
“Apa mau mu? Aku tidak punya banyak waktu, cepat katakan!”
Mega duduk dengan gusar, ia menatap ke sekeliling café yang tampak sepi, mungkin Allo sengaja menyewa tempat itu untuk pertemuan mereka.
Allo menyeringai, ia duduk menyandarkan dirinya pada sandaran kursi, tatapannya terarah pada perut Mega yang tampak membuncit. Mega yang menyadari itu segera menutupi perutnya dengan tas yang semula ia simpan di atas meja.
“Tidak usah di tutupi, aku justru sangat ingin menjenguknya. Bagaimana kabar anakku?”
Mega membulatkan matanya, bibirnya terkatup rapat menahan kesal, tangannya terkepal kuat, seolah siap untuk memberikan bogem mentah pada pria di hadapannya. “Jangan bicara sembarangan Allo!”
“Sembarangan? Apa maksudmu sembarangan? Itu kenyataannya bukan? Apa aku harus memutar video malam panas kita?”
Mendengar kalimat itu, tentu Mega sangat terkejut. Wajahnya bahkan tampak pucat pasi, “Apa maksudmu Allo?”
Allo tak menjawab, ia merogoh ponsel dari saku kemeja yang ia kenakan, lalu menyalakan benda pipih itu, “Lihatlah..” ucapnya dengan santai. Benda pipih itu memutar sebuah video, video yang menampakkan dua orang tengah melakukan adegan panas penuh gairah.
Mega menggeleng takut, matanya bahkan tampak berkaca-kaca, “Brengsek! Hapus video itu Allo!” sentak Mega tanpa sadar. Bagaimana tidak, ia tak menyangka Allo setega itu merekam kegiatan mereka beberapa bulan lalu. Saat dengan bodohnya Mega menyerahkan kehormatannya karena rayuan pria itu. Di iming-imingi dengan kedudukan tinggi di perusahaan, Mega yang memang terobsesi dengan karier begitu mudah menyerahkan kehormatannya pada Allo. Sampai ketika Allo memecatnya dengan tidak hormat, Mega baru menyadari bahwa Allo membodohinya.
Dari perbuatan kotor itu, akhirnya Mega di nyatakan mengandung dua minggu setelahnya. Ia yang saat itu berputus asa, rela melakukan apapun untuk menjaga nama baiknya juga nama baik kedua orang tuanya. Termasuk percobaan menggugurkan kandungan, namun sayang, janin dalam kandungannya sangat kuat, seolah tak mau pergi dan tetap tumbuh sehat dalam rahimnya.
Sampai ketika Alex datang mengantar Hardi, lagi-lagi Mega rela melakukan apapun untuk menyelamatkan nama baiknya, ia menjebak Alex dengan memberikan pria itu minuman yang sudah ia campur dengan serbuk obat tidur. Saat Alex terlelap lah Mega melakukan aksinya, membuka ikat pinggang juga resleting celana Alex. Seolah terjadi sesuatu di antara dirinya dan Alex yang tak tahu apa-apa.
“Kenapa aku harus menghapusnya? Ini kenangan indah yang harus aku abadikan. Ini bukti cintamu padaku Mega. Ah, tidak tidak, ini adalah bukti obsesimu dan jiwa matremu.”
“Hentikan Allo!” Sentak Mega lagi, “Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Tidak puas kah kamu menghancurkan hidupku? Apalagi yang kamu inginkan dariku?”
“Anak itu, anakku yang aku inginkan!” Tegas Allo, “Atau aku akan menyebarkan video ini di social media. Bayangkan apa yang akan terjadi jika suami bodohmu itu mengetahui semuanya, kemarahan seperti apa yang akan kamu dapatkan darinya? Pilihan ada padamu Mega,” ucap Alex dengan tenang. Pria itu menyalakan sebatang rokok yang ia bawa, lalu menumpuk sebelah kakinya dengan kakinya yang lain, sungguh Mega muak melihatnya.
__ADS_1
Mega tak dapat lagi menahan air matanya. Ketakutan menguasai dirinya, selain takut kehilangan Alex, ia juga takut hidupnya hancur karena video itu. Tapi untuk kehilangan anaknya, ia lebih takut lagi. Awalnya ia memang tak menginginkan kehadiran janinnya, tapi ketika ia merasakan pergerakan dari dalam sana, ada rasa takjub yang tak dapat ia ungkapkan. Ada rasa haru, rasa bahagia juga rasa menyayangi yang tiba-tiba saja muncul dan kian hari kian bertambah besar.
“Kenapa sekarang? Kenapa baru sekarang kamu menginginkannya Allo? Kemana kamu saat aku meminta pertanggung jawaban? Kamu bahkan mengusirku dan mempermalukanku. Dan sekarang, setelah aku bahagia, kenapa kamu datang untuk merebutnya. Setelah kehormatanku yang kamu rebut, apa kamu juga akan tega merebut anakku dan kebahagianku?”
