MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
PENYERAHAN


__ADS_3

Jingga tengah berada di kamarnya saat pintu kamar terdengar di ketuk. Helaan nafas dalam berhembus dari bibirnya, lalu ia beranjak untuk membuka pintu.


"Selamat malam, sa.."


"Mas.." potong Jingga. "Kesepakatan kita sudah di mulai, biasakan memanggilku dengan sebutan namaku saja."


Langit tersenyum miris, kemudian mengangguk. "Maaf, apa kamu bisa ikut aku ke bawah?"


Jingga diam sejenak, kemudian mengangguk. Ia menutup pintu kamar lalu mengikuti langkah Langit ke lantai bawah. Ternyata disana sudah ada pak Lim, Bu Rika dan seorang pria paruh baya yang baru kali ini ia lihat.


"Duduklah," pinta Langit.


Jingga kembali mengangguk, meski bingung Jingga tak bertanya.


"Jingga, ini pak Gilbert, dia pengacara pribadiku.." Langit memperkenalkan tamunya.


"Selamat malam pak Gilbert, saya Jingga.." Jingga juga memperkenalkan diri.


"Selamat malam nyonya Jingga, senang bertemu dengan anda.."


"Terima kasih," ucap Jingga seraya tersenyum. Ia lalu menatap Langit, tatapan yang mengisyaratkan banyak pertanyaan.


Langit yang mengerti arti tatapan itu berkata, "Jingga, aku sengaja mengundang pengacaraku karena ada hal penting yang mau aku bicarakan.."


"Tentang?" tanya Jingga.

__ADS_1


"Perusahaan dan rumah ini.."


Jingga mengerutkan dahinya, apa hubungannya rumah dan perusahaan dengannya? Begitu lah kira-kira pertanyaan yang berputar dalam benaknya.


"Maksud kamu?" tanya Jingga. Berpikir sendiri tak menemukan jawabannya.


Langit tak menjawab, ia justru menoleh pada Gilbert. Pria paruh baya itu mengangguk lalu mengeluarkan beberapa berkas ke hadapan Jingga.


"Itu adalah berkas-berkas kepemilikan rumah dan perusahaan juga beberapa aset peninggalan papa. Semuanya sudah aku rubah atas namamu, Jingga. Aku merasa tidak berhak menyimpannya, kamu lah putri kandung papa Banyu, jadi aku sudah mengurus pengalihan semua aset atas nama mu.." jelas Langit.


Jingga sungguh terkejut. Sejauh ini, ia tak pernah memikirkan hal itu. "Kenapa kamu melakukannya?" Tanya Jingga, tatapan perempuan itu semakin dingin.


"Karena itu memang hak mu, Jingga. Aku merasa harus melakukan ini," jelas Langit lagi.


Jingga menggelengkan kepalanya, "Maaf, tapi aku tidak menginginkannya!"


"Cukup mas, kalau kamu berpikir melakukan hal ini bisa mengubah keadaan kita, kamu salah. Aku tidak menginginkan semua itu!"


Setelah mengatakan hal itu, Jingga beranjak bersiap untuk pergi, "Pak Gilbert, maaf aku tidak bisa menerimanya. Berikan itu pada seseorang yang sudah mengurusnya selama ini," Jingga benar-benar tak habis pikir pada suaminya. Mungkin Langit berpikir dirinya akan luluh dengan sogokan harta, tapi tidak. Yang dia inginkan putranya, bukan harta. Semua harta yang Langit berikan padanya tidak akan mampu mengembalikan putranya yang telah tiada.


"Jingga, tunggu. Dengarkan aku dulu, jangan salah faham.."


Langit berusaha mengejar Jingga, meninggalkan pak Gilbert, pak Lim dan Bu Rika yang kini tampak bingung. Mereka tahu keadaan rumah tangga Langit dan Jingga tak baik-baik saja, tapi mereka tak bisa berbuat banyak untuk membantu mereka.


"Jingga, aku mohon dengarkan penjelasanku.." Langit meraih lengan Jingga, membuat Jingga berhenti melangkah lalu menghempaskan tangan Langit dengan kasar. "Aku mohon, dengarkan aku dulu Jingga.."

__ADS_1


Dengan mata memerah menahan air mata, Jingga menatap Langit. "Apa?" tanyanya. Entah mengapa, semua yang Langit lakukan selalu mengingatkannya pada putranya, dan rasanya sungguh menyakitkan.


Tinggal satu atap dengan pria yang menorehkan luka dalam dan membuatnya kecewa sangat menyiksanya, lebih tersiksa lagi karena pria itu juga ia cintai.


"Aku melakukan itu bukan untuk membujuk mu atau apa lah itu. Aku melakukan itu karena itu memang hak mu, Jingga. Papa Banyu adalah papa kandungmu, kamu yang lebih berhak memiliki semuanya. Tolong terima lah, agar aku bisa sedikit mengurangi beban rasa bersalah yang membuat aku tersiksa. Aku mohon.."


Jingga memalingkan muka saat Langit mulai meneteskan air mata. Sebenci-bencinya ia pada Langit, sekecewa-kecewanya ia pada pria itu, nyatanya rasa cinta membuatnya tak tega melihat pria itu menangis.


"Baiklah, aku akan menerimanya.." ucap Jingga tanpa menatap Langit.


Langit tersenyum, ia menghapus air matanya dan kembali mengajak Jingga menghampiri pak Gilbert untuk penandatanganan berkas.


***


Malam ini begitu indah, bulan sabit menghiasi langit, bintang bertaburan membuat langit malam itu terlihat benderang.


Tapi sayang, keindahan itu tak sama dengan hati Mega. Perempuan yang tengah mengandung tujuh bulan itu tengah menangis di balkon kamarnya. Sesekali ia melihat ke atas, berharap dapat melihat suaminya di balkon kamar atas. Tapi sayang, sejak makan siang kacau tadi pria itu tak juga kunjung pulang.


Kacau? Ya, Alex melempar semua makanan yang sudah Mega siapkan untuknya. Membuat makanan itu jatuh berserakan bercampur dengan pecahan-pecahan piring juga gelas.


Alex kesal karena Mega terus memaksanya makan. Pria itu terbakar emosi saat ponsel Mega berdering, tanpa sengaja ia melihat nama Allo lah yang terpampang di layar benda pipih itu.


Bahkan saat Mega ketakutan pun Alex tak berusaha minta maaf dan menenangkannya. Baru saat itu Mega melihat kemarahan Alex. Kemarahan yang membuat mata pria itu memerah.


"Apa aku harus menyerah?" lirihnya seraya terisak. Ia usap perut buncitnya, tendangan dan pergerakan dari dalam sana kembali membuatnya kuat. Ia tak boleh menyerah, cintanya pada Alex begitu besar, harapan hidup bahagia dengan pria itu harus ia perjuangkan.

__ADS_1


"Tidak, mas. Aku tidak akan menyerah begitu saja.."


__ADS_2