
"Loh, nak Alex? Tadi Mega juga kesini," ucap ibu.
Alex mengerutkan dahinya, jadi ia terlambat? Baru saja ia hendak bertanya, tapi ucapan ibu sudah menjawab semuanya.
"Kapan Mega pulang Bu?" Tanya Alex.
"Sekitar sepuluh menit yang lalu, nak. Apa dia tidak menghubungimu?"
Alex menggeleng, "Mungkin dia kira aku masih di kantor, Bu. Kalau begitu, aku pamit.."
Ibu mengangguk, mengulurkan tangan saat Alex melakukan hal yang sama.
"Hati-hati, nak.."
Alex hanya mengangguk sebagai jawaban, ia harus mencari Mega, barang kali perempuan itu belum pergi jauh meski hatinya tak yakin.
"Kamu dimana sayang?" lirihnya seraya terus melihat ke sekeliling jalan yang ia lalui. Ia semakin takut, takut jika ia tak bisa menemukan perempuan itu lagi.
Alex memang salah, ingin memberi pelajaran pada Mega dengan cara membuat perempuan itu cemburu. Tanpa ia sadari, ia justru melukai Mega.
Di sisi lain, perempuan berperut buncit tengah menangis di salah satu gang tak jauh dari rumahnya. Ia tengah bersembunyi saat menyadari sebuah mobil yang sangat ia kenali melintasinya.
Sebelah tangannya menyentuh perut buncitnya, dari dalam sana sang jabang bayi menendang. Mungkin merasakan kehadiran pria yang selama ini menyayanginya.
"Tenang lah nak, mama disini.." lirih Mega seraya terisak.
Jika saja ia tak menahan diri, mungkin saat ini ia sudah berlari mengejar Alex. Tapi tidak, ia tak boleh egois dengan terus menahan ikatan di antara mereka. Mega masih menganggap Alex akan bahagia dan lebih baik tanpanya.
Ia tak tahu betapa Alex kalang kabut mencarinya, betapa pria itu tengah ketakutan kehilangan dirinya. Dan semua usaha Alex untuk menjaga nama baik Mega sia-sia sudah.
Awalnya, Alex memang marah pada Mega saat perempuan itu bertemu dengan Allo secara sembunyi-sembunyi. Semakin marah saat ia melihat video syur antara Mega dan Allo. Ia cemburu, sangat cemburu. Tapi kemudian Alex menyadari satu hal, cintanya pada Mega sudah terlalu dalam, hingga rasa kecewanya tertutup oleh rasa cinta.
Alex hanya ingin sedikit membalas rasa cemburunya, tanpa berfikir bahwa Mega akan menyerah dan meninggalkannya.
***
__ADS_1
Jingga menghela nafas panjang beberapa kali sebelum akhirnya tangannya terayun untuk mengetuk pintu ruang kerja Langit.
Malam ini Jingga akan mulai belajar mengenai perusahaan. Langit yang mengajaknya mulai belajar dari malam ini, agar hari esok saat penyerahan jabatan Jingga sudah sedikit mengetahui tentang perusahaan.
Meski beberapa pemegang saham tak begitu setuju dengan pengunduran Langit, tapi keputusan akhir tetap pada Langit sebagai pemegang saham tertinggi dan CEO LaGroup.
Apalagi Jingga tak mengerti apapun tentang perusahaan, kuliah saja Jingga tak selesai, bagaimana bisa Jingga memimpin perusahaan besar. Begitu lah kira-kira bentuk protes dari beberapa petinggi perusahaan.
Tapi Langit berhasil meyakinkan mereka, lagi pula, dengan atau tanpa persetujuan mereka, Langit tetap akan memberikan jabatan itu pada Jingga.
Langit tak akan lepas tangan begitu saja, ia akan terus mengawasi perusahaan dan mengiringi langkah Jingga dalam memimpin perusahaan. Selain ingin selalu dekat dengan Jingga, ia juga tak mungkin mempermalukan Jingga dengan ketidakmampuan perempuan itu dalam memimpin LaGroup.
"Masuk.."
Terdengar sahutan dari Langit sesaat setelah Jingga mengetuk daun pintu bercat putih di hadapannya.
Sekali lagi Jingga menghela nafas panjang, kemudian perlahan menekan handle pintu lalu memasuki ruangan dengan langkah ragu. Tampak Langit tersenyum padanya, namun Jingga berusaha bersikap biasa saja meski ia mulai tak nyaman dengan debaran di jantungnya.
