
BRUK
"Aw.."
Angkasa mengusap bahunya, menatap tajam gadis berkeringat yang baru saja menabraknya, lebih tepatnya ia tabrak. "Kamu tidak punya mata?"
Suara dingin pria itu membuat gadis berseragam OG menunduk takut, "Maaf, pak. Saya tidak sengaja, tadi.."
"Tidak sengaja? Alasan klasik!" kata Angkasa masih dengan suara dinginnya. Ia menatap name tag yang tertulis di pakaian seragam gadis itu, "Semesta? Nama yang aneh," batinnya.
"Saya memang tidak sengaja pak, lagian kalau di pikir-pikir, kan bapak duluan yang nabrak saya," elak gadis itu masih dengan kepala tertunduk. Jelas-jelas pria berjas itu yang salah, berjalan dengan ponsel di tangannya, tentu pria itu tak akan melihat apa saja yang ada di depannya. Apalagi kaca mata hitam bertengger di pangkal hidungnya, membingkai mata elang yang tajam setajam silet. Tentu penglihatan pria itu akan berkurang banyak, begitu pikirnya.
Angkasa mendengus kesal, hendak kembali bicara namun suara seseorang membuatnya urung berkata.
"Esta! Ya ampun, dia melakukan kesalahan lagi, dasar anak ini!"
Wanita paruh baya bertubuh gempal itu memaksakan diri berlari, membawa tubuh beratnya menghampiri Angkasa, "Maafkan dia pak, dia OG baru disini. Saya akan menghukumnya jika dia melakukan kesalahan."
Angkasa mengenal wanita bertubuh besar itu, karena sudah bertahun-tahun wanita itu bekerja di LaGroup sebagai kepala OG, "Bu Retno, beri tahu dia untuk lebih berhati-hati. Untung pakaian saya gak kotor, dan beri tahu dia, kalau salah ya ngaku salah, jangan melimpahkan kesalahan sendiri pada orang lain!"
"Baik pak baik, sekali lagi saya minta maaf. Saya akan beri tahu dia, pak." Bu Retno mengangguk hormat, lalu menarik tangan Esta dan memberi isyarat agar gadis itu meminta maaf juga.
__ADS_1
Esta mendelik, namun ia tak punya pilihan lain. Padahal jelas-jelas Angkasa yang menabraknya karena pria itu melihat ponsel sambil berjalan, tapi dia yang di salahkan. Orang kaya memang begitu, lagi-lagi Esta berasumsi sendiri. "Saya minta maaf pak," kata Esta.
"Yang ikhlas kalau minta maaf!"
"Ta, ikhlas Ta!" bisik Bu Retno.
"Dengan segenap jiwa raga, dengan setulus hati saya meminta maaf pak. Maafkan kelalaian saya, lain kali saya tidak akan berjalan sambil liat ponsel," sindir Esta. Padahal jelas-jelas yang ia genggam gagang lap pel, bukan ponsel.
Angkasa membuka kaca matanya, menatap Esta dengan tajam. Bahkan bola matanya nyaris keluar, bibirnya terkatup rapat menahan tawa saat melihat Esta terkejut takut melihat matanya. "Baru kali ini ada yang berani menyindir saya! Gede juga nyali kamu!"
"Kecil kok pak, saya minta maaf." Esta menunduk dan mundur saat Angkasa maju mendekatinya.
"Pak pak pak, saya yang akan menghukumnya. Maafkan dia pak, dia masih baru, jadi belum tahu siapa bapak. Maafkan dia pak, saya akan menghukumnya," Bu Retno menghalangi Angkasa.
"Baiklah, hukuman apa yang akan Bu Retno berikan padanya?" Angkasa kembali memakai kaca mata hitamnya, mengamati Esta dari balik bingkai hitam itu.
"Menjewernya sampai telinganya memerah, dia akan kapok pak. Maafkan dia," ucap Bu Retno lagi.
Angkasa mendengus, "Ok, kali ini dia saya maafkan. Lain kali, tidak ada ampun buat tukang sindir kaya dia!"
"Terima kasih pak," Bu Retno kembali mengangguk hormat, menyenggol lengan Esta yang hanya diam saja.
__ADS_1
"Terima kasih pak," kata Esta buru-buru. Dari rasa hormat yang di tunjukan Bu Retno, sepertinya pria itu bukan orang sembarangan. Pasti mempunyai kedudukan tinggi di perusahaan itu.
Angkasa tak menjawab, ia berlalu begitu saja. Pagi-pagi ia sudah kesal, tapi melihat raut wajah Esta, ia sedikit terhibur, rasa kesalnya sedikit berkurang.
***
"Memangnya dia siapa Bu'de?" Tanya Esta sesaat setelah ia dan Bu Retno memasuki dapur.
"Itu pak Angkasa, salah satu orang penting di perusahaan. Dia anaknya pak Alex, asisten pak Langit sekaligus salah satu pemegang saham LaGroup. Kamu tuh harus hati-hati, untung aja dia gak pecat kamu tadi. Kalau kamu di pecat, bisa nangis seminggu kamu ndo! Masa kerja belum ada sehari udah di pecat, kan Ndak lucu toh?"
Esta manggut-manggut, "Tapi tadi aku beneran gak salah kok Bu'de. Dia yang nabrak, bukan aku. Dia jalan sambil liat hp, terus pake kaca mata hitam, pasti dia gak bisa lihat dengan jelas. Tapi aku yang di salahin, orang kaya emang gitu ya Bu'de.."
Bu Retno tertawa, "Ya gak semua orang kaya begitu, tapi ngomong-ngomong kamu berani juga ya Ta? Kamu tadi nyindir dia, hebat kamu."
"Bu'de tuh gimana sih? Tadi katanya aku salah, gak boleh macem-macem, sekarang malah bilang hebat. Jadi nanti aku harus gimana?" Esta bingung sendiri.
"Jangan macem-macem, rumusnya, kalau kita salah ya minta maaf, kalau bos yang salah ya tetap kita yang salah terus wajib minta maaf." Jelas Bu Retno, ia meneguk air mineral yang baru saja Esta berikan, rasa lelah membuat air mineral itu terasa lebih nikmat dari sirup rasa jeruk yang tidak ada.
"Gak adil, salah gak salah tetap kita yang salah." Esta mengusap keringat yang mengucur di dahinya, tapi demi pekerjaan ini, ia rela melakukan apapun. Susah payah ia bisa sampai di Jakarta, bahkan ia meminjam ongkos dari tetangganya yang baik hati. Ia ingin bekerja untuk membayar hutang-hutang bapaknya yang sudah almarhum. Keadaannya terdesak, hutang peninggalan bapak yang menggunung membuat gadis itu di kejar-kejar juragan tanah untuk di nikahi sebagai pertukaran pelunasan hutang. Tentu Esta tak mau, dia akan di jadikan istri ke Enam, bayangkan semata keranjang apa juragan tanah itu, bahkan Esta lebih pantas menjadi anaknya.
Jakarta adalah harapan terbesarnya, selain tempat pelarian dan persembunyiannya, Jakarta juga akan Esta jadikan tempat menggantungkan hidup.
__ADS_1
IKLAN
Kisah Angkasa nih Ges, semoga suka yah. Jangan lupa like komen dan subscribe/follow. Kasih aku hadiah dong, aku maksa pokonya!😁