
"Buatkan saya kopi! Tanpa gula! Ingat, tanpa gula!"
Esta mengerutkan dahinya saat ia mendapat sebuah pesan dari nomor tak di kenal. Pesan sebuah perintah yang membuatnya terus berpikir, kemana ia harus mengantar kopi tersebut? Nomornya saja tak tahu. Ia pun memutuskan untuk mengabaikannya saja.
TRING
Ponselnya kembali berdering, Esta berdecak kemudian kembali membuka room chat yang ternyata pesan dari nomor yang sama.
"Antar ke roof top dalam sepuluh menit. Telat satu detik saya tilang kamu!"
Melihat isi pesan itu, ia mulai tahu siapa pemilik nomor cantik itu. "Ini pasti raja Soang," gumamnya.
Esta terus bergumam sendiri, sesekali ia bersenandung, sesekali tertawa kecil mengingat kelakuan Angkasa yang terkadang sangat menyebalkan itu.
Satu Minggu sejak perjanjian pacar pura-pura itu, Esta mulai terbiasa dengan Angkasa. Begitu pun dengan Angkasa, kelakuan mereka yang terkadang sama-sama konyol membuat mereka sering berdebat. Tapi anehnya, perdebatan itu tak pernah berakhir dengan pertengkaran atau kemarahan.
__ADS_1
Esta juga mulai tahu sisi lain dari Angkasa yang ternyata baik, tak seburuk yang ia duga sebelumnya. Yang ia belum tahu adalah alasan kenapa pria itu memintanya jadi pacar pura-pura.
Mengingat waktu yang Angkasa berikan hanya sepuluh menit saja, ia pun bergegas mengantarkan kopi itu sebelum sang raja Soang memanjangkan lehernya ketika merasa kesal atau terancam. Beruntung Esta mulai terbiasa menggunakan lift, ia tak perlu cape menggunakan tangga darurat lagi. Lututnya bisa terlepas jika setiap pergi ke roof top atau ke ruangan Angkasa menggunakan tangga darurat. Belum lagi ketika ia harus membersihkan lantai lainnya, lama-lama Esta bisa ngesot.
Sampai di roof top, Esta mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Angkasa yang ternyata tengah duduk di bangku yang menghadap ke pagar pembatas. Pria itu tak duduk sendiri, ada Sang sepupu yang menemaninya.
Tak ingin mengganggu kebersamaan dua pria itu, Esta berjalan pelan bahkan nyaris mengendap-endap seperti maling. Jangan sampai ia kentut lagi, bisa berabe jika dua pria itu terkejut lalu mengetahui keberadaannya yang entah mengapa jadi ingin menguping pembicaraan dua pria tampan itu. Sepertinya mereka tengah membicarakan hal serius.
"Kenapa Lo lambat banget sih? Gak ada perubahan sama sekali, hubungan Lo sama Bulan jalan di tempat, gitu-gitu aja gak ada perubahan! Tahu gitu gue ngamuk aja pas Bulan putusin gue, gue paksa dia lagi supaya jadi pacar gue!" Angkasa mengomel. Ia kesal pada sepupunya itu, ia sudah merelakan Bulan untuk Bintang, tapi Bintang masih belum bertindak apa-apa.
Kalimat itu membuat Esta terkejut, ia sudah mengira sebelumnya, bahwa antara Bulan dan Angkasa memang ada sesuatu. Dan ia jadi semakin penasaran.
Angkasa berdecak, ingin rasanya ia menggetok kening Bintang dengan sepatunya, tapi ia masih waras. Ternyata perjuangan Bintang selama ini masih setengah-setengah alias ragu-ragu. Mungkin karena Bintang mengira Bulan mencintainya, pria itu tak mau melukai sepupunya, apalagi memaksa Bulan mencintainya seperti dulu. "Cinta apanya sih, Bintang? Dari dulu, yang dia cinta itu elo! Bukan gue. Gue itu cuma sahabat merangkap jadi kakak buat dia, lagian gue juga udah ada cewek. Gue udah move on, tunggu apalagi coba?"
Bintang tampak terkejut, "Kamu udah punya pacar? Siapa? Kok aku gak tahu? Curang banget pake main rahasia-rahasiaan!"
__ADS_1
Angkasa terkekeh mendengar segerombolan pertanyaan yang Bintang layangkan untuknya, "Nanti gue kenalin. Makanya tunggu apalagi? Lo harus perjuangin dia, tunjukin kalau Lo cinta sama dia."
Bintang diam sejenak, kemudian kembali berkata, "Sebenarnya aku punya ide, kamu mau bantu gak?"
"Ide apa? Asal jangan ide konyol aja, otak Lo emang cerdas Bintang, tapi untuk masalah cinta, otak Lo suka mendadak gak jalan. Jangan nyari masalah," Angkasa takut ide sepupunya itu justru membuat keadaan semakin rumit.
"Sembarangan, jadi ide aku itu..."
BLA BLA BLA, Bintang mengatakan rencananya pada Angkasa, kemudian memaksa Angkasa untuk membantunya. Meski awalnya ragu dan mengomel, pada akhirnya Angkasa pasrah dan menyetujui ide sang sepupu.
***
"Jadi, dia tawarin aku jadi pacar pura-pura karena itu? Pak Angkasa cuma mau pak Bintang dan mbak Bulan bersatu, padahal dia sendiri pasti terluka. Aku bisa lihat, pak Angkasa sangat mencintai mbak Bulan, tapi dia mau berkorban sekali pun pengorbanannya membuat hatinya sakit. Astaga, pak Angkasa, kenapa kamu sebaik itu?"
Esta terus membatin, pikirannya di penuhi dengan pembicaraan antara Angkasa dan Bintang yang ia dengar tadi. Pada intinya, Bulan dan Bintang tak juga menyatu karena menghargai perasaan Angkasa. Lalu Angkasa memintanya menjadi pacar pura-pura demi membuat Bulan dan Bintang bersatu tanpa harus merasa tak enak padanya, karena Angkasa tak ingin menjadi penghalang kebahagiaan Bulan dan Bintang.
__ADS_1
Mungkin dengan mereka tahu Angkasa sudah mempunyai kekasih, mereka akan meresmikan hubungan gantung yang mereka jalani selama bertahun-tahun.
Esta kira pengorbanan tulus macam itu hanya ada di sinetron atau di novel-novel online yang sering ia baca. Ternyata ia bisa melihat secara langsung bahwa pengorbanan macam itu nyata adanya, bahkan ia ikut terlibat di dalamnya meski hanya sebagai pacar pura-pura. Angkasa benar-benar luar biasa, begitu pun dengan Bulan dan Bintang yang rela menggantung hubungan mereka selama bertahun-tahun demi menjaga perasaan Angkasa. Esta patut merasa beruntung berada di sekeliling orang-orang yang sangat baik dan tulus.