MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
DATANG


__ADS_3

Suara burung berkicau membuat Jingga membuka jendela kamarnya. Udara pagi sangat segar, perempuan itu tersenyum dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Sejak Langit datang menemuinya, ia di landa keresahan yang sulit di jelaskan. Jingga hanya berharap, cuaca cerah pagi ini bisa membawa kecerahan juga di hidupnya.


Tapi sepertinya akan sulit, entahlah, ia tak tahu apa mau hatinya. Perempuan itu duduk di sisi jendela, memejamkan matanya merasakan kesejukan dari angin yang bertiup semilir pagi itu.


Suara ketukan di pintu kamar membuat Jingga kembali membuka matanya. Ia lalu beranjak untuk membuka pintu.


"Ibu?"


"Nak, ada Lim di depan. Ada hal penting yang mau pak Lim katakan padamu," ucap Ibu tanpa basa basi, raut wajahnya tampak cemas.


"Ada apa Bu? Ibu kenapa cemas?"


"Lebih baik kamu segera temui pak Lim," jawab ibu. Ia menggandeng tangan Jingga, membawa putrinya dan sedikit menyeretnya untuk menemui pak Lim yang tampak tengah bicara dengan ayah.


Begitu melihat Jingga, pak Lim berdiri dan membungkuk memberi hormat, "Nyonya.." sapanya.


"Pak Lim, ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Jingga, mengingat perasaannya yang tak enak sejak tadi malam, juga beberapa tanda buruk yang ia dapatkan, entah mengapa ia jadi teringat pada suaminya.


"Nyonya, Tuan di larikan ke rumah sakit. Pagi tadi, Bu Rika menemukan Tuan Langit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Saya harap, Nyonya mau ikut saya untuk melihat keadaan Tuan."


Jingga tentu terkejut, inikah alasan keresahannya? Karena ternyata suaminya dalam keadaan tak baik. Ternyata batinnya masih terpaut kuat dengan Langit, dan faktanya ia masih merasakan cinta yang sama pada pria itu. Tapi untuk kembali seperti dulu, rasanya berat.


"Saya mohon nyonya," mohon pak Lim lagi saat Jingga hanya diam saja.


"Nak, sebaiknya kamu menemuinya.." ucap ibu. "Walau bagaimana pun, dia masih suamimu yang sah. Lihatlah keadaannya, sebesar apapun rasa kecewa mu padanya, dia tetap suamimu."


Jingga menghela nafas panjang, sejujurnya ia pun mencemaskan keadaan pria itu. Maka ia pun mengangguk, "Baiklah. Tunggu sebentar pak Lim, aku akan bersiap."


Pak Lim mengangguk dan tersenyum lega. Ia yakin Jingga sangat mencintai Langit, raut kecemasan dari wajah perempuan itu tak bisa membohonginya.


"Silahkan duduk dulu pak Lim, saya buatkan teh hangat sebentar," ucap ibu. Ia hendak beranjak, tapi pak Lim melarangnya.


"Tidak usah repot-repot Nyonya."


Akhirnya ibu mengangguk, ia kembali duduk dan menanyakan keadaan menantunya. Mengajak pak Lim berbincang sembari menunggu Jingga yang tengah bersiap.


Tak berselang lama, Jingga kembali menghampiri mereka, perempuan itu sudah siap untuk pergi.

__ADS_1


"Bu, aku pergi dulu.." pamit Jingga.


"Iya nak, hati-hati. Ibu doakan semoga suamimu baik-baik saja."


Jingga mengangguk, kemudian menyalami ibu lalu pergi.


***


Menempuh perjalanan dua puluh menit, akhirnya Jingga tiba di rumah sakit yang terletak tak jauh dari rumah Langit.


Perempuan itu tak dapat lagi menyembunyikan kecemasannya. Atas arahan pak Lim, ia berjalan cepat di depan pak Lim. Sampai tiba di ruangan VVIP, ia justru ragu untuk masuk.


"Nyonya.." ucap pak Lim saat Jingga hanya diam menunduk memegang handle pintu yang tak kunjung perempuan itu buka.


"Saya mohon temui Tuan," ucap pak Lim lagi. Ia takut Jingga berubah pikiran.


Helaan nafas berat terdengar berhembus dari mulutnya, Jingga tengah menyiapkan diri untuk kembali berhadapan dengan suaminya.


Akhirnya Jingga mengangguk, ia membuka pintu pelan-pelan. Langkah kakinya mulai mengayun, mengayun pelan dan ragu. Meninggalkan pak Lim yang kembali menutup pintu ruangan dan menunggu di luar.


