mengomel, ia berkacak pinggang menatap Esta dengan tatapan menyeramkan.


"Maaf pak, jangan potong gaji saya. Emmm, anggap saja ini sebagai bentuk perhatian saya sebagai pacar pura-pura bapak, saya cuma cemas, itu aja pak."


Angkasa memalingkan wajahnya, hembusan nafas panjang ia keluarkan dari mulutnya. "Sudahlah, kembali bekerja, kali ini saya maafkan," ucapnya.


Esta bernafas lega, ia mengangguk lalu pamit untuk bekerja. Tapi baru beberapa langkah, Angkasa kembali memanggilnya, Esta pun berbalik dan kembali menghampiri pria itu.


"Iya pak?"


Angkasa menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Tidak jadi, kerja sana. Nanti saya kabari lagi."


Esta menahan kesal, bos memang bisa melakukan apa saja, termasuk meminta Esta pergi lalu kembali memanggilnya, kemudian kembali memintanya pergi. "Si Soang ini!!"


"Jangan mengomel! Apalagi bilang saya soang!"

__ADS_1


Esta membulatkan matanya, kemudian pergi secepat mungkin. Dari mana pria itu tahu isi hatinya? Seperti dukun, begitu pikirnya.


***


Esta berjongkok di sebelah mobil Angkasa, beberapa menit yang lalu pria itu memintanya untuk segera ke parkiran. Tapi sudah lima belas menit menunggu, pria itu tak juga menampakkan batang hidungnya.


"Kok lama sih? Kebelet lagi," gumamnya. Esta memutuskan untuk pergi ke toilet sebelum pria itu datang. Tapi sayang, Angkasa sudah muncul. Pria itu tak sendiri, ada Bulan yang berjalan bersamanya. "Pantesan lama, ternyata sama mbak Bulan," gumamnya lagi. Entah mengapa ia tak nyaman melihat kedekatan Angkasa dan Bulan, seperti ia benar-benar berstatus sebagai kekasihnya Angkasa.


Namun meski begitu, Esta tersenyum ketika Bulan menyapanya. "Mbak Bulan," Sapa Esta balik.


"Aku nganter pacar aku pulang ya, Lan. Kamu hati-hati," kata Angkasa seraya merangkul bahu Esta yang jauh lebih pendek darinya.


Bulan mengangguk, "Hati-hati juga," Bulan lalu menatap Esta, "Aku pulang duluan ya Esta, kalian hati-hati."


"Ayo pulang," ucap Angkasa.


Esta yang masih sibuk menatap Bulan sedikit terkejut, ia lalu mengangguk. Saat Angkasa membukakan pintu untuknya, Esta di buat meleleh. Memang hal kecil, tapi sangat manis. Baru kali ini ada yang memperlakukannya se-special itu.


"Pakai set belt-nya" ucap Angkasa sesaat setelah ia duduk di balik kemudi.


Esta mengangguk, ia menarik sabuk pengaman di sampingnya, kemudian mengedarkan pandangan mencari-cari kemana ia harus mengaitkan sabuk pengaman itu.


"Bisa?" Tanya Angkasa lagi.

__ADS_1


Esta nyengir lalu menggeleng. Boro-boro tahu tentang set belt, naik mobil super mewah saja baru sekarang. Jika naik angkot, mana pernah ia menggunakan sabuk pengaman. Esta hanya tahu namanya tanpa tahu cara menggunakannya.


"Kenapa gak bilang?"


Suara lembut Angkasa saat bertanya membuat Esta terpaku. Ia bahkan merinding, baru kali ini ada yang bicara selembut itu padanya. Gadis itu kembali tersadar saat Angkasa mendekat dan memasangkannya set belt.


Esta bergerak mundur, jarak Angkasa yang sangat dekat membuat jantungnya berdetak kencang. Ia bahkan dapat mencium aroma harum dari leher dan rambut pria itu.


"Kenapa merem?" Tanya Angkasa tanpa merubah posisinya.


Esta sontak membuka mata, ia juga tak sadar sejak kapan ia menutup mata. "A-aku, aku ngantuk kayanya."


Angkasa mengerutkan dahinya, "Ngantuk?"


"Iya, kayanya gitu.."


"Dasar aneh, kamu tuh ajaib yah, bisa tiba-tiba ngantuk bisa tiba-tiba kentut."


Esta mencebik, di ingatkan lagi tentang kentut, ia jadi malu. "Jangan bahas itu lagi pak, saya mual inget sama baunya!"


Sesaat Angkasa mengerjap, kemudian tertawa terbahak-bahak. "Kamu sendiri mual kan? Apalagi saya! Masih untung gak keracunan Ngik kamu itu!"


Esta semakin malu, ia juga heran, bunyinya sedikit tapi kenapa baunya menyengat dan awet?

__ADS_1


__ADS_2