MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
MAAF


__ADS_3

Waktu terus berlalu, Jingga benar-benar tak ingin kembali pada Langit. Meski hatinya juga tersiksa menahan rindu, tapi rasa kecewa terlanjur membuatnya ingin berpisah dari sang suami.


Begitu pun dengan Langit, pria itu nyaris gila karena tak dapat menemui Jingga. Pekerjaannya sempat terbengkalai, Langit hanya menghabiskan waktunya di dalam kamarnya dan Jingga, mengenang saat mereka bersama dulu. Langit hanya sesekali keluar itupun untuk mengunjungi makam putranya juga kedua orang tuanya.


Tawa Jingga bahkan serasa masih terdengar di kamar itu, suara manjanya, rengekannya bahkan Isak tangis perempuan itu masih jelas terlihat oleh Langit.


Pak Lim dan Alex terus berusaha membujuk Langit agar mau bangkit dan berusaha mendapatkan Jingga kembali. Sampai akhirnya Langit menyadari tanggung jawabnya sebagai Presdir LaGroup yang menanggung kehidupan banyak orang, pria itu kembali bangkit dan berusaha menjalani kehidupan seperti biasanya. Ia berusaha kuat meski rapuh, berusaha bangkit meski sulit, berusaha berpikir jernih meski otak mendidih.


Satu bulan bukan waktu yang singkat untuk Langit hidup tanpa Jingga, ia membiarkan Jingga tinggal di rumah kedua orang tuanya untuk menenangkan diri. Selama satu bulan itu Jingga tak pernah mau menemui Langit meski pria itu setiap hari datang berkunjung ke rumah dan memohon agar dapat menatap wajah perempuan yang amat ia rindukan meski hanya satu detik saja.


Seperti sore ini, sepulang bekerja, Langit kembali menyambangi kediaman Hardi. Mencari peruntungan barangkali Jingga luluh dan mau menemuinya. Beberapa buah tangan sudah ia beli, seperti bunga, buah-buahan, juga coklat dan makanan ringan lainnya.


Mobil sport miliknya terparkir di halaman rumah tak berpagar milik ayah Hardi, pria itu menarik nafasnya dalam-dalam lalu ia hembuskan perlahan, dalam hati ia berdoa semoga kali ini Jingga mau menemuinya.


Beberapa menit menyiapkan mental, Langit pun turun dari mobil, tidak lupa juga ia membawa buah tangan yang tadi ia beli. Meski sedikit kerepotan, tak masalah untuk Langit. Jika biasanya ada Alex yang akan selalu membantunya, kali ini asistennya itu ia liburkan untuk menemani Mega yang katanya akan memeriksakan kandungannya.


Di hadapan pintu, ia tak lantas mengetuk. Langit kembali menghela nafas panjang untuk mengumpulkan keberaniannya dan kesabarannya.


Beberapa detik setelahnya, tangannya terayun untuk mengetuk pintu.


TOK TOK TOK


"Assalamualaikum.." ucapnya.


Terdengar suara langkah kaki mendekat, lalu jawaban salam setelahnya.


"Waalaikumsalam.."


Itu suara ibu, sepertinya perempuan paruh baya itu yang membukakan pintu.


"Bu.." sapa Langit, ia menyalami ibu mertuanya meski tangannya begitu kerepotan membawa beberapa buah tangan.

__ADS_1


"Nak, Langit. Kenapa repot-repot begini? Masuk nak.." Ibu membuka pintu dengan lebar, lalu membantu Langit. "Silahkan duduk, nak.."


"Terima kasih, Bu.."


Ibu mengerti dengan kedatangan Langit, karena nyaris setiap sore sepulang bekerja pria itu datang.


"Sebentar yah, ibu akan memanggilkan Jingga.." pamit Ibu. ia baru saja akan beranjak, namun Langit kembali bicara, membuat ibu kembali duduk.


"Apa kali ini Jingga mau menemui ku, Bu?" tanya Langit, sorot mata pria itu begitu sendu, menyiratkan betapa ingin ia bertemu Jingga.


Tanpa di duga ibu mengangguk, Langit tentu sangat bahagia, ia sudah sangat merindukan istrinya.


"Tadi Jingga berpesan pada ibu, kalau nak Langit datang, ibu diminta memberi tahunya," jelas Ibu.


Senyum Langit semakin lebar, hatinya girang bukan main. Ia menunggu dengan tak sabar, sesekali ia menoleh ke arah dalam, menanti kedatangan sang istri yang entah ada angin apa mau menemuinya.


