
Pagi ini cuaca begitu cerah, secerah hati Langit yang tengah di mabuk cinta pada istrinya. Suara burung bersahutan terdengar seperti lagu cinta, awan putih yang menggantung di langit biru terlihat bak membentuk hati perlambang cinta. Semilir angin seperti mengantar sebuah irama ke dalam indera pendengarannya, Langit benar-benar mabuk kepayang. Pria itu bahkan enggan melepaskan dekapannya pada sang istri, padahal hari ini ia di jadwalkan ada pertemuan penting bersama para pemegang saham.
"Mas, nanti kamu terlambat.." ucap Jingga.
Mereka tengah berada di balkon kamar, saling mendekap erat tak ingin terlepas. Selepas sarapan, Langit memang mengajak Jingga kembali ke kamar, bukan pergi bekerja seperti biasanya.
"Aku tidak perduli, biarkan saja mereka menungguku," jawab Langit.
Jingga mendongak, menyentuh bulu-bulu berwarna putih yang memenuhi area dagu suaminya, "Jangan seperti itu, kamu seorang pemimpin, harus memberikan contoh yang baik untuk bawahanmu. Kamu tahu mas? dulu, aku sangat ingin bekerja di LaGroup, tujuan aku lulus kuliah dengan baik adalah agar aku bisa bergabung dengan perusahaan kamu. Perusahaan yang di elu-elukan teman-temanku. Semua tentang LaGroup mereka tahu, termasuk ketegasan dan kedisiplinan pemimpinnya. Tapi lihatlah sekarang, pemimpinnya sangat manja dan mengabaikan tugasnya," sindir Jingga seraya menahan tawa.
Entah mengapa akhir-akhir ini Langit memang sangat manja padanya. Bahkan malam tadi pria itu memintanya menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur.
Jingga memakluminya, mungkin karena Langit sudah lama tak mendapat sentuhan hangat dari mamanya. Atau mungkin juga karena dulu Langit dewasa sebelum waktunya. Karena itu Jingga menurut saja, ia bernyanyi sampai pria itu tertidur.
Langit mencebik, tapi ada satu hal yang menarik perhatiannya, "Kamu ingin bekerja di perusahaan ku?" tanyanya.
Jingga mengangguk, "Tapi Tuhan maha baik, aku justru mendapatkan CEO-nya."
Langit tertawa, mengecup bibir Jingga bertubi-tubi sampai Jingga ikut tertawa.
"Baiklah nyonya Langit, suamimu ini akan menurut. Aku pergi sekarang," ucap Langit.
Jingga mengangguk semangat, ia bergelayut manja di lengan Langit dan mengantarkan suaminya sampai ke depan pintu.
Di depan pintu utama, sudah ada Alex yang menunggunya. Pria itu tersenyum dan mengangguk memberi hormat.
Jika Jingga balas tersenyum, lain halnya dengan Langit yang justru menatap Alex dengan tatapan berbeda, keningnya bahkan berkerut tajam.
"Kenapa hari ini kamu terlihat sangat jelek, Alex?"
__ADS_1
Pertanyaan itu tak hanya mengagetkan Alex, tapi juga Jingga.
"Mas.." tegur Jingga.
Alex tersenyum kikuk, "Saya seperti biasanya tuan. Apa ada yang aneh?"
Langit mengangguk, "Iya, kamu aneh hari ini. Kamu jelek! Aish, saya kok sebal lihat kamu!"
Alex tertawa sumbang, ia anggap itu sebagai candaan, "Hahahah, tuan lucu sekali."
"Jangan tertawa, pakai masker! Saya tidak mau melihatmu.."
Jingga menepuk dahinya sendiri, ia tersenyum tak enak saat Alex menoleh padanya. Tatapan pria itu seolah bertanya, ADA APA DENGAN LANGIT?
"Mas, jangan seperti itu.." tegur Jingga lagi. Jangankan Alex, ia sendiri bingung dengan sikap Langit yang cepat sekali berubah-ubah. Setelah manja, kali ini Langit menyebalkan.
"Kenapa mas? Tidak ada yang aneh dengan Alex, dia seperti biasanya," jelas Jingga.
"Aneh, dia terlihat aneh sayang. Coba kamu lihat, dia memakai kemeja biru, issh biru warna yang jelek. Aku tidak suka, lihat juga jasnya, dia memakai jas hitam dan celana hitam. Aneh kan sayang? Harusnya dia memakai kemeja berwarna merah muda, jas kuning dan celana cream, itu akan terlihat lebih macho.."
Baik Jingga maupun Alex menganga mendengar itu. Langit benar-benar aneh.
"Alex, pakai masker. Menurut saja, ok?" Ucap Jingga dengan pelan.
Alex mengangguk beberapa kali, ia memasuki mobil dan mengambil masker lalu memakainya. Kemudian kembali keluar dan membukakan pintu mobil untuk Langit.
"Aku pergi ya sayang," pamit Langit.
Jingga mengangguk, memejamkan mata saat Langit mengecup keningnya. Ia meraih tangan Langit dan mengecup punggung tangan pria itu.
__ADS_1
***
Keanehan Langit terus berlanjut, pria itu bahkan meminta Alex memunggunginya ketika ia memanggil Alex ke ruangannya. Itu sangat aneh, karena Langit sangat tidak menyukai seseorang tidak menatapnya ketika pria itu mengajak orang lain berbicara.
"Alex, aku ingin makan tahu gejrot. Tadi saat kita di jalan, aku melihat tulisan itu di salah satu gerobak pedagang. Aku ingin mencicipinya," titah Langit.
Alex mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan nama makanan yang baru kali ini ia dengar. Ia lalu berbalik, tapi kembali membelakangi Langit ketika sang tuan melarangnya.
"Jangan berbalik, tetap membelakangi ku!" pekik Langit.
"Maaf tuan.." ucap Alex.
"Sudahlah! Carikan aku makanan itu, rasanya sudah di lidah," ucap Langit lagi.
"Tapi saya tidak tahu makanan apa itu, Tuan. Saya baru mendengar namanya.."
"Kamu pikir aku tahu? Aku juga tidak tahu, tapi aku ingin mencicipinya. Cepatlah, kalau tidak, aku akan memangkas gajimu!"
Mendengar ancaman menyeramkan itu, Alex sontak mengangguk. Ia lalu berpamitan pada Langit, "Baik tuan. Saya permisi.."
"Hem, dan ingat, aku mau memakannya kalau kamu yang membelinya. Jangan coba-coba meminta orang lain membelikannya! Saya tidak bisa di bohongi!"
Bahu Alex melorot, ia menelan ludahnya dengan susah payah. Padahal ia baru saja berencana meminta salah satu OB untuk mencarikan makanan itu.
"Baik, Tuan."
NAH LOH, CARI DAH TUH TAHU GEJROT 🤣🤣
BTW, ADA YANG MAU VISUAL LANGIT JINGGA GAK??
__ADS_1