
Jingga menahan dada Langit saat terdengar suara gaduh dari bawah sana. Keningnya mengernyit, lalu menatap Langit yang hendak kembali menyerangnya.
“Tunggu sebentar, mas. Kenapa di bawah sangat ramai?” Tanya Jingga, ia kembali mendengar suara gaduh yang semakin jelas terdengar, kemudian kembali menatap Langit, “Kamu bisa mendengarnya kan mas? Ayo kita lihat,” ajak Jingga.
Langit berdecak, ia justru semakin mengunci tubuh Jingga di bawahnya.
“Mas..”
“Biarkan saja sayang, jangan perdulikan mereka. Lihatlah aku, aku sangat menginginkanmu,” ucap Langit. Tatapan pria itu memang sudah tampak begitu sayu.
Jingga akhirnya mengalah, Langit adalah nomor 1, begitu katanya. Ia pun kembali memejamkan mata saat Langit hendak kembali menyatukan bibir mereka, tapi sayang, suara ketukan dari pintu kamar mereka harus menghentikan kegiatan lanjutan itu.
“Mas, ada yang mengetuk pintu,” ucap Jingga.
Langit berdecak, ia juga tahu ada yang mengetuk pintu. Tapi sungguh, ia sudah tidak tahan. Padahal hanya satu malam saja ia absen menyentuh istrinya, tapi rasanya seperti sudah satu tahun saja.
Suara ketukan di pintu kembali terdengar, lalu suara Alex menyusul setelahnya, “Tuan, pesanan anda sudah datang. Bukankah anda meminta saya segera memberi tahu anda jika pesanan itu datang?”
Langit bangkit dari tubuh Jingga, meski pria itu menggerutu, tapi ia tetap membukakan pintu. Karena ia memang berpesan seperti itu pada Alex. Jingga pun segera bangun dan merapihkan pakaian atasnya yang sudah tersingkap, lalu merapihkan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Ia mengekor mengikuti Langit mendekati pintu.
“Tuan, maaf mengganggu. Tapi..”
“Ya, aku tahu. Kenapa pesanan itu datang di waktu yang tidak tepat, kepalaku mau pecah rasanya.” Gerutu Langit
Alex menunduk menahan tawa, ia sudah dapat menebak apa yang tengah tuan dan nyonyanya itu lakukan, tapi ia berada di posisi yang serba salah. Jika ia tak melaksanakan apa yang Langit perintahkan, gajinya menjadi terancam. Tapi saat ia melakukan apa yang Langit perintahkan, sang Tuan ternyata menggerutu. Pasti Langit kesal karena harus menahan sesuatu yang sudah sangat mendesak di balik celana panjangnya.
__ADS_1
“Maafkan saya, Tuan..”
Langit tak menjawab, ia menoleh pada Jingga yang berdiri di belakangnya, raut wajahnya seketika berubah. Pria itu melembut, tatapannya berbinar. “Kita turun dulu ya, sayang. Ada kejutan kedua untukmu, kita akan melanjutkan kegiatan kita nanti. Anggap ini iklan di tengah adegan sinetron bersambung,” ucapnya.
Jingga mencebik, ia memukul lengan Langit. Malu rasanya ketika sang suami berbicara frontal di depan Alex. Meski pasti Alex sudah tahu semua tentang Langit, tapi tetap saja Jingga malu.
Dengan tangan saling bergandengan, mereka menuruni anak tangga mengikuti Alex yang melangkah di depan mereka. Entah mengapa perasaan Jingga sedikit aneh, tapi ia tak mau bertanya tentang kejutan kedua yang suaminya itu siapkan untuknya.
Di lantai bawah, ternyata memang tampak ramai. Nyaris semua pelayan berkumpul disana, mereka terdengar membicarakan sesuatu. Tapi sontak terdiam saat Jingga dan Langit sudah menapaki lantai bawah.
Jingga ingin bertanya ada apa, tapi Langit tengah berbicara dengan Alex, karena itu ia memilih diam. Ia lalu menatap bu Rika yang berdiri di ambang pintu, perempuan paruh baya itu tampak tersenyum sumringah.
Dan saat Jingga sampai di pintu, “Haaccciiih, haccciiihh..” ia kembali bersin-bersin.
