
Waktu terus berlalu, detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Dua bulan sudah sejak kepergian Mega, Alex tak pernah putus asa mencari perempuan itu. Meski di selingi dengan bekerja, tapi ia tak pernah lelah atau menyerah.
Tekadnya untuk menemukan Mega dan membawa Mega pulang semakin bulat ketika ia mengingat bahwa bulan ini adalah bulan ke Sembilan kehamilan Mega. Perempuan itu pasti kesulitan, apalagi Mega tak membawa cukup banyak uang untuk biaya melahirkan dan keperluan setelah melahirkan nanti. Mengingat hal itu, Alex semakin di dera rasa bersalah, rasa cemas juga sedih.
Beberapa orang ia kerahkan untuk mencari Mega, di bantu Langit akhirnya ia menemukan petunjuk bahwa Mega sempat menaiki angkutan umum menuju ke daerah bogor.
Jingga pun sudah tahu tentang kepergian Mega satu minggu setelah sang kakak pergi. Alex memang tak mungkin menyembunyikan hal itu lebih lama lagi. Keluarga Mega harus tahu tentang keadaannya dan Mega.
Alex masih ingat betul kemarahan dari ayah mertuanya, ia bahkan di hadiahi banyak bogem mentah. Tapi ia tak melawan, ia anggap itu sebagai hukuman untuknya. Belum lagi tamparan dari Jingga dan ibu, rasa perihnya sampai sekarang masih ia ingat. Bukan perih karena tamparan itu, melainkan karena tatapan kekecewaan dari mereka. Juga permintaan mereka tentang perceraiannya dan Mega.
Tentu saja Alex menolak, ia tak mau berpisah dengan istrinya, ia mencintai Mega, sedikit pun tak terbersit dalam pikirannya untuk melepaskan perempuan itu melalui jalur perpisahan.
Sedangkan Mega, perempuan itu bekerja di warung nasi Bu War juga tinggal disana bersama perempuan tua itu. Beruntung Bu War sangat baik dan mengerti dengan kondisi kehamilannya. Mega juga sudah menceritakan kisah hidupnya pada perempuan tua itu. Tak menghakimi, Bu War justru menguatkan Mega dan selalu memberikan dukungan moril maupun materil yang Mega butuhkan selama kehamilannya itu.
Seperti pagi ini, Bu War sengaja menutup warungnya untuk menemani Mega memeriksakan kehamilan di bidan setempat. Meski tak pergi ke dokter, tapi pelayanan bidan di daerahnya sangat baik. Mega merasa nyaman, ia mempercayakan kehamilan dan kelahiran bayinya pada bidan tersebut. Apalagi HPL kelahiran calon anaknya sudah dekat, sekitar dua atau satu minggu lagi.
“Sudah siap, nak?” Tanya Bu War, ia membenarkan letak jilbabnya yang sedikit miring, lalu menghampiri Mega yang masih duduk di sisi ranjang.
“Sudah bu, ibu sudah siap?” Tanya balik Mega.
Bu War mengangguk, ia tersenyum lalu menggandeng lengan Mega dan menuntun perempuan itu keluar dari rumah kecil di belakang warungnya. “Ibu sudah tidak sabar, cucu ibu pasti tampan..” ucap bu War dengan antusias.
Jenis kelamin calon anaknya Mega memang laki-laki, satu minggu setelah Mega tinggal bersama bu War, perempuan tua itu memaksanya untuk memeriksakan kehamilannya ke rumah sakit disana. Dan dari pemeriksaan USG, di ketahui jenis kelamin bayinya adalah laki-laki.
“Amiiin, dan cucu ibu akan sebaik ibu nantinya,” timpal Mega.
“Kamu tuh bisa saja membuat hidung ibu terbang. Sudah sudah, kita harus cepat, nanti keburu bidannya berangkat ke puskesmas. Rumah bidan memang tak terlalu jauh dari sana, hanya berjalan kaki beberapa menit saja sudah sampai. Tapi jarak ke puskesmas cukup jauh, harus menggunakan ojeg atau angkot.
__ADS_1
Mega mengangguk seraya tertawa, bu War selalu saja bisa membuatnya tergelak. Bu War juga lah yang selalu menghiburnya saat ia mengingat Alex atau merindukan pria itu. Dua bulan berpisah membuat rindunya pada Alex menumpuk membentuk gunung, gunung yang siap meledak kapan saja jika ia tak pandai menenangkan dirinya.
Sudah cukup ia habiskan malam-malamnya dengan menangis. Menangisi kerinduannya pada Alex juga penyesalannya yang sudah membohongi pria itu begitu lama. Di awal-awal tinggal disana, Mega bahkan sering melamun, menangis dan berdiam diri di kamar jika pekerjaannya sudah selesai. Tapi Bu War dengan sabar menghiburnya, membuat Mega perlahan bisa bangkit dan melanjutkan hidupnya dengan baik. Meski sesekali ia masih menangis saat rindunya pada Alex tak tertahan.