Pria itu berdiri saat perempuan yang di tunggunya datang dan menghampirinya. Senyum mengembang di bibirnya beriringan dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Ingin rasanya ia berlari lalu memeluk perempuan itu dengan erat, menyembuhkan dahaga rindu yang nyaris meledak. Tapi tidak, ia tak mau membuat Jingga tak nyaman, dengan mau menemuinya saja Langit sudah senang. Ia bisa kembali menatap wajah cantik istrinya yang tampak sendu. Tubuh perempuan itu juga lebih kurus dari terakhir kali Langit melihatnya.


"Sa-sayang.." ucap Langit dengan suara terbata menahan tangis.


"Duduk, mas.." ucapnya.


Suara itu seperti angin segar untuk Langit. Jika biasanya hanya dalam angan saja ia mendengar suara Jingga, kali ini ia dapat mendengarnya lagi.


Mereka duduk di sofa yang berbeda, saling berhadapan terhalang meja sebagai pembatasnya. Ada satu hal yang menarik perhatian Langit, sesuatu yang Jingga bawa yang baru Langit sadari.


Mengabaikan benda itu, Langit memilih membicarakan hal lain dengan Jingga, "Terima kasih, kamu sudah bersedia menemui ku.." ungkapnya dengan tulus.


Jingga kembali berusaha tersenyum, "Aku menemui mu karena ada hal penting yang mau aku bicarakan denganmu.."


Langit sedikit gusar, sepertinya ia mengerti arah pembicaraan Jingga setelah melihat benda yang Jingga bawa. "Ada apa sayang?" ia memilih bertanya untuk memastikan meski pun mungkin saja jawaban perempuan itu akan menyakitinya.

__ADS_1


Jingga menyimpan benda yang sedari tadi ia simpan di pangkuannya di atas meja, kemudian ia sedikit mendorongnya ke hadapan Langit, "Tentang ini.." ucap Jingga.


Tatapan Langit terfokus pada benda itu, jantungnya berdetak kencang melihat deretan huruf yang terangkai menjadi sebuah kata di atas benda itu. Dengan tangan bergetar Langit mengambilnya, "Apa ini, sayang?" ia kembali bertanya meski ia sudah tahu apa isi di dalam benda berwarna coklat itu.


Langit menatap Jingga yang tak kunjung mengeluarkan suara, perempuan itu tampak memalingkan wajahnya, pipinya basah karena air mata. Alih-alih menjawab pertanyaan Langit, Jingga justru menangis.


Perlahan Langit membuka kaitan benda itu, pandangannya sudah kabur karena air mata yang terus berdesakkan. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat ia membuka lembaran kertas yang tersimpan di dalamnya.


...PENGADILAN NEGERI JAKARTA PUSAT KELAS 1A KHUSUS...


...SURAT PANGGILAN RELAAS (SIDANG PERCERAIAN)...


DEG


Tanpa sadar Langit menjatuhkan surat tersebut, tangannya melemas, seluruh tubuhnya tak bertenaga, ia bagai melayang dengan setengah kesadaran yang masih berusaha ia pertahankan.


Entah seperti apa rupanya saat ini, pipinya sudah di banjiri air mata, ia bahkan sudah tak dapat melihat dengan jelas. Sekuat tenaga ia menoleh, menatap Jingga yang juga menangis tersedu.


"Kenapa kamu menghukum ku dengan cara seperti ini Jingga? Sakit, aku tidak kuat.." lirih Langit.


"Maafkan aku mas, ini yang terbaik untuk kita.." Jingga tak kalah sakitnya dengan Langit, batinnya berperang antara cinta dan rasa kecewa yang mengarahkannya untuk membenci pria yang sangat ia cintai.


Langit menggeleng beberapa kali, "Tidak, ini bukan yang terbaik untuk kita, tapi terbaik untukmu sendiri. Aku tidak bisa, aku tidak mau Jingga!"


"Aku tidak meminta pendapatmu mas, aku memberikan surat itu karena aku harus menyampaikannya. Sampai bertemu di pengadilan mas.."


Jingga beranjak, membuat Langit juga melakukan hal yang sama.


"Tidak, sayang.. Tunggu dulu, kita bisa membicarakannya baik-baik, jangan seperti ini. Jangan menghukum ku setega ini sayang, aku mohon.." Langit berdiri di hadapan Jingga, lalu berlutut seraya tersedu. "Maafkan aku, aku bersalah. Aku tahu kesalahan ku sangat besar, tapi aku mohon jangan seperti ini, jangan menghukum ku dengan perpisahan, aku tidak sanggup. Aku tidak akan kuat kehilangan lagi.."


Pria itu menangis dan menggenggam kedua tangan Jingga, memohon agar Jingga mau merubah keputusannya.

__ADS_1


"Maaf mas.."


MARI MEWEK BERJAMAAH GES..😭😭


__ADS_2