“Kejutaaaan,” pekik Langit. Membuat Jingga terkejut dan kembali bersin.
“Lihatlah sayang, kamu mengatakan aku hanya membelikanmu satu tangkai bunga kan? Sekarang aku bawakan kamu 5000 tangkai bunga mawar merah. Pasti kamu menyukainya, kamu tahu sayang? Bunga-bunga ini aku datangkan langsung dari pemilik kebunnya. Sepertinya mereka memangkas habis stok bunga mereka demi kamu. Haaah, aku membayar mahal untuk ini. Karena itu malam ini kamu harus membayarnya, aku tidak akan melepaskan kamu sayang..”
Langit terus bicara, tanpa melihat Jingga yang sudah tampak pucat dengan hidung memerah. Sepertinya, Jingga lelah bersin-bersin.
“Mas, hacciiihhh..” entah mengapa semakin lama wangi dari bunga-bunga itu membuat kepalanya pusing. Selain itu ia juga tak berhenti bersin, hidungnya bukan hanya gatal, tapi juga perih. Wangi bunga itu serasa menusuk indra penciumannya.
“Ya, sayang? Apa ini masih kurang? Kalau kamu mau, aku bisa memesannya kembali, biarkan saja mereka mencarinya. Bahkan sampai ke ujung dunia pun aku akan mencarinya. Aku tidak akan bangkrut, kamu tahu siapa suamimu ini kan? Dengan hanya membeli satu juta tangkai bunga mawar lagi, aku tidak akan jatuh miskin. Semuanya demi kamu..”
Lagi-lagi pria itu bicara tak menatap istrinya. Padahal Jingga sudah mulai oleng, matanya bahkan berair karena terus bersin. Langit mengira itu hal biasa, karena tadi Jingga mengatakan ia tak mempunyai riwayat alergi pada wewangian apapun. Karena itu Langit menganggap Jingga baik-baik saja.
__ADS_1
“Mas..”
“Nyonya..” pekik Bu Rika.
Langit sontak menoleh, ia terkejut mendapati tubuh Jingga melemas lalu tumbang. Beruntung ia bisa menangkap tubuh istrinya, jika tidak, Jingga pasti sudah tergeletak di atas lantai.
"Sayang, kamu kenapa?" Pekik Langit. ia menggendong Jingga dan membawa perempuan itu ke dalam rumah, dengan langkah lebar ia menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Lalu membaringkan istrinya di atas ranjang mereka.
Semua orang tentu terkejut juga cemas melihat Jingga tak sadarkan diri. Karena selama Jingga tinggal disana, ini lah kali pertama perempuan itu jatuh pingsan.
Bu Rika, Pak Lim dan Alex pun mengikuti Langit ke kamar. Alex sigap menghubungi dokter pribadi Langit sebelum sang tuan memerintahkannya.
"Sayang, kamu kenapa? Jangan membuatku cemas," ucap Langit. ia mengecupi seluruh wajah Jingga, berharap perempuan itu akan membuka matanya. Tapi Jingga tetap memejamkan mata, wajah cantik perempuan itu bahkan tampak pucat.
"Tuan, saya akan mengambilkan minyak telon untuk mencoba menyadarkan nyonya," ucap Bu Rika,
Langit hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia tengah sangat cemas, pandangannya tak beralih sedetik pun dari wajah pucat istrinya. "Sayang, bangunlah. Aku disini," ucapnya.
"Tuan, sepertinya nyonya pingsan karena mencium wangi bunga-bunga itu," Pak Lim yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan pendapatnya.
"Apa seperti itu? Tapi dia mengatakan dia baik-baik saja pak Lim," jawab Langit.
"Mungkin jika hanya satu tangkai bunga, Nyonya memang tidak apa-apa. Nyonya masih bisa menahan wanginya. Tapi di luar ada 5000 tangkai bunga, Tuan. Sepertinya nyonya tidak akan kuat menahan wanginya. Ini aneh, menurut saya, nyonya tengah.."
Belum sempat pak Lim mengutarakan pendapatnya dengan sempurna, Bu Rika kembali datang membawa minyak telon. Di susul Alex yang baru saja selesai menghubungi dokter pribadi Langit.
__ADS_1