MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
GUGUP


__ADS_3

Akhir pekan ini, Langit dan Jingga memutuskan untuk kembali menemui dokter psikologi. Sepertinya, Langit benar-benar butuh konsultasi. Kedatangan Handoko mengusik kenangan yang sejak lama ia ingin kubur. Bukan maksud melupakan, karena sampai kapanpun kejadian di masa lalu akan tetap teringat dan menjadi sebuah kenangan. Apalagi yang Langit alami di masa lalunya bukanlah hal indah, sangat sulit untuk melupakannya. Ia hanya berusaha mengubur agar kenangan buruk itu tidak kembali mencuat ke permukaan. Tapi sekarang, mau tak mau Langit harus kembali mengingat-ingat setiap detail kejadian di masa remajanya.


“Mas, jam berapa kita bertemu dokter?” Tanya Jingga, ia mengusap rambut suaminya dengan halus. Pria itu tengah berbaring dan menjadikan pangkuan istrinya sebagai bantalan.


“Setelah makan siang, sayang. Kenapa?”


“Boleh gak ke rumah ibu dulu? Ada sesuatu yang mau aku mabil mas,” tanyanya.


Langit mendongak, menatap wajah cantik Jingga yang terlihat mungil, “Mau ambil apa? Biarkan Alex yang mengambilnya.”


Jingga menghela nafas panjang, “Mau mengambil beberapa buku waktu aku kuliah mas. Alex pasti tidak tahu, aku juga ragu ibu tahu buku apa yang mau aku ambil.”


Langit mengerutkan dahinya, ia lalu bernajak duduk menghadap istrinya, “Buku kuliah? Untuk apa? Apa kamu mau melanjutkan kuliahmu?” Tanya Langit.


Jingga menggeleng, “Tidak, bukan seperti itu mas. Aku hanya ingin kembali membaca dan mempelajarinya. Apa tidak boleh? Kalau kamu tidak mengizinkan, tidak apa-apa.”


Langit terdiam, mungkin Jingga ingin melanjutkan kuliahnya. Hanya saja perempuan itu tak berani meminta, “Baiklah, kita ke rumah ibu sekarang. Aku akan menghubungi Alex, aku sedang tidak ingin menyetir sendiri.”


Jingga mengangguk dengan senyum mengembang, “Terima kasih mas. Tapi kenapa harus Alex? Bukankah sopir pribadimu yang lain ada disini?”


“Tidak apa-apa, tunggulah sebentar.” Langit beranjak, mengambil ponselnya di atas meja kemudian menuju balkon untuk menghubungi sang asisten. Benar kata Jingga, memang sopir pribadi yang lain ada disana, tapi Langit mempunyai tujuan lain untuk Alex.


Sementara itu..


Suara dering ponsel menghentikan langkah Alex yang baru saja akan pergi untuk berolahraga. Ia ingin menghabiskan waktu liburannya ini untuk berolahraga dan bersantai ria. Otot-ototnya sudah kaku, sudah lama ia tak berolahraga. Apalagi akhir-akhir ini ia tengah stress memikirkan sesuatu yang terjadi beberapa malam lalu, ia butuh merefresh otaknya.


Langit pun sudah membebaskannya dari tugas, karena biasanya jika pun hari libur, selalu ada saja tugas yang tuannya itu berikan. Mengenai tugas mengawasi Handoko, sudah ia percayakan pada salah satu anak buahnya.


“Tuan Langit..” gumamnya, perasaannya mendadak tak enak. Sepertinya hari liburnya ambyar. “Aisssh, apalagi ini?”

__ADS_1


Meski sangat ingin mengabaikan panggilan dari tuannya itu, nyatanya ia tak bisa. Dengan hati berdebar-debar ia pun menggeser tombol berwarna hijau agar sambungan telponnya dengan sang tuan tersambung, “Selamat pagi Tuan, hari yang indah untuk berolahraga. Apa Tuan ingin mengajak saya berolahraga bersama,” ucapnya seraya tersenyum.


Langit di seberang sana mengerutkan dahinya. Ia menjauhkan ponsel dari telinganya, memastikan apakah ia tak salah menekan nomor dan tak salah menghubungi orang. “Tapi ini memang nomornya,” gumamnya.


“Halo, halo halo Tuan. Apa anda masih disana?” Tanya Alex lagi. Membuat Langit kembali mendekatkan ponselnya ke telinga.


“Ini kamu kan, Alex?”


“Benar, Tuan. Ini saya, asisten anda tercinta, ada yang bisa saya bantu tuan? Atau benar anda ingin mengajak saya berolahraga bersama?”


“Berhenti bicara dulu orang aneh! Sepertinya kejadian malam itu benar-benar mempengaruhi mu, sudahlah! Datang ke rumah sekarang juga, ada tugas mulia untukmu,” ucap Langit.


Bibir Alex bergetar, ingin mengumpat tapi tak berani. Ingin mengomel nyalinya juga tak cukup besar untuk melawan. Rencananya untuk menghabiskan waktu dengan bersantai tia ambyar sudah. Sepertinya, ia tak boleh terlalu mempercayai Langit yang katanya akan memberikan hari libur dan hari bebas tugas untuknya. Karena pada akhirnya, selalu saja ada tugas dadakan yang pria itu berikan.


“Hey! Apa kamu masih disana? Kamu mendengar ku?” Tanya Langit.


“Saya mendengar, Tuan. Saya kesana sekarang..” ucapnya masih dengan bibir berkomat-kamit menahan kesal.


Alex tersentak, ia sontak menutup mulutnya rapat-rapat. Terkadang Langit memang seperti penyamun, pria itu bisa menebak isi hatinya.


***


Alex terkejut saat Langit melemparkan kunci mobil padanya. beruntung ia cepat tanggap, hingga di waktu yang tepat ia bisa menangkap kunci mobil tersebut sebelum mengenai hidungnya.


Sialnya, Langit justru tertawa. Kalian ingat kan? Pria yang berpura-pura tua itu jadi murah senyum murah tawa murah ocehan setelah jatuh cinta pada istrinya dan mendapatkan jatah setiap malam.


Anehnya, Jingga tak pernah berhalangan atau kedatangan tamu bulanan. Mungkin karena Jingga sempat tertekan, atau kah...?


"Jangan mengeluh, antarkan aku dan istriku ke rumah ayah," celetuk Langit.

__ADS_1


Alex membulatkan matanya, ke rumah itu lagi? Peristiwa membingungkan yang ia lewati di suatu malam saja belum bisa ia lupakan juga belum bisa ia pecahkan. Dan sekarang, Langit justru mengajaknya ke rumah itu lagi.


Tapi ia tak bisa menolak bukan? Perintah Langit adalah kewajiban untuknya. Dengan pasrah Alex mengangguk, lalu mengikuti langkah Jingga dan Langit yang masih terdengar tertawa.


Dengan penuh hormat Alex membukakan pintu mobil untuk pasangan itu. dengan senyum ramah pula ia mempersilahkan keduanya memasuki mobil.


"Silahkan masuk Tuan, nyonya.." ucapnya.


Langit kembali tertawa, ia mengerti keresahan Alex. Terlihat jelas dari raut wajah asistennya itu.


Sepanjang perjalanan, Alex menjadi nyamuk. Dan sejak dua orang di belakangnya menjadi budