MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
MENCARI


__ADS_3

Angkasa mondar mandir tak jelas, hari sudah mulai gelap, tapi Esta belum juga pulang. Hatinya mulai tak tenang, sedari siang tadi ia mencari Esta, tapi ia tak menemukan gadis itu dimana pun. Tamparan yang ia layangkan pada pipi gadis itu terus menghantuinya, membuatnya merasa bersalah dan menyesal.


"Kamu dimana Esta?" Gumamnya, "Apa aku susul ke rumah Bu'de? Tapi gimana aku menghadapi Bu'de kalau Esta ternyata gak disana?"


Kecemasan Angkasa semakin menyeruak saat mengingat Esta belum tahu betul seluk beluk kota Jakarta, gadis itu juga belum tahu betul jalan menuju ke rumahnya.


"Masa bodo gue di omelin Bu'de!" Ia memutuskan untuk mencari Esta di rumah Bu'de. Mengenai reaksi Bu'de, ia akan pikirkan nanti.


Ia mengambil kunci mobil, lalu melesat keluar kamar untuk mencari Esta. Beruntung ia tak bertemu mama atau papanya, tak ada banyak pertanyaan yang ia dapat dari mereka tentang menantunya yang hingga kini belum pulang.


Pria itu mengendarai mobilnya dengan pelan, siapa tahu Esta sudah sampai di sekitar kompleks tapi gadis itu tak bisa masuk mengingat keamanan ketat yang di terapkan di kompleks tersebut. Apalagi Esta tak mempunya ID yang biasa di gunakan untuk akses masuk kesana.


Matanya memicing saat ia melewati taman yang jaraknya tak jauh dari kompleks perumahan, "Esta?" Angkasa bernafas lega, setidaknya ia tak harus menemui Bu'de. Ia tak mau Bu'de cemas jika mengetahui Esta tak ada.


Esta yang sejak satu jam yang lalu duduk disana tengah menatap hamparan rumput hijau yang mulai tak terlihat karena hari sudah gelap. Sisa-sisa air mata terlihat nyaris mengering di kedua pipinya. Lengkap sudah kesialannya hari ini, siang di tampar suami, ia juga lelah karena pekerjaan yang banyak, saat pulang ia tak bisa memasuki kompleks karena tak mempunyai ID, dua penjaga disana tak mengizinkannya memasuki wilayah kompleks perumahan elit itu. Apalagi melihat penampilan Esta, kedua penjaga itu semakin meragukannya. Karena tidak ada penghuni kompleks yang berpenampilan lusuh turun dari angkutan umum atau ojek online.


Tinggal disana pun belum lama, Esta belum terlalu di kenali. Karena itu Esta memutuskan untuk berjalan menyusuri jalanan meski belum tahu tujuannya akan kemana. Dan melihat area taman, Esta pun melipir kesana, hitung-hitung untuk menenangkan diri dan lanjut menangis.


Gadis itu tersentak saat tiba-tiba ada seseorang duduk di sebelah kanannya, ia pun menoleh, lebih tersentak lagi saat mendapati suaminya lah yang ternyata duduk disana.


"Aku cari kamu, ternyata kamu disini."

__ADS_1


Esta tak menjawab, mengingat betapa kerasnya tamparan pria itu, hatinya kembali sakit. Ari matanya kembali menggenang, Esta tak pernah merasakan luka yang seperih ini.


Mendapati Esta diam saja, Angkasa menghela nafas panjang. Ia lalu menoleh menatap Esta yang tampak sendu, "Aku minta maaf, Esta. Aku benar-benar gak sengaja, aku gak suka kamu ngomongin perpisahan."


Esta menoleh, menatap Angkasa dengan tajam. Matanya mulai kembali berair, "Ceraikan aku! Kamu juga belum menikahi ku secara resmi kan? Kamu hanya tinggal mengatakannya!"


"Esta!" Sentak Angkasa, emosinya kembali tersulut. Baru saja ia mengatakan tak suka saat gadis itu membicarakan perihal perpisahan, tapi gadis itu justru meminta cerai.


"Kenapa pak? Bukan hal yang sulit kan? Kita gak saling mencintai, bukan aku juga yang kamu inginkan, tapi perempuan lain. Aku gak mau kamu terbebani dan merasa bertanggung jawab karena kejadian itu!"


Esta bahkan kembali menggunakan bahasa formalnya, membuat Angkasa mengepalkan tangan dengan kuat agar ia tak kembali membuat kesalahan.


"Aku bilang aku gak suka kamu ngomongin perpisahan! Apa kamu gak dengar?!"


Mereka saling menatap, banyak kata yang ingin Esta sampaikan, rasanya campur aduk. Ingin mencaci, ingin marah, ingin memberontak, ingin mengungkapkan semua rasa sakit yang ia terima atas perlakuan pria itu, tapi lidahnya justru kelu.


"Kita pulang!" Ucap Angkasa dengan tegas, ia meraih tangan Esta dan menariknya agar gadis itu menuruti ucapannya.


"Lepasin aku! Aku gak mau hidup dengan laki-laki yang tidak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalunya! Cape mas, untuk apa pernikahan ini di pertahankan kalau aku sendiri yang berjuang? Apa kamu pikir hati aku gak sakit? Aku istri kamu, kalau kamu jadi aku, gimana perasaan kamu saat suami kamu mengabaikan mu dan sibuk dengan kenangan masa lalunya?!" Sentak Esta.


Angkasa menghentikan langkahnya, ia lalu menoleh, menatap Esta mencari sesuatu yang ingin dia pastikan, ia lalu bertanya, "Kamu mencintaiku?"

__ADS_1


"Cinta atau tidak, apa pentingnya untuk kamu? Meski pun aku gak cinta sama kamu, tapi aku ini istri kamu mas, istri mana yang rela hati suaminya masih untuk wanita lain? Istri mana yang rela melihat suaminya sibuk meratapi masa lalunya? Aku rasa gak ada mas! Termasuk aku, aku gak mau bertahan sendirian."


Angkasa melunak, tatapan yang semula tajam kini mulai meredup, ternyata yang ia sakiti bukan hanya raga istrinya saja, tapi juga hatinya.


"Kita bicarakan ini di rumah, ok? Please.." pintanya.


Esta memalingkan wajah, menghapus air matanya dengan asal.


"Aku mohon, Esta. Kita pulang dulu, ok!"


Perlahan Esta mengangguk, pasrah saat Angkasa menggenggam tangannya dan mengajaknya ke mobil.


Sepanjang perjalanan, mereka tak saling bicara. Esta sibuk menghapus air mata yang terus saja menetes, sedangkan Angkasa sibuk dengan rasa bersalahnya pada gadis itu.


Hingga sampai di rumah, Angkasa menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama. Ia menoleh saat Esta mengenakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Teringat tamparan yang ia berikan pada gadis itu, Angkasa lalu menahan tangan Esta saat Esta hendak membuka pintu mobil.


"Esta.."


Esta menoleh, tatapan sendu gadis itu membuat Angkasa semakin merasa bersalah. Perlahan Angkasa membuka kembali masker yang sudah Esta pakai, ia terkejut saat ternyata pipi gadis itu membengkak, ia baru menyadarinya.


"Pipi kamu.." Ucapannya terhenti saat ia hendak menyentuh pipi Esta tapi gadis itu menepisnya dan memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Angkasa semakin di dera rasa bersalah dan penyesalan. Apalagi ketika Esta kembali memakai maskernya, mungkin gadis itu tak mau orang rumah tahu kondisinya.


__ADS_2