
Langit berdecak saat ia menerima telpon dari Alex bahwa hari ini pria itu tak bisa datang ke kantor. Padahal hari ini pasti akan sangat sibuk. Tapi tak apa, ia jadi mempunyai banyak waktu berdua dengan Jingga meski nantinya akan kerepotan sendiri.
"Ada apa?" Tanya Jingga yang duduk di sebelah Langit.
Sepersekian detik Langit menoleh, kemudian kembali fokus pada jalanan di hadapannya. Ia memutar otak untuk menjawab pertanyaan Jingga, mana mungkin ia mengatakan yang sebenarnya, bahwa Mega tak ada di apartemen sejak kemarin sore. Dan kini Alex tengah pontang panting mencarinya.
"Mas?"
"Ah, tidak apa-apa. Alex tidak bisa masuk ke kantor, dia sedang ada urusan." Jawab Langit, ia berharap semoga Jingga tak bertanya lagi.
"Urusan? Kenapa perasaan ku mendadak tidak nyaman, apa mbak Mega mau melahirkan?" Tanya Jingga lagi, entah mengapa ia menjadi cemas.
Langit menggeleng, "Tidak, mungkin urusan keluarga yang tidak bisa di tinggalkan."
Jingga terus menatap Langit, mencari kebenaran atau kebohongan kah yang Langit lontarkan. "Apa benar begitu?"
Langit mengangguk, "Benar, Jingga. Sudahlah, lebih baik kamu menyiapkan diri.."
Jingga tak berkata apapun lagi, ia mengangguk dan kembali duduk lurus menatap jalanan di hadapannya.
Ada yang aneh, Alex tak pernah absen mendampingi Langit. Apalagi hari ini adalah awal yang baru, baik untuk Jingga maupun untuk Langit. Apalagi Langit mengizinkan Alex dengan mudah.
Langit melirik Jingga saat terdengar helaan nafas panjang dari perempuan itu, "Maaf sayang, aku tidak bisa mengatakannya sekarang.." batinnya. Ia tak mau Jingga tahu jika Mega pergi, selain bisa membuat Jingga sedih, hal itu juga akan mengganggu proses pengangkatan Jingga sebagai CEO hari ini.
***
Alex membuka pintu apartemen, sepi, hening. Itulah yang saat ini sangat terasa, berbeda ketika Mega berada disana. Perempuan itu selalu menyambut kedatangannya dengan riang dan mengatakan bahwa seharian ia merindukannya.
__ADS_1
Pandangannya mengedar, lalu terhenti pada meja makan. Di sana masih terdapat makanan yang Mega masak dan belum sempat ia sentuh. Langkah kakinya mengayun, menghampiri meja makan lalu duduk menatap beberapa menu makanan yang pastinya sudah dingin.
Dengan penampilan semrawut karena semalaman mencari Mega, ia mengambil piring lalu menyiapkan nasi dan lauk pauknya. Makanan yang terasa dingin itu tak bisa mengalahkan rasa dingin di hatinya.
Ia mulai mengunyah, dengan tatapan kosong dan pipi basah karena air mata. Bahkan makanan itu terasa sangat sulit ia telan, rasanya sesak dan sakit.
"Makanannya enak, sayang. Terima kasih, apapun yang kamu masak, aku pasti akan menyukainya. Karena kamu membuatnya dengan usaha dan cinta.." lirihnya.
Pujian itulah yang sudah lama tak ia ucapkan dan sangat Mega rindukan. "Apa sekarang percuma aku mengatakannya? Kamu sudah tidak lagi mendengarnya, sayang.."
Alex semakin terisak, namun meski begitu, ia sama sekali tak menghentikan kunyahan di mulutnya. Hingga makanan di piringnya tandas pun ia masih terisak.
"Maaf, maafkan aku. Tolong pulanglah, kembali sayang.." air mata semakin bercucuran, Alex semakin tampak semrawut, berantakan dengan kelopak mata membengkak.
Penyesalan memang selalu terjadi di akhir, dan semakin menyesal saat ternyata semuanya sudah benar-benar terlambat. Perempuan yang ia cintai justru ia lukai.
***
Tadi malam Mega bertemu dengan Sintya, adik perempuan Alex yang kebetulan baru saja pulang dari rumah temannya. Sintya mendapati Mega tengah berjalan sendirian, karena itu Sintya mengajak Mega pulang bersamanya.
