MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
JANGAN LAGI!


__ADS_3

"Kenapa kopinya dingin?" Tanya Angkasa, pria itu menatap pacar pura-puranya dengan penuh selidik. "Sejak kapan kamu ada di roof top?" Tanyanya lagi.


Esta gugup bukan main, harus jawab apa? Masa iya ia harus jujur bahwa ia berada disana sejak tadi dan menguping pembicaraan Angkasa dan Bintang. "Emmm itu.."


Angkasa semakin curiga, gerak gerik Esta benar-benar membuatnya ingin terus bertanya.


"Sa, aku turun duluan deh," kata Bintang. Sekilas ia menatap Esta, lalu pergi setelah Angkasa mengangguk.


"Saya juga mau turun ya pak, pekerjaan saya lagi banyak-banyaknya." Esta hendak berbalik, tapi Angkasa menarik tangannya. Tubuh yang tak siap dan keseimbangan yang minim membuat Esta oleng lalu jatuh terduduk tepat di pangkuan Angkasa.


Tatapan mereka bertemu, baik Angkasa mau pun Esta sama-sama terbengong. Jika Angkasa terbengong karena terkejut, tak menyangka gadis itu akan terjatuh di pangkuannya. Posisi yang membahayakan untuk si Imron di bawah sana. Sedangkan Esta, gadis itu terbengong mengagumi ciptaan Tuhan di hadapannya.


Tanpa sadar gadis itu memuji Angkasa dalam hati, benar-benar pahatan sempurna. Hidung yang mancung, bibir yang sedikit tebal kemerahan karena pria itu bukan seorang perokok, lalu alis yang tebal, rahang yang tegas, mata yang tajam bak mata elang, juga bulu mata yang lentik membuat tangan Esta tanpa sadar bergerak lalu menarik bulu lentik itu.


"Astaga, sakit kentut!" Angkasa sontak menyingkirkan tangan Esta dari bulu matanya, lalu melepaskan Esta dan membiarkan gadis itu bermanuver bebas jatuh ke lantai.


BUG, suara tubuh Esta. "Aw, pinggang akuuuu," pekik gadis itu.

__ADS_1


"Rasain Lo! Siapa suruh narik-narik bulu mata gue!" Angkasa kesal, kata gue elo keluar begitu saja dari mulutnya, mengesampingkan bahasa formal yang sering ia gunakan ketika berada di lingkungan kantor.


Esta bangun, mengusap pinggang dan bok*ngnya. "Saya juga sakit pak, bapak yang sakit cuma sekitar bulu mata aja, lah saya sekujur tubuh!"


"Lebbay kamu!"


"His, dasar bapak-bapak gagal move on!" gumam Esta.


Tentu saja Angkasa mendengar, ia kini yakin bahwa Esta memang sudah lama berada di roof top dan menguping pembicaraannya dengan Bintang. "Kamu menguping pembicaraan saya tadi?" tanya Angkasa penuh selidik.


Melihat gelagat Esta, Angkasa menghela nafas panjang. Tatapan tajam ia arahkan pada gadis mungil itu, membuat Esta menunduk takut dan mulai pasrah pada nasibnya di tangan si raja Soang.


"Ma-maafkan saya pak. Saya gak sengaja nguping. Awalnya saya juga mau balik lagi, tapi saya penasaran pak. Maaf.." Esta pasrah, Angkasa pasti akan menghukumnya, atau yang paling parah pria itu pasti mengamuk padanya lalu memecatnya.


Namun di luar prediksi, alih-alih marah, pria itu justru meminta Esta duduk di hadapannya. "Duduklah!"


Ragu-ragu Esta duduk, lebih baik ia menurut dari pada Angkasa bertambah kesal padanya.

__ADS_1


"Mungkin kamu sudah dengar semuanya, itulah alasan saya meminta kamu menjadi pacar saya. Saya ingin menyatukan Bulan dan Bintang, saya ingin melihat mereka bahagia tanpa harus merasa bersalah pada saya. Saya gak mau menjadi penghalang mereka lagi, mereka sudah cukup sakit hati karena berpisah lama, kali ini enggak! Mereka harus bersatu," jelas Angkasa.


Esta semakin di buat kagum, ternyata Angkasa memang sebaik dan setulus itu. Meski terkadang sangat menyebalkan, setidaknya Esta punya alasan yang berarti dengan menerima tawaran pria itu untuk menjadi pacar pura-puranya.


"Anda sangat baik, pak. Saya doakan, semoga suatu saat nanti anda menemukan gadis yang baik juga. Dan saya ikhlas bantu bapak," ucap Esta dengan tulus.


"Ikhlas?" tanya Angkasa dengan sebelah alis terangkat. "Kalau gitu gaji dua bulan kamu kembaliin aja kalau kamu ikhlas bantu saya."


Esta gelagapan, "Ya ya gak gitu juga konsepnya pak."


Angkasa tertawa, tangannya terulur lalu mencubit pipi Esta dengan gemas. Alih-alih merasa sakit dan mengomel, Esta justru terpaku. Pandangannya terpusat pada Angkasa, seolah dunianya hanya ada Angkasa. Besarnya angin berhembus tak membuat Esta mengalihkan pandangan juga tak membuat kedua mata gadis itu berkedip perih. Entah apa yang Angkasa bicarakan selanjutnya, Esta seolah tak mendengarnya, ia hanya menatap bibir Angkasa yang bergerak-gerak tanda pria itu tengah bicara.


"Esta, woy! Kok malah bengong?" Angkasa menepuk-nepuk pelan pipi Esta, membuat gadis itu mengerjap lalu tersadar. "Di ajak ngomong malah bengong."


"Maaf pak," Esta menyentuh perutnya yang mendadak bergejolak. Entah mengapa, setiap ia gugup di hadapan Angkasa, perutnya berulah. Sesuatu dalam perutnya seakan mendesak untuk mengeluarkan sesuatu. Padahal wajah pria itu sangat tampan, tak ada tampang-tampang toilet umum.


Mengenali gelagat itu, Angkasa berkata, "Astaga, jangan lagi.."

__ADS_1


__ADS_2