Tidak ada teriakan dalam kalimatnya, Mega justru tampak memohon dengan suara lirih dan menyayat. Ia masih ingat betul apa yang ia dapatkan saat ia datang untuk meminta pertanggung jawaban dari Allo, bukan hanya di usir dan di keluarkan dari perusahaan dengan tidak hormat, Allo juga mempermalukannya di hadapan semua orang kantor. Pria itu mengatakan Mega menjual diri dan merayunya.
Mega jadi bahan pergunjingan, jadi bahan olokkan juga di lempari dengan gulungan kertas bekas. Sakit, malu, menyesal, sedih, putus asa, semua rasa itu bercampur aduk menjadi satu. Membuat Mega nyaris mengakhiri hidupnya sendiri.
“Katakan Allo, kenapa harus sekarang kamu menginginkan anak ini? Tolong, aku mohon padamu, biarkan aku hidup bahagia bersama anakku dan suamiku. Jangan hancurkan lagi, aku mohon..” lirihnya seraya terisak.
“Aku tidak menerima penawaran apalagi permohonan cuma-cuma. Bagiku, ada harga mahal dari setiap keputusan yang akan aku ambil.”
“Apa maksudmu?”
“Temani aku malam ini, maka akan aku bebaskan kamu dan anak itu. Aku merindukan rintihanmu itu sayang..”
Mega menelan ludahnya dengan susah payah, haruskah ia mengulangi kebodohannya dulu?
***
Langit menatap amplop berwarna coklat yang tadi Jingga berikan padanya. Malam sudah sangat larut, tapi ia masih tak bisa terlelap. Selain karena memikirkan perpisahannya dengan sang istri, Langit tak bisa tidur karena ia juga tengah demam.
Betapa tidak, ia berada di makam putranya cukup lama di tengah hujan yang terus mengguyur tanpa henti. Ia pun pulang karena tubuhnya menggigil kedinginan. Dan akhirnya Langit demam.
Pikirannya sembrawut tak karuan, seperti benang kusut yang tidak tahu ujungnya dimana.
ia sudah sangat bahagia karena Jingga mau menemuinya setelah sekian lama ia tak melihat perempuan itu, tapi ternyata Jingga mau menemuinya untuk memberikan surat dari pengadilan.
__ADS_1
Harapannya sirna, semangatnya pupus. Sepertinya ia memang tak mempunyai kesempatan lagi kecuali ada keajaiban Tuhan yang membolak balikkan hati Jingga.
"Aku sangat mencintaimu, Jingga. Inikah hukuman yang harus aku bayar untuk semua perbuatan ku padamu, jika iya, baiklah. Aku akan melepaskanmu demi mendapat maaf darimu.." lirihnya.
Langit membaringkan tubuhnya, suhu panas tubuh pria itu membuat wajahnya memerah. Ia tutup matanya dengan sebelah lengan, sebelah tangannya yang lain memeluk figura foto pernikahannya dan Jingga. Air mata yang meleleh membasahi pipinya bahkan terasa hangat, "Aku merindukanmu.." lirihnya sebelum akhirnya ia menutup mata.
Sementara itu..
PRANG
Suara benda pecah membuat ibu yang baru saja hendak berbaring kembali duduk tegak. Ia menoleh pada ayah yang sudah tidur lelap, tak ingin mengganggu istirahat sang suami, ibu memilih bangun sendiri.
"Jingga? Kenapa nak?" Tanya ibu saat ia melihat Jingga tengah terbengong menatap pecahan gelas yang berserakan di hadapannya.
Jingga menggeleng, "Aku tidak tahu Bu, tiba-tiba gelas yang aku pegang terjatuh," jawabnya.
Ibu mengerutkan dahinya, lalu menghampiri Jingga dan menuntun putrinya itu untuk duduk di kursi meja makan, "Duduklah, ibu akan mengambilkan air minum untukmu.."
Jingga menurut, ia masih menatap pecahan gelas yang berserakan di lantai dengan tatapan kosong. Ia juga tak mengerti, entah mengapa gelas itu terjatuh dari genggamannya.
Tak berselang lama, ibu kembali menghampiri Jingga, memberikan segelas air putih agar Jingga sedikit membaik.
"Minumlah, ibu akan membereskan pecahan gelas itu. Sebaiknya kamu istirahat, nak.."
"Tidak Bu, biar aku saja yang membersihkannya.."
Ibu menggeleng, mengusap pipi halus Jingga dengan begitu lembut, "Menurut lah sayang, pergilah ke kamar dan istirahat.."
__ADS_1
Akhirnya Jingga mengangguk pasrah, perasaannya mendadak tak enak. Seperti ada sesuatu hal buruk yang sedang terjadi.
"Ada apa denganku?"