Awalnya Mega menolak, ia takut Sintya memberi tahu Alex. Sintya bahkan harus berjanji terlebih dahulu pada Mega untuk tak memberi tahu keberadaan perempuan itu pada sang kakak, baru lah Mega mau pulang itupun ke rumah mertuanya, bukan ke apartemennya. Meski banyak pertanyaan yang bergelayut di benak Sintya tentang larangan Mega memberi tahu Alex, gadis itu tak mau banyak bertanya dan ikut campur perihal urusan rumah tangga sang kakak. Bukan tak perduli, hanya saja ia tak mau salah bertindak.
"Tidak, Bu. Terima kasih, ibu sudah mengizinkan aku menginap disini," ucap Mega.
Ibu mengangguk, dengan lembut ia mengusap perut buncit menantunya. "Apa sedang ada masalah, nak?" tanyanya.
Mega menggeleng, bibirnya mengukir senyum, "Tidak ada masalah apa-apa, bu. Mas Alex memperlakukanku dengan sangat baik, dia sangat mencintaiku. Aku sangat bahagia memilikinya, apalagi sebentar lagi kita akan mempunyai anak.." jelas Mega.
__ADS_1
Atas penjelasan itu, entah mengapa ibu justru semakin yakin bahwa rumah tangga Mega dan Alex memang tengah tak baik. Ibu justru berpikir Alex memperlakukan menantunya dengan buruk.
"Nak, jika ada masalah, atau ada yang mau kamu ceritakan, kamu bisa menceritakannya pada ibu. Ibu juga ibumu, kamu bisa membagi apapun dengan ibu.."
Mega tersenyum lembut, meraih tangan keriput ibu mertuanya lalu ia genggam, "Semuanya baik-baik saja Bu. Ibu tidak usah cemas, aku bahagia.."
"Syukurlah, ibu selalu mendoakan kalian. Agar kalian bahagia dan selalu bersama.."
Mendengar doa tulus ibu, hati Mega sakit. Ia telah berbohong, ia membohongi ibu mertuanya. Tapi ia tak punya pilihan, ia tak mau jujur karena ia tahu ibu kerap sakit-sakitan. Ia tak mau ibu terbebani oleh masalahnya.
"Sintya akan mengantarmu pulang," ucap ibu.
Mega menggeleng, "Tidak usah Bu, aku tidak mau merepotkannya. Lagi pula Sintya pasti sudah pergi kuliah, aku akan pulang sendiri."
Ibu menghela nafas panjang, ia tak bisa memaksa lagi. Karena itu ia mengangguk. Melihat koper yang tergeletak di pojok kamar, ibu semakin yakin bahwa Mega dan Alex tengah tak baik.
"Nak, ibu hanya berpesan, jangan tinggalkan suamimu. Ibu tahu putra ibu seperti apa, dia sangat mencintaimu."
Mega terdiam, berpikir bahwa mana mungkin Alex masih mencintainya. Pria itu tidak bisa menerima masa lalunya juga anak yang ia kandung, apalagi Alex sudah membawa perempuan lain ke apartemen mereka bahkan ke kamar mereka, apa mungkin Alex masih mencintainya?
"Aku tahu, Bu.." lirihnya.
Ibu mengangguk seraya tersenyum, "Ayo ibu antar ke depan," ucapnya.
Mega mengangguk, ia beranjak dan mengambil kopernya lalu menyusul ibu yang sudah lebih dulu keluar kamar. Sekali lagi ia menoleh, mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Kamar itu kamar Alex, banyak foto Alex yang tergantung di dinding kamar, dari mulai pria itu masih bayi hingga foto pernikahan mereka meski sangat sederhana bahkan tak seperti foto pernikahan.
"Selamat tinggal, mas. Maaf karena aku menyerah, akan aku bawa semua cintaku, kenanganku bersamamu, juga semua luka yang sudah kamu torehkan untukku. Semoga setelah aku pergi kamu bahagia.."
__ADS_1
Noh, yang nyari keberadaan mbak Mega, udah aku kasih tahu dimana mbak Mega. Kasih aku hadiah pokonya, like komen, share novel aku atau rekomendasiin novel aku juga boleh.