Jingga tatap pria tua yang tengah berbaring menutup mata di atas ranjang. Wajah pria itu tampak pucat, jarum infus tertancap di punggung tangan kanannya. Ada selang oksigen yang menempel di hidungnya.


"Jingga.."


Menunggu beberapa saat, Langit tak mengeluarkan suara lagi. Mungkin pria itu hanya mengigau, pikir Jingga. Ia kembali melanjutkan langkah dan berdiri di sisi kanan Langit. Jingga tatap pria itu dengan lekat, ada rasa iba juga rasa kecewa yang masih dominan.


Tanpa sadar tangannya bergerak, terulur menyentuh pipi Langit dengan pelan. Panas, itulah yang Jingga rasakan saat kulitnya menempel di pipi Langit.


Tiba-tiba saja air matanya meluruh, ia bekap mulutnya dengan kedua tangannya, agar suara tangisnya tak sampai mengeluarkan suara yang dapat membangunkan Langit.


"Jingga.."


Langit kembali mengigau, bahkan ujung mata pria itu mengeluarkan cairan bening, Langit menangis.


Jingga tak kuat lagi, ia berbalik hendak pergi, tapi lagi-lagi suara pria itu membuat langkahnya terhenti.


"Apa itu kamu, sayang?"


"Jingga, apa aku bermimpi?"

__ADS_1


Langit terus berusaha bicara meski suaranya terdengar serak dan berat. Ia ingin memastikan apakah ia tengah bermimpi atau kehadiran Jingga memang nyata? Di alam bawah sadarnya, ia mencium aroma wangi khas dari istrinya, ia terus memanggil perempuan itu, ia bahkan bisa merasakan sentuhannya. Dan saat matanya berusaha ia buka, ia melihat bayangan seseorang yang sangat ia rindukan. Ia bisa merasakan kehadiran Jingga, nyata, perempuan itu nyata terlihat olehnya.


"Sayang.." ucap Langit lagi.


Jingga masih enggan berbalik, ia menghapus air matanya beberapa kali, kemudian menengadah dan mengerjap agar cairan itu tak kembali merembes dari matanya.


"Jangan pergi.." lirih Langit lagi.


Jingga benar-benar tak kuat, ia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. membuat Langit terus memanggilnya.


"Sayang, jangan pergi aku mohon.."


"Jingga.."


Tak ingin putus asa, Langit pun berusaha beranjak. Meski kepalanya terasa sangat berat dan berputar, tapi ia tak mau lagi Jingga pergi.


BRUK


Seketika Jingga menoleh, ia terkejut saat mendapati Langit tergeletak di atas lantai dengan darah mengucur dari punggung tangan, jarum infusnya terlepas.


"Mas.." pekiknya.


Perempuan itu berjalan cepat menghampiri suaminya. Ia berjongkok dan berusaha membangunkan Langit yang justru memeluknya dengan erat. Membuat darah yang masih mengucur itu mengotori pakaiannya.


"Jangan pergi, aku mohon.." pinta Langit dengan suara yang semakin terdengar melemah.


Jingga tak menghiraukan ucapakan pria itu, saat ini ia lebih mengkhawatirkan keadaan Langit.


"Tolong, pak Lim.." Jingga memanggil pak Lim, agar pria itu bisa membantunya mengangkat Langit.


Mendengar teriakan sang nyonya, pak Lim pun sigap membuka pintu ruangan, lalu berlari menghampiri Jingga.


"Pak Lim, tolong bantu aku.." pinta Jingga.


Pak Lim mengangguk, dengan susah payah mereka mengangkat tubuh tinggi Langit dan kembali membaringkan pria itu di atas ranjang.


Jingga menekan tombol emergency agar dokter segera menangani Langit. Ia menekan pelan punggung tangan kanan Langit agar darah tak lagi mengucur dari sana. Kecemasan tergambar jelas di raut wajahnya, apalagi Langit kembali tak sadarkan diri.


"Pak Lim, tolong panggil dokter. Kenapa dokter lama sekali?" ucap Jingga dengan cemas.

__ADS_1


Ingin sekali pak Lim menjawab, 'Nyonya, anda baru saja menekan tombol emergency-nya, dokter juga butuh waktu untuk berjalan menuju ke ruangan ini.'


Tapi pak Lim tentu memilih mengangguk, ia mengerti dengan kecemasan sang nyonya. Dengan langkah lebar ia keluar ruangan, untuk menjemput dokter yang mungkin sudah menuju ke ruangan itu.


__ADS_2