
Mega menurut saat Alex membawanya pulang ke apartemen. Padahal ia ingin menemui kedua orang tuanya juga mertuanya lebih dulu, tapi Alex tetap ingin pulang ke apartemen.
Ia juga sudah memutuskan akan berterus terang pada ayah dan ibunya bahwa dari awal memang dia lah yang bersalah. Ia tak mau keluarganya menyalahkan Alex.
"Besok aku janji akan mengantarmu menemui mereka," ucap Alex untuk meyakinkan Mega.
"Baiklah.." putus Mega pada akhirnya. Mungkin suaminya itu lelah, begitu pikirnya.
Sampai di apartemen, Alex menuntun Mega dengan sangat hati-hati, ia memperlakukan Mega begitu lembut, seolah membawa kapas putih yang tak boleh terjatuh menyentuh lantai.
"Mas, aku baik-baik saja. Aku bisa jalan sendiri," ucap Mega.
Alex tersenyum, mengecup punggung tangan Mega yang tengah ia genggam, "Aku hanya ingin menjadi suami siaga untuk istri dan anakku."
Mendengar kalimat itu, Mega tentu merasa senang. Apalagi Alex menerima calon anaknya meski tahu bayi itu bukanlah darah dagingnya.
"Terima kasih ya mas.."
Alex menghentikan langkahnya yang kemudian di ikuti oleh Mega. Pria itu mengusap pipi halus istrinya dengan lembut, "Terima kasih untuk apa sayang? Itu tugasku, jangan berterima kasih lagi."
__ADS_1
"Aku semakin malu sudah membohongi mu. Maafkan aku, mungkin kata terima kasih saja tidak akan cukup untuk membayar semua kebaikan mu padaku terutama pada anak ini. Kamu menerimanya meski pun kamu tahu dia bukanlah darah daging mu, bagiku, tidak ada hal yang lebih membahagiakan lagi dari ini.." ucap Mega dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang, harusnya aku yang berterima kasih padamu, kamu sudah mau memaafkan ku dan memberikan aku kesempatan kedua. Aku benar-benar menyayangi kalian, mulai sekarang, jangan ungkit lagi tentang ayah biologis anak kita. Bagiku dia adalah anakku, maaf karena aku sempat menyakitimu dan anak kita.." ucap Alex dengan tulus.
Mega mengangguk, ia tak dapat menahan air matanya lagi. Mungkin ini adalah puncak kebahagiaannya. Saat Alex memaafkannya, saat pria itu menerima masa lalunya juga saat Alex menerima bayi dalam kandungannya.
"Peluk?" ucap Alex, pria itu merentangkan tangannya, bibirnya mengulas senyum jenaka untuk menggoda istrinya.
Mega mengangguk, ia tersenyum meski matanya berair. Dengan erat mereka saling mendekap, saling merasakan kembali detak jantung yang sempat menjauh, saling merasakan kembali kehangatan yang sempat membeku.
"Aku mencintaimu, mas.." ucap Mega di sela isakan tangisnya.
Mega melerai dekapannya, memberikan jarak pandang agar ia bisa menatap penuh wajah tampan suaminya. Keningnya berkerut tajam, "Bukti?" ulangnya.
Alex mengangguk penuh arti, sebelah matanya berkedip, "Aku merindukanmu.." lirihnya.
Kini Mega mengerti, ia tersenyum malu lalu mengangguk. Yang sebenarnya, ia juga sangat merindukan suaminya itu. Jadi inilah alasan kenapa Alex bersikeras mengajak Mega pulang ke apartemen, bukan ke rumah orang tuanya atau mertuanya. Apa semua pria sama? Ah, sudahlah. Tak perlu di bahas!
Mereka lalu melanjutkan langkah, hendak menuju ke kamar mereka yang dulu tapi Mega menahan tangan Alex. Membuat pria itu kembali menghentikan langkah lalu menoleh.
__ADS_1
"Ada apa sayang?" tanyanya.
"A-aku tidak mau tidur disana lagi. Kamu sudah membawa perempuan lain ke kamar itu, kamu menggunakan ranjang yang sama untuk menyentuhnya.." Mega memang belum tahu yang sebenarnya, Alex belum menceritakan apa-apa selain meminta maaf pada perempuan itu.
"Tidak seperti itu sayang, itu semua tidak benar.." sangkal Alex.
"Tidak benar? apa maksudnya mas?" Tanya Mega lagi.
"Nanti akan aku ceritakan semuanya, tapi tidak sekarang. Aku sangat merindukanmu, biarkan aku membayar semua waktu yang sudah aku lewati tanpa kamu di malam ini, aku mohon. Akan aku jelaskan nanti.." pinta Alex.
Mega diam sejenak, kemudian mengangguk, "Boleh di kamarku saja, mas?"
"Tidak masalah, sayang.." jawab Alex. Ia lalu menggendong Istrinya dan membawanya ke kamar perempuan itu.
IKLAN
Ges kalau aku loncat dan singkat lagi gimana? Ke cerita anak-anak mereka.
Mpok Neti say, "Serah Lu dah serah!"
__ADS_1
🙄🙄🙄🙄🙄🙄