
"Kamu sakit?" Tanya Angkasa, sesaat setelah ia mendapat kabar dari Bulan bahwa Esta sakit, Angkasa lekas mencari gadis itu untuk memastikan keadaannya.
Esta yang baru saja menyimpan peralatan bersih-bersih menoleh, tersenyum kecut pada suaminya, "Enggak, siapa yang bilang?"
"Bulan, dia bilang kamu lagi sakit."
Mendengar hal itu, Esta terdiam. Mungkin jika ia yang mengatakannya sendiri pada Angkasa, pria itu tak akan percaya, karena Bulan yang mengatakannya, Angkasa terburu-buru mencarinya. Kenapa Esta menjadi secemburu itu pada Bulan? Bulan tak bersalah.
"Enggak kok, aku gak papa."
Angkasa menghela nafas panjang, ia lalu mendekat dan mengulurkan tangannya. Menyimpan punggung tangan di kening istrinya untuk lebih memastikan, "Badan kamu hangat, kenapa kamu kerja? Pulang lah, istirahat di rumah."
Esta menepis tangan Angkasa, "Ini hangat biasa, kalau aku dingin berarti aku orang mati. Apa ada lagi yang mau kamu bicarakan? Aku harus kerja," ucap Esta.
Angkasa tak menjawab, ia tatap Esta dengan lekat. Entah mengapa ia merasa Esta berbeda, dari caranya bicara saja sudah terlihat. "Kamu marah? Apa aku punya salah?"
__ADS_1
Tentu Esta menggeleng, "Marah kenapa? Aku biasa aja kok. Udah kan? Aku mau kerja lagi, aku gak bisa seenaknya istirahat, aku cuma OG disini."
Esta hendak pergi, tapi Angkasa menahan tangannya, "Aku ngerasa kamu marah! Dan kamu bukan cuma OG disini, kamu istriku. Mau tidak bekerja pun itu gak masalah," ucap Angkasa.
Mendengar kata istri, Esta tersenyum kecut. Istri macam apa? Bahkan mereka tidur terpisah, apa Esta salah jika dirinya berharap pernikahan mereka akan berjalan seperti pada umumnya? Layaknya suami istri yang berbagi segalanya, berbagi suka, berbagi duka, berbagi ranjang juga berbagi peluh. Ah, kenapa mendadak pikirannya menjadi liar? Esta hanya berharap Angkasa menganggapnya ada, itu saja!
"Istri?" Ulang Esta. Ia melepas tangan Angkasa lalu memberanikan diri menatap pria itu, "Kamu bisa melepaskan aku kalau kamu mau. Aku gak keberatan, yang terpenting kamu sudah berhasil membungkam omongan warga tentang kita, semuanya selesai kan?"
Angkasa tersentak mendengar ucapan Esta, ia tak pernah berpikir akan berpisah meski pernikahan mereka terjadi bukan atas keinginannya. Karena baginya pernikahan hanya terjadi sekali seumur hidup, ia hanya perlu waktu. Dan entah mengapa ia tak suka ketika Esta dengan mudah membicarakan perpisahan.
Esta pun terkejut melihat kemarahan Angkasa, mata pria itu bahkan memerah karena amarah. Esta tak terima, harusnya Angkasa menghargainya juga bukan?
"Hargai seperti apa mas? Hargai seperti seorang OG pada Tuannya? Baiklah, maaf atas kelancanganku Pak!" Bukan kah Angkasa yang tak menghargainya sebagai istri? Pria itu bahkan mengabaikannya, meski Angkasa baik, tapi sejak mereka resmi menjadi pasangan suami istri menurut agama, Esta jadi menginginkan perhatian lebih dari pria itu. Padahal Esta juga sadar, yang suaminya cintai bukan dirinya, tapi Bulan. Mustahil pria itu akan memberikan perhatian lebih padanya.
Mendengar kalimat itu, kemarahan Angkasa semakin memuncak.
__ADS_1
PLAK
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Angkasa mengangkat tangannya untuk menyakiti seorang wanita. Dan wanita itu adalah Esta, istrinya. Ia pun tak tahu, kenapa ia bisa lepas kendali? Pria itu menatap telapak tangannya yang bergetar, telapak tangan yang sudah melayangkan tamparan pada istrinya. Lalu ia beralih menatap Esta yang tampak menangis dan memegang pipi kanannya yang terasa panas.
Sudut bibirnya bahkan mengeluarkan sedikit darah, tubuh gadis itu bergetar hebat, hatinya sakit. Rasa sakit di pipinya tak seberapa jika di banding dengan rasa sakit di hatinya. Untuk pertama kalinya juga Esta merasakan tamparan, dan itu ia dapatkan dari suaminya.
Seperti tersayat sembilu, hatinya perih. Seperti tertindih bongkahan batu besar, dadanya sesak. Seperti terjatuh dari ketinggian, hatinya hancur berkeping-keping. Esta berharap ini hanya mimpi, namun nyatanya rasa perih di pipinya terasa nyata.
"Esta, a-aku. Aku gak sengaja, maaf.." lirih Angkasa. Ia hendak meraih tubuh Esta, namun gadis itu melangkah mundur lalu berlari meninggalkannya.
"Esta.."
IKAN eh IKLAN
Maaf yah, aku bikin mereka nangis-nangis dulu. Nanti aku balikin si kentut dan si Soang seperti biasanya. Gak seru kalau gak bikin kalian galau, maaf ya maaf..
__ADS_1