MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
KABAR DUKA


__ADS_3

Sudah nyaris satu jam Langit mondar mandir di depan ruang operasi. Menanti kabar baik dari dokter yang tengah menangani Jingga di dalam sana. Pendarahan yang cukup banyak membuat Jingga harus di operasi, padahal kehamilannya baru saja menginjak usia Enam bulan.


Perasaan pria itu tak menentu, campur aduk seperti gado-gado. Ada rasa menyesal, cemas, takut juga rasa bersalah. Sulit untuk menggambarkan bagaimana takutnya ia saat ini, karena dirinya, Jingga mengalami pendarahan hebat. Karena teriakannya, Jingga mengalami syok berat dan terjatuh dari tangga.


Pak Lim dan bu Rika yang berdiri tak jauh darinya hanya bisa diam menunduk. Mereka tak berani bersuara, sekedar untuk menenangkan atau menguatkan pun tidak. Titik fokus mereka sama, Jingga.


Lampu di atas pintu ruangan padam, membuat Langit segera mendekat ke arah pintu menunggu dokter atau perawat keluar dari dalam sana. Tak berselang lama, dokter keluar.


“Dok, bagaimana keadaan istri dan anak saya?” Tanya Langit dengan cemas, suaranya terdengar parau menahan tangis.


Dokter ber-name tag Irawan itu tampak 71 nafas panjang, lalu menggeleng pelan. Membuat dada Langit terasa begitu sesak.


“Apa maksudnya, dok?” Tanya pak Lim. Ia melihat Langit tak bisa lagi bicara, ia bertanya untuk meminta penjelasan mendetail dari sang dokter agar mereka tahu keadaan Jingga dan bayinya.


“Saya mohon maaf pak, untuk bayinya, saya tidak bisa menyelamatkannya. Karena terkena banyak benturan, nyonya Jingga mengalami keguguran. Pendarahannya sangat banyak, kami tidak bisa menyelamatkan bayinya. Dan bayi anda berjenis kelamin laki-laki,” jelas sang dokter.


Bak tersambar petir, Langit jatuh terduduk. Tubuhnya lemas, kedua kakinya tak dapat menopang beban tubuhnya sendiri. Pria itu menatap kosong ke sembarang arah, air matanya mengalir begitu saja. Ingin berteriak namun ia tak cukup mampu mengeluarkan suara, waktu terasa berhenti, telinganya berdengung, kepalanya terasa berat, dengan sisa- sisa tenaga yang ia punya, Langit memukul-mukul dadanya sendiri, berharap rasa sesak itu sedikit berkurang.


Pak Lim berjongkok, berusaha membangunkan Langit namun pria itu menolak. Langit benar-benar menyesal. Menyesal kenapa ia bisa melupakan keberadaan calon bayinya, ia melupakan kata-kata dokter bahwa Jingga tak boleh terlalu tertekan. Bahkan ia tak perduli saat beberapa kali pak Lim mengabarinya bahwa Jingga jatuh sakit. Langit dengan sengaja mengacuhkan perempuan itu.


"Dokter, nyonya Jingga?" tanya Bu Rika yang juga amat mencemaskan perempuan itu.


"Nyonya Jingga selamat, pasien akan segera di pindahkan ke ruang rawat. Hanya saja, pasien masih belum siuman."


"Terima kasih, dok.." Bu Rika menangis haru, setidaknya ia bisa mendengar kabar bahagia dari kabar duka yang pertama kali ia dengar. Jingga selamat, meski putranya tak dapat di selamatkan.


Mendengar Jingga selamat, Langit berusaha bangkit. Di bantu pak Lim, akhirnya ia bisa kembali berdiri. Ia harus kuat untuk menguatkan Jingga yang sudah pasti terpukul atas perginya calon bayi mereka. Ia juga harus meminta maaf pada perempuan itu, meski kemungkinan kecil kesalahannya bisa di maafkan.


Menunggu beberapa saat, akhirnya Jingga keluar. Perempuan itu berbaring tak sadarkan diri, wajah cantiknya tampak pucat, pancaran kehidupan yang semula menghiasi wajahnya kini tampak meredup.


Tatapan Langit tertuju pada perut Jingga yang sudah rata. Rasa bersalah kembali menghantam relungnya, dadanya kembali sesak, air matanya semakin deras mengalir, menggambarkan betapa ia begitu menyesal atas semua perbuatannya.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, sebesar apapun ia menebus kesalahannya, bayi mereka tak akan bisa kembali lagi. Lalu bagaimana caranya ia menghadapi Jingga?