"Duduklah.." ucap Langit. Pria itu mulai melepas topeng di wajah tuanya.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin melepasnya. Tidak apa-apa kan?" tanya balik Langit.
Jingga menelan ludahnya dengan gusar, lalu mengangguk mengiyakan. Sebisa mungkin Jingga menyembunyikan kegugupannya, entah mengapa melihat wajah tampan Langit jantungnya semakin mengamuk.
Langit mengambil beberapa berkas dari laci, kemudian beranjak dari kursi kebesarannya lalu mengajak Jingga duduk di sofa.
"Kemari lah, kita bahas ini di sofa.."
Jingga mengangguk, ia duduk di seberang sofa yang Langit duduki.
Melihat itu, Langit berdecak, pria itu terlihat kesal. Padahal hatinya tengah menari bahagia karena sekali lagi ia bisa dekat dengan Jingga.
"Ck, kemari lah Jingga. Aku tidak akan memakan mu, aku hanya ingin mengajarimu."
Jingga mendengus kesal, ia memalingkan wajah menahan malu. Mendengar kata MEMAKAN MU, entah mengapa ingatannya menjadi nakal. Melanglang buana ke saat-saat mereka bersama dan menghabiskan malam panas mereka.
__ADS_1
"Jingga, ayolah.." ucap Langit dengan lembut, sangat lembut hingga terdengar seperti alunan melodi slow yang mendayu-dayu.
Jingga berdehem, ia akhirnya beranjak dan duduk di sofa yang sama dengan Langit. Tapi jangan lupa, Jingga menjaga jarak. Tak tanggung-tanggung, Jingga duduk di ujung sofa.
"Astaga, Jingga. Aku benar-benar hanya ingin mengajarimu, jika kamu duduk sejauh itu, bagaimana aku menjelaskan semua isi berkas ini? Besok kamu akan resmi menjadi CEO, kamu harus sudah siap secara materi dan mental..bla bla bla.." masih banyak lagi yang Langit ucapkan. Pria itu menjadi sangat cerewet.
"Stop, mas! Iya aku pindah, jangan mengomel lagi. Aku sedikit pusing mendengarnya.." tanpa sadar Jingga merengek. Membuat Langit sejenak terdiam dan terkesima. Tapi kemudian tersadar saat Jingga bergeser dan duduk di sebelahnya.
Langit berdehem, lalu mengambil satu berkas yang sebelumnya ia tumpuk di atas meja. Ia mulai mengajari Jingga.
"Aku masih belum mengerti," ucap Jingga setelah beberapa saat Langit mengajarinya.
"Kamu tenang saja, Jingga. Untuk besok, kamu hanya perlu menyiapkan diri kamu dan mental kamu. Aku juga tidak akan melepaskan kamu begitu saja, kamu tinggal memilih, ingin aku yang mendampingimu, atau pak Lim. Pak Lim juga sangat hebat, dia tahu seluk beluk perusahaan karena dalam waktu lama dia ikut papa. Terserah padamu, kalau kamu ingin pak Lim yang mendampingimu, aku akan menghubunginya sekarang juga," terang Langit. Padahal hatinya ketar ketir setelah mengatakan kalimat itu.
Langit bahkan terus merafalkan doa-doa yang ia bisa, agar Jingga menolak pak Lim dan tetap memilihnya. Bahkan doa makan dan tidur ia baca, entahlah, otaknya mulai tak waras, ia takut Jingga justru memilih pak Lim.
"Bagaimana?" tanya Langit lagi saat Jingga hanya diam, sepertinya perempuan itu tengah berfikir.
"Mas, aku.."
"Aku?"
Jingga kembali diam, ia menatap Langit. terlihat jelas pria itu sangat berharap ingin Jingga memilihnya. Bahkan kedua matanya terlihat sangat imut dan berbinar.
"Jingga.." panggil Langit lagi, ia mulai tak percaya diri.
"Emmmm..."
"Emmmmm??"
Langit kembali merafalkan doa-doa, kali ini ia membaca doa selamat dan doa sesudah makan. Lalu Langit memohon pada Tuhan agar Jingga memilihnya.
Maaf mak baru up. Mak sibuk jualan panci soalnyaš¤£š¤£
Jan marah Loh ya, yang marah tak cubit-cubit keteknyaš„“š
__ADS_1