MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
GADIS ANEH


__ADS_3

"Sini saya bisikin," Angkasa menggerakkan jari telunjuknya, memberi isyarat agar Esta mendekat padanya.


Tapi gadis itu ragu, ia takut soang yang satu ini kembali mematuk. Dengan langkah pelan, Esta mendekat, kedua tangannya menangkup pipinya sendiri, mengantisipasi kalau-kalau Angkasa berulah lagi.


"PD banget, siapa juga yang mau nyium kamu?!" Ketus Angkasa.


Esta mendelik, "Cuma jaga-jaga, pak."


"Ish, lebbbbay!" Ucap Angkasa dengan medok, ia menarik baju Esta di bagian lengan, mengajak gadis itu duduk di sofa agar pembicaraan mereka lebih nyaman.


"Gaji yang akan kamu dapat adalah 10juta perbulan, asal kamu mau jadi pacar saya!"


"Hah?" Esta mengerjap, mencerna kalimat yang baru saja ia dengar. Apa kotoran di telinganya terlalu banyak? 10juta perbulan untuk menjadi seorang pacar? Apa Esta harus teriak histeris karena senang, atau justru tertawa karena penawaran konyol itu? Apa hidup orang kaya sebercanda itu? Uang seakan di jadikan mainan, Angkasa benar-benar kelebihan uang, begitu pikir Esta.


"Heh, kentut! Gimana? Mau gak? Kapan lagi punya gaji gede, kamu bisa beli sepatu sebanyak yang kamu mau, untuk ganti sepatu butut kamu itu." Angkasa menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, duduk menyilangkan kaki menatap wajah polos Esta.


Esta kembali menatap sepatunya, sepatu yang sudah sangat lama menemaninya. Rasanya ia tak rela mengganti sepatu itu dengan yang baru, tapi penawaran Angkasa bisa membayar hutang-hutang peninggalan sang ayah di kampung.


"Jangan mikir lama-lama, untuk orang sibuk sepertiku, time is money, ngerti?"


Esta mendelik, sombong sekali si Soang ini! "Kenapa harus saya?"

__ADS_1


"Karena sepertinya kamu butuh bantuan saya, terutama dalam masalah finansial. Simbiosis mutualisme, kentut! Saya butuh kamu untuk menjadi pacar pura-pura, dan kamu butuh uang saya untuk kelangsungan hidup kamu. Bener kan?"


"Pura-pura?" Ulang Esta, ia semakin tak mengerti apa maksud Angkasa. Dan entah mengapa, hatinya sedikit tercubit, "Ternyata hanya pura-pura, astaga Esta! Mikir apa sih kamu! Tentu saja pura-pura, mana mau dia sama Upik abu macam kamu!"


"Iya pura-pura, kapan lagi kamu dapet gaji gede. Ok kan?"


Esta kembali diam, gadis itu tampak berpikir, jika ia menerima tawaran Angkasa, apa ia akan di terlihat seperti gadis matre? Tapi jika tidak, memang kapan lagi ia mendapat gaji super gede?


"Heh, kentut!"


"Esta!!" ucap Esta penuh penekanan. Ia menatap Angkasa dengan tajam, tak suka dengan panggilan konyol itu. Tapi entah kenapa, mata tajam Esta justru membuat Angkasa ingin tertawa.


"Jangan melotot, saya colok nanti mata kamu itu! Jawab saja, mau atau tidak?" Angkasa mulai tak sabar, ia hendak beranjak tapi kembali duduk saat Esta menjawabnya.


Angkasa tersenyum menang, ia memberikan nomor ponselnya pada Esta lalu meminta gadis itu untuk mengirimkan nomor rekening miliknya.


TRING


Notif masuk ke ponsel Esta, gadis itu membukanya, pesan pemberitahuan dari m-banking.


"Astaga," pekiknya. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan angka yang ia lihat. Dengan polosnya Esta menghitung jajaran angka nol di layar ponselnya. Hal itu membuat Angkasa menggeleng seraya tertawa.

