MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
TEMPAT BARU


__ADS_3

Jingga mengedarkan pandangannya, menatap banyaknya mata yang tengah memperhatikannya. Tubuhnya sedikit bergetar, ia belum pernah menghadapi orang sebanyak ini dan dirinya yang menjadi subjek utama di gedung itu.


Telapak tangannya terasa dingin, namun sebisa mungkin ia menenangkan dirinya. Jantung yang sedari tadi bedebam bedebum pun menambah kegugupannya, entah mengapa ia mendadak ingin buang hajat.


"Mas.." bisik Jingga pada Langit yang duduk di sebelahnya. Mengabaikan pembawa acara yang tengah membacakan susunan acara untuk pagi itu.


Langit menoleh, ia tersenyum. Pria itu tahu istrinya tengah gugup, dengan modus mode on, Langit mengulurkan tangannya lalu menggenggam tangan Jingga di bawah meja sana. Ia bawa tangan perempuan itu ke pangkuannya, "Tenangkan dirimu.." bisiknya.


Jingga jadi kesal, padahal ia ingin meminta izin pada Langit untuk pergi ke toilet dulu, tapi anehnya, rasa mulas di perutnya mulai mereda dan jantungnya mulai tenang. Ternyata genggaman tangan Langit masih sangat membuatnya nyaman.


Menunggu pembawa acara menyerahkan acara itu pada Langit, tangan mereka terus saling menggenggam. Langit tentu girang, sepertinya rencananya akan berjalan mulus.


Sampai ketika sang pembawa acara menyebut namanya, pria itu berdecak sebal. Padahal Langit tengah menikmati tangan hangat Jingga yang sudah lama ia rindukan, tapi acara memang harus segera berjalan.


"Tunggu sebentar, tenanglah, ada aku.." bisik Langit sebelum ia berdiri. Dengan tak tahu dirinya pria itu mengecup puncak kepala Jingga sebelum beranjak.


Membuat Jingga terkejut tapi juga tak bisa memprotes, mana mungkin ia mengomel di hadapan banyak orang yang tengah memperhatikan mereka. Langit benar-benar mencari kesempatan.


Dengan tatapan dalam, Jingga memperhatikan pria tua yang tengah berbicara di hadapan banyaknya para petinggi perusahaan dan kepala bagian dari setiap divisi di perusahaan tersebut. Aura pemimpin begitu terlihat, menempel lekat pada Langit. Pantas saja Langit begitu di segani, di hormati dan di sanjung, karena saat tengah bicara di hadapan banyaknya orang seperti sekarang ini, Langit tampak sangat berbeda. Kharisma yang Langit pancarkan benar-benar membuat semua orang tersihir. Padahal Langit tengah menjelma sebagai pria tua, tapi aura ketampanannya masih jelas terlihat.


"Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, jika selama saya memimpin perusahaan, ada banyak hal yang tidak berkenan. Dan saya mohon, jangan meragukan keputusan saya, mempertanyakan keputusan saya apalagi membantah. Saya juga meminta pada kalian semua, jangan meragukan kemampuan pemimpin kalian yang baru."


Jeda, Langit menoleh pada Jingga yang masih menatapnya. Lagi-lagi Langit tersenyum, senyuman yang mampu membuat Jingga tenang dan sedikit percaya diri. "Saya perkenalkan CEO LaGroup yang baru, Jingga, istri saya.."


Pernyataan itu sontak membuat semua orang terkejut. Bukan karena pergantian CEO mereka, tapi karena pernyataan bahwa ternyata Jingga adalah istri dari Langit.


Selama ini, tak pernah ada yang tahu tentang kehidupan pribadi Langit. Meski beberapa kali dulu Jingga pernah datang ke perusahaan, mereka mengira Jingga hanya pembantu rumah tangga atau simpanan Langit. Ternyata perempuan itu adalah istrinya.

__ADS_1


Pernyataan itu juga mematahkan persepsi orang-orang yang meragukan kemampuan Jingga. Karena mereka mulai yakin, bahwa Langit tak akan melepas perusahaan begitu saja, pria itu pasti akan terus mendampingi istrinya.


Dengan jantung berdebar Jingga mulai beranjak, ia tersenyum saat tepuk tangan bergemuruh mengiringi langkahnya.


Dengan sedikit ragu Jingga menerima uluran tangan Langit, mereka saling menggenggam erat.