“Jalannya pelan-pelan, nak..” pinta bu War.
“Loh bu, kan takut bu Bidannya pergi..”
“Benar juga,” gumam bu War, “Tapi hati-hati, kamu berjalan seperti bukan ibu hamil. Ibu sampai kewalahan mengikuti kamu, kasihan cucu ibu, di dalam sana dia pasti cape, mau protes pun tidak bisa.”
Kalimat itu lagi-lagi membuat Mega tergelak, ia menggandeng lengan Bu War dan menuntun perempuan itu agar bisa berjalan bersamanya.
Namun suara klakson mobil di belakang mereka membuat mereka memelankan langkah dan sedikit lebih menyisi. Mungkin Mega terlalu tengah berjalan, maklum, jalanan di sana tak terlalu lebar. Suara klakson kembali terdengar saat Mega dan bu War hendak kembali berjalan, mereka lalu menoleh.
Dengan mata melebar Mega perlahan melepaskan gandengan tangannya pada lengan bu War, perempuan itu mundur beberapa langkah. Dadanya sesak, bergemuruh dan mendesak matanya untuk mengeluarkan air.
“Mas..” lirih Mega.
Bu War menatap Mega, lalu beralih menatap pria tampan yang tampak menangis di dekat mobil. Ia tengah berusaha mencerna kejadian di hadapannya, tengah menebak siapa kah pria tampan yang memanggil Mega dengan sebutan sayang.
Dengan langkah cepat pria itu menghampiri Mega, lalu memeluk perempuan itu dengan erat. Isak tangis semakin jelas terdengar. Mega bahkan memejamkan matanya dengan erat, meyakinkan dirinya bahwa ia tak tengah bermimpi.
“Ini kamu, mas?” Tanyanya dengan lirih.
Alex mengangguk, ia semakin mengeratkan dekapannya, “Iya sayang, ini aku. Aku mencarimu kemana-mana, kenapa kamu meninggalkanku?” Tanya Alex seraya terisak.
“Maaf..” lirih Mega.
__ADS_1
Tendangan kecil dari bawah sana membuat Alex menyadari sesuatu, ia terlalu erat memeluk Mega, “Astaga, maaf nak. Papa lupa..” ucapnya. Ia melerai dekapannya, lalu berjongkok mengecup perut buncit Mega beberapa kali. “Papa juga merindukanmu..”
Kini Bu War mengerti, pria itu adalah suaminya Mega. Entah mengapa ia juga ikut meneteskan air mata, ada perasaan yang tak bisa ia ungkapkan. Dua bulan bersama Mega membuatnya begitu menyayangi perempuan itu. Ia bahagia akhirnya Mega kembali bertemu dengan suaminya, tapi di satu sisi ia sedih, mungkin Mega akan meninggalkannya.
“Nak, sebaiknya kita kembali ke rumah,” ucap Bu War. Ia tak mau mereka menjadi bahan tontonan beberapa orang yang melewati mereka.
Mega mengangguk, ia mengajak Alex untuk pergi ke rumah bu War. “Kita bicara di rumah ibu ya mas,” ucapnya.
Alex pun mengangguk mengiyakan, ia mengajak Mega dan Bu War menaiki mobilnya, padahal jarak dari sana ke rumah Bu War belum terlalu jauh. Tapi Alex memaksa.
***
"Silahkan duduk, mas. Aku akan membuatkanmu minum, tunggulah sebentar.." ucap Mega sesaat setelah mereka memasuki rumah.
"Nak, biar ibu saja yang membuatkannya. Kamu duduklah, pasti banyak yang ingin kalian bicarakan," usul ibu.
"Tapi Bu, ibu pasti lelah.." tolak Mega.
"Siapa bilang ibu lelah? Kamu tahu ibu kan? Ibu ini wanita tua ajaib, ibu tidak pernah merasa lelah.."
Mega tersenyum, akhirnya ia mengangguk lalu duduk di sebelah Alex. Jantungnya kembali berdegup kencang saat Alex menggenggam tangannya.
"Pulanglah bersamaku, aku mencemaskan mu. Semua orang mencemaskan mu, sayang.." ucap Alex, ia begitu ingin kembali memeluk perempuan itu.
"Tapi mas.."
"Aku mohon sayang, aku mohon kembalilah. Kita akan memulai semuanya dari awal. Maafkan aku karena aku menyakitimu, jangan hukum aku lagi.."
__ADS_1
"Mas, aku.."