__ADS_1


"Du-dua puluh juta? Ini salah pak, harusnya kan sepuluh juta. Dan kita baru sepakat, saya belum melakukan tugas apa-apa kenapa bapak sudah memberikan gaji?" Esta terbata-bata, sungguh nominal yang sangat besar menurut Esta. Bahkan seumur-umur ia tak pernah memegang uang sebanyak itu, melihat pun tak pernah. Tapi sekarang isi rekeningnya penuh.


"Itu gaji untuk dua bulan, karena sekarang status kamu pacar saya, saya harus memastikan kesejahteraan pacar pura-pura saya. Uang itu bisa kamu gunakan untuk apa saja, terserah, sesuka kamu. Tapi kalau saya membutuhkan kamu kapan saja, kamu harus siap. Tidak ada alasan untuk menolak, mengerti?!"


"Ba-baik pak. Ta-tapi gak ada sosor menyosor lagi kan pak?"


Angkasa terkekeh, lalu menjawab, "Jika itu di perlukan, kamu juga harus siap. Gak ada protes!"


"Astaga, si Soang ini.." Batin Esta, ia yang tak pernah mendapat perlakuan seperti itu sebelumnya tentu risi, apalagi ia baru kenal dengan Angkasa. Esta memang gadis kampung, polos namun tak terlalu bodoh juga. Ia tahu apa yang biasa di lakukan sepasang kekasih, berbekal pengalaman yang sering ia tonton dalam drama-drama di Negeri oppa-oppa sana, ia tahu tentang adu beradu bibir, meski ia sendiri tak pernah melakukannya. Melakukan dengan siapa? Pacaran saja tak pernah, dengan kambing mungkin, karena ia hanya sering dekat dengan kambing-kambing milik pakdenya, suami Bu Retno.


Setelah melakukan kesepakatan, Esta pun pamit untuk kembali bekerja. Tak main-main, Angkasa bahkan meminta Esta menanda tangani perjanjian pacar pura-pura itu di atas materai.


Awalnya Esta hendak menolak, karena ia tak mungkin mangkir dari perjanjian, tapi kemudian ia mengerti, bahwa berurusan dengan orang kaya dan berpendidikan pasti akan sedetail dan sehati-hati itu. Apalagi Esta tahu, Angkasa bukan orang sembarangan, tak mungkin pria itu bertindak sembrono.


Yang Esta belum tahu adalah, alasan Angkasa memintanya menjadi pacar pura-pura. Apa karena ada hubungannya dengan Bulan? Apa Angkasa mempunyai perasaan pada gadis cantik itu? Atau Angkasa memang pernah ada hubungan dengan Bulan dan ingin menggunakannya sebagai alat agar Bulan cemburu? Angkasa ingin memanas-manasi gadis itu? Atau Angkasa di desak menikah oleh keluarganya tapi pria itu tak laku-laku?


"Tapi mana mungkin si Soang itu gak laku, wajah punya nilai plus, plusnya bahkan banyak. Keuangan gak di ragukan lagi, buktinya dia bisa gampang banget ngasih uang 20juta. Posisinya di LaGroup bikin cewek-cewek ngiler, terus kenapa dia bisa belum punya pacar?"


Esta terus membatin, bertanya-tanya tentang alasan pria itu memintanya menjadi pacar pura-pura. Hal itu membuatnya pusing, sampai tanpa sadar menabrak pintu yang masih tertutup.


BUG

__ADS_1


"Aw," pekik Esta seraya mengusap kening dan hidungnya. "Kenapa ini pintu ada disini? Sejak kapan pindah? Gak ada akhlak nih pintu!" Maki Esta.


Membuat Angkasa tertawa terbahak-bahak menertawakan kebodohan gadis itu. Apalagi melihat Esta memaki pintu, Angkasa sampai heran, kok ada gadis aneh macam Esta? Kentutnya besar pula!


__ADS_2