MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
TERKEJUT


__ADS_3

"Mbak tidak apa-apa?" Tanya Jingga saat Mega keluar dari kamar mandi. Wajah gadis itu tampak pucat, Mega menggeleng.


"Nak, lebih baik kamu ke dokter saja. Ibu kok jadi cemas yah? Sudah cukup lama kamu muntah-muntah gini, ibu takut kamu kenapa-kenapa," timpal ibu.


Mega kembali menggeleng, "Aku tidak apa-apa Bu," jawabnya dengan lemas.


"Kalau kamu tidak apa-apa, tidak mungkin kamu muntah-muntah," Alex yang sedari tadi memperhatikan ikut berpendapat. Ia juga sangat penasaran, ingin memastikan apa yang ia duga tak benar adanya.


Mega menatap Alex dengan tatapan dingin, perempuan itu tak menjawab, bahkan pergi begitu saja. Tapi baru saja beberapa langkah, tubuhnya tiba-tiba limbung lalu jatuh tak sadarkan diri.


"Mega.." pekik ibu.


"Mbak.."


Suara ibu dan Jingga membuat Langit dan ayah terkejut. Mereka menoleh, lebih terkejut lagi saat melihat Mega tergeletak di lantai.


"Mega?" pekik ayah, ia beranjak menghampiri Mega di ikuti Langit.

__ADS_1


Dengan cepat Alex menolong, ia menggendong Mega dan membaringkan gadis itu di sofa ruang keluarga. Semua orang mengikutinya, mereka semua tampak panik.


"Alex, panggilkan dokter Wika," pinta Langit.


Alex mengangguk, ia merogoh ponselnya dari saku celana lalu menghubungi dokter pribadi Langit agar segera datang untuk memeriksa Mega.


"Mbak Mega sebenarnya kenapa, Bu? Akhir-akhir ini aku juga lihat dia tidak makan dengan benar. Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Jingga, ia duduk di sisi sofa, menatap ibu yang berjongkok tepat di sebelah kepala Mega. Ayah dan Langit berdiri di belakangnya.


Ibu menggeleng, "Ibu juga tidak tahu, nak. Mbakmu tidak pernah mau minum obat atau ibu bawa ke dokter," lirih ibu. Karena kenyataanya memang seperti itu. Beberapa kali ibu membelikan Mega obat dari apotik, tapi putrinya itu tak pernah meminumnya. Ibu tahu karena ia memastikannya sendiri, obat darinya masih tersegel rapi.


Ibu berusaha menyadarkan Mega dengan menggosok telapak kaki Mega menggunakan minyak telon yang di berikan Bu Rika padanya. Tapi gadis itu masih belum sadarkan diri sampai akhirnya dokter Wika tiba.


Semua orang sedikit menjauh, memberi jarak dan ruang agar dokter bisa lebih leluasa juga nyaman ketika memeriksa keadaan Mega.


Dokter Wika tampak sangat serius, kedua alisnya bahkan saling bertaut ketika perempuan paruh baya itu memeriksa bagian perut Mega kemudian memeriksa pergelangan tangannya. Tahap demi tahap dokter Wika lakukan sebagai bentuk pemeriksaan pada pasiennya. Ia menatap Langit yang saat itu berdiri tepat di hadapannya dengan jarak sekitar beberapa langkah saja.


Langit balas menatap, tatapan tanya karena melihat raut wajah perempuan itu tampak begitu serius.

__ADS_1


"Dimana suaminya?"


Pertanyaan yang membuat semua orang terkejut. Mereka saling menatap penuh tanya, pertanyaan macam apa yang dokter Wika lontarkan? Mungkin begitu pikir mereka.


"Apa maksud dokter?" Tanya ibu dengan bibir bergetar. Sebenarnya, ibu sudah merasa curiga. Tapi ketika kecurigaan itu muncul, dengan segera ia menepisnya. Tak mungkin Mega merendahkan dirinya sendiri.


"Sepertinya putri ibu mengandung. Tapi kita harus melakukan beberapa tes untuk supaya lebih meyakinkan, dan sebaiknya segera periksakan kehamilannya, gejala mual dan muntah memang wajar untuk ibu hamil di trimester awal, tapi ibu hamil tentu harus mempunyai nutrisi yang tepat untuk pertumbuhan janinnya dan kekuatan fisiknya sendiri." Jelas dokter Wika, membuat semua orang yang berada disana terkejut bukan main. "Apa suaminya ada disini Bu?" tanya dokter lagi, "Suaminya harus tahu keadaan ibu dan janinnya."


"Dokter.." Suara ibu tercekat, ia tak mampu berkata apa-apa lagi selain menangis. Rasanya sesak, tak percaya juga tak menyangka.


"Dok, kami akan membawanya ke dokter obgyn nanti. Terima kasih sudah datang," ucap Langit. Ia tahu semua orang pasti terguncang, ayah bahkan duduk lemas menjatuhkan tubuhnya ke sofa di belakangnya. Tatapan pria paruh baya itu tampak kosong, ayah pasti kecewa.


Dokter Wika mengangguk, "Baiklah tuan, saya akan memberikannya vitamin sebelum nyonya Mega di periksa ke dokter obgyn."


Langit mengangguk, suasana hening beberapa saat, sampai Langit meminta Alex yang tampak linglung mengantarkan dokter ke depan. Ia lalu meminta Bu Rika membeli vitamin yang dokter Wika resepkan di apotik yang tak jauh dari komplek perumahan elit itu.


Langit tahu Alex pasti sangat terkejut, ternyata malam itu memang terjadi sesuatu di antara Mega dan Alex.

__ADS_1


__ADS_2