"Selamat pagi semua," sapa Jingga.


"Selamat pagi.." semua orang serentak menjawab.


Jingga mulai memberikan sambutan, sepatah dua patah kata untuk memperkenalkan dirinya.


***


Kaki yang mulai terasa pegal membuat Mega memilih beristirahat di sebuah warung sederhana di pinggiran jalan, warung itu seperti warung nasi, tapi juga menyediakan berbagai makanan ringan. Ia membeli sebotol air mineral juga roti untuk mengganjal perutnya.


"Kamu lapar ya nak? Maaf yah, mama hanya bisa memberimu roti," batinnya. Matanya mulai berembun, ia cepat menengadah menghalau air kesedihan yang kembali siap menetes. Ia tak boleh menangis lagi, Mega bertekad untuk menjadi wanita yang kuat demi calon anaknya.


"Maaf nak, apa ibu boleh bertanya?" Pemilik warung yang sedari tadi memperhatikan Mega merasa iba pada keadaan Mega yang tengah hamil besar.


Mega mengerjap, berusaha tersenyum meski matanya terasa perih menahan tangis, "Tentu boleh Bu," jawabnya.


"Nak ini mau kemana? Cuaca sangat panas, tidak baik untuk wanita hamil berada di luar.." tanya wanita tua pemilik warung.


"Sa-saya, saya juga tidak tahu mau kemana. Saya hanya berjalan dari tadi, saya bahkan tidak tahu ini di mana," lirih Mega.


Karena sedari ia turun dari angkutan umum, ia tak tahu berjalan ke arah mana dan sampai di daerah apa. Ia hanya terus berjalan berusaha menjauh dari keramaian. Hingga siang tiba, ia merasa lelah berjalan lalu berhenti di warung tersebut.

__ADS_1


"Ini sudah masuk daerah Bogor nak, sudah dekat ke puncak. Memangnya nak ini dari mana?"


Mega sedikit terkejut, ternyata ia sudah pergi cukup jauh. Pagi tadi, ia menaiki angkutan umum, ia sendiri tak melihat tujuan angkutan umum tersebut kemana, ia juga turun di sembarang tempat, lanjut berjalan hingga akhirnya sampai disana.


"Ternyata sudah cukup jauh," gumamnya dengan lirih. Mega kembali menoleh pada ibu warung yang masih menunggu jawabannya, "Saya dari Jakarta pusat Bu," jawab Mega.


"Wah, ternyata cukup jauh. Apa kamu mempunyai saudara di daerah sini?"


Mega menggeleng, "Tidak Bu, saya sedang mencari kontrakan dan pekerjaan.."


Ibu warung mengerutkan dahinya, mungkin semakin iba pada Mega. Dengan kondisi hamil besar Mega masih mencari pekerjaan dan tak punya tempat tinggal pula.


"Emmm, kalau kamu mau, kamu boleh bekerja di warung ibu. Kebetulan orang yang bekerja disini sedang pulang kampung, tapi ibu tidak bisa memberimu gaji besar, bagaimana?"


Mega tersenyum lebar, ia mengangguk beberapa kali, "Saya mau Bu, terima kasih banyak.." ucapnya dengan riang.


Melihat senyum lebar Mega, ibu warung ikut tersenyum, "Untuk tempat tinggal, tinggal lah di belakang warung. Ibu juga tinggal disana, rumahnya memang kecil, tapi cukup nyaman untuk kita berdua."


"Ya Tuhan, terima kasih banyak Bu. Saya akan bekerja dengan rajin, ibu tenang saja. Meski pun saya hamil besar, tapi saya masih kuat untuk bekerja."


Dengan senyum lebar yang masih terukir di wajah keriputnya ibu warung mengangguk, "Ibu percaya padamu. Siapa namamu nak?"


"Nama saya Mega Bu," jawab Mega.


"Nama ibu Warsita, panggil saja Bu War.."


Mega kembali mengangguk. Tuhan memang maha baik, selalu ada pertolongan untuknya meski ia manusia berdosa. Ya, Mega merasa menjadi manusia berdosa. Bahkan dosa-dosa yang sudah ia perbuat menghancurkan rumah tangganya.

__ADS_1


Kemaren Mak gak sempet up, maapin ya! Jan marah, biasa, sibuk jualan panci yang belum laku😭


__ADS_2