MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
GUGUP


__ADS_3

Jingga pamit pada Langit untuk pergi ke kamarnya. Seperti yang sudah perempuan itu katakan, tujuannya ke rumah sang ayah untuk mengambil beberapa bukunya dulu.


"Alex, apa ada yang kamu rasakan?" Tanya Langit sesaat setelah jingga tak terlihat lagi.


Alex berdehem, ia gugup. "Aku hanya mendadak gugup, Tuan."


Langit manggut-manggut, "Sepertinya, Mega juga gugup. Kenapa tidak kamu temui saja dia? Tanyakan padanya, apa ada yang terjadi di antara kalian malam itu?"


Alex membulatkan matanya, "Tuan, bukankah itu sama saja saya bunuh diri? Bagaimana jika tidak terjadi apa-apa dengan saya dan dia?" Alex justru balik bertanya.


Langit menghela nafas panjang, Alex yang bermasalah ia yang ikut bingung. Bukankah ini hukum timbal balik? Atau saling berbalas budi, karena jika Langit terkena masalah, Alex juga yang paling bingung dan terkadang terkena imbasnya.


"Tapi kamu tidak akan pernah menemukan jawaban kebingungan kamu kalau kamu diam saja. Malu bertanya sesat di jalan, kau pernah mendengar pribahasa itu bukan?" tanya Langit.


Alex semakin bingung, karena pertanyaan yang akan ia tanyakan ini sangat sensitive dan dalam. Bagaimana kalau seandainya Mega justru salah faham? Bukankah Alex yang akan malu?

__ADS_1


"Saya memilih diam, Tuan. Saya tidak mau, biarkan saja saya penasaran seumur hidup. Lagi pula, bisa saja saya bermimpi dan membuka ikat pinggang dan resleting celana saya sendiri. Dan saya memang masih perjaka, toh saya tidak merasakan apapun, apalagi nikmatnya!"


Langit ingin tertawa, tapi iba juga melihat raut wajah Alex. Ia mengiyakan saja apa yang Alex katakan, mungkin sekarang Alex butuh dukungan darinya, butuh teman untuk bicara, dan sebagai bos yang baik ia akan mendampingi Alex dan mendukungnya.


Beberapa menit berselang, Jingga kembali dengan beberapa buku di tangannya. Gadis itu juga membawa tas sedikit lusuh, tas kesayangannya pemberian dari sang ayah ketika ia di terima di universitas tempatnya menimba ilmu sebelum menikah dengan Langit.


Ada Mega juga bersamanya, sepertinya mereka tengah berbincang-bincang.


"Jadi udah beberapa hari ini mbak gak kerja?" Tanya Jingga.


"Maaf ya mbak, aku tidak tahu mbak sakit.."


Mega tersenyum, "Tidak apa-apa, lagi pula hanya sakit biasa saja. Besok mbak sudah mulai kerja lagi, mbak sudah sehat."


Jingga balas tersenyum, "Syukurlah.." ia bahagia karena Mega bersikap baik padanya. Tidak seperti terakhir mereka bertemu, Mega bahkan tak mau bicara dengannya. Bicara pun tak menatap wajahnya, tapi kali ini sang kakak menatapnya dengan lembut seperti dulu.

__ADS_1


"Mega sakit?" Batin Alex, entah mengapa kecemasannya kembali datang. Padahal ia sudah mencoba untuk acuh dan mengenyahkan pikirannya dari peristiwa malam itu dan dari prasangkanya pada Mega. Tapi mendengar gadis itu sakit, Alex cemas.


Langit yang melihat kecemasan di raut wajah Alex mengerti, ia pun segera mengajak Jingga pulang.


***


"Kenapa tas lusuh ini kamu bawa?" tanya Langit. Ia mengangkat tas yang semula ada di pangkuan Jingga, memindahkan tas itu ke sisi yang lain. "Aku akan membelikanmu tas yang baru, yang lebih bagus dari tas itu."


Jingga menghela nafas panjang, menoleh menatap penuh wajah tua suaminya, "Tas ini memang lusuh, tapi ini tas kesayanganku mas. Tas yang ayah berikan padaku saat aku di nyatakan lulus dan di terima di universitas. Ini hadiah darinya, mungkin banyak tas yang lebih bagus dari tas lusuh ini, banyak juga yang harganya lebih mahal. Tapi kenangan dari tas ini tidak akan bisa terganti atau ternilai dengan nilai rupiah tertinggi sekali pun. Kamu boleh membelikan tas baru untukku, tapi tidak dengan menyingkirkan tas ini. Sayang, tidak semua hal bisa kamu nilai dengan materi. Ada beberapa hal yang hanya bisa di hargai dengan nilai cinta, contohnya seperti tas lusuh ini dan kenangan di dalamnya."


Langit tampak tak enak, ia juga menyesal, "Maafkan aku sayang, terima kasih kamu sudah mengingatkanku."


Jingga mengangguk, ia tersenyum lembut dan mengusap pipi suaminya dengan penuh kasih, "Tidak apa-apa mas, aku hanya tidak bisa membuang tas ini."


Langit balas tersenyum, istrinya ini memang berbeda. Dan ia menyadari satu hal, tidak semua perempuan sama. Buktinya Jingga berbeda, perempuan itu benar-benar tak menilai segala sesuatu dengan uang. Jingga tulus, bertambah lah rasa cintanya pada perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2