__ADS_1


***


Dua jam sejak Jingga di pindahkan ke ruang rawat, perempuan itu masih juga belum sadarkan diri. Membuat Langit semakin cemas dan beberapa kali menghubungi dokter dan bertanya tentang keadaan sang istri. Namun kata-kata dokter yang mengatakan Jingga masih dalam pengaruh obat bius tak juga mampu menenangkan hatinya.


Langit tampak semakin gelisah, di tengah kegelisahan itu, Hardi, Yaya dan Mega datang dan menghampirinya. Alex tampak mengikuti dari belakang. Mereka lalu memasuki ruangan Jingga bersama-sama.


"Nak, apa yang terjadi?" tanya Hardi dengan raut wajah cemasnya.


"Maafkan aku ayah, aku tidak bisa menjaga istriku. Jingga, Jingga keguguran.." lirih Langit, suaranya nyaris tak terdengar, terdengar begitu lirih dan menyedihkan.


Semua orang tentu terkejut. Karena Alex hanya mengatakan Jingga di rawat di rumah sakit, pria itu tak mengatakan keadaan Jingga yang sebenarnya juga penyebab Jingga di rawat disana.


"Keguguran?" ulang Mega, "Mana mungkin, tadi dia baik-baik saja. Dia bahkan mengatakan dia sangat bahagia, apa sebenarnya yang kamu sembunyikan?" sentak Mega, karena sesungguhnya, ia sudah curiga dengan keadaan rumah tangga sang adik.


Melihat emosi istrinya meluap, Alex segera menenangkan. "Sayang, tenanglah.."


"Mas, apa kamu juga tahu sesuatu?" todong Mega.


"Jawab, mas!" tegas Mega dengan tatapan tajam.


Alex hanya bisa diam, tentu ia tahu, tapi mana mungkin ia mengatakan semuanya pada Mega.


"Kamu keterlaluan, mas!"


"Sayang.."


Mega memalingkan wajahnya, kembali menatap Langit yang tampak menunduk.


Perdebatan mereka terhenti saat terdengar suara rintihan dari Jingga.


perhatian mereka teralihkan dan terfokus pada Jingga.


"Sayang.." Langit menggenggam tangan Jingga dengan sangat berhati-hati, lalu mengecup kening perempuan itu dengan lembut.

__ADS_1


Perlahan Jingga membuka mata, tangannya pun perlahan mulai bergerak membalas genggaman tangan Langit.


"Sakit.." lirihnya nyaris tak terdengar.


"Mana yang sakit, sayang?" tanya Langit dengan cemas.


Jingga tak menjawab, ia melepas genggaman tangannya dari Langit, lalu perlahan terangkat mengusap perutnya. Ada yang berbeda, Jingga masih berusaha mengumpulkan kesadarannya dan mengingat-ingat apa yang terasa berbeda?


Sampai beberapa detik kemudian, "Anakku, mana anakku?"


Semua orang diam, tak ada yang mampu menjawab. Jingga lalu menoleh menatap Langit, tatapan penuh tanya dan menuntut penjelasan.


"Mas.." lirih Jingga.


"Sayang, anak kita, kamu.." Jeda, Langit tak dapat meneruskan kalimatnya.


"Anak kita apa mas?"


"Maaf, maaf, maafkan aku.."


Kata maaf itu membuat Jingga menyadari sesuatu, ia lalu berusaha mengingat kembali kejadian yang membuatnya berakhir terbaring di ranjang pesakitan itu. Air matanya tiba-tiba mengalir, ia menatap Langit dengan tatapan tajam, "Katakan apa yang terjadi dengan anakku!" ucap Jingga, meski suara perempuan itu masih terdengar lemah, tapi ketegasan jelas tergambar di raut wajahnya yang masih memucat.


"Anak kita sudah tiada, sayang. Maafkan aku.."


Jingga menggeleng beberapa kali, ia tak percaya dengan ucapan pria itu. Tapi rasa sakit di bagian perutnya nyata terasa, dan satu hal lagi, perutnya sudah rata.


"Aaakkhhh..." pekik Jingga, ia berteriak lalu menangis sekencang-kencangnya. Membuat semua orang panik karena rembesan darah terlihat membasahi selimut putih yang membalut tubuh perempuan itu.


Langit segera menekan tombol emergency, ia berusaha menenangkan Jingga yang masih histeris.


"Sayang, tenanglah. Aku mohon tenanglah.."


"Pergiiii!! Menjauh dariku! Aku membencimu! Pergiiiii.."

__ADS_1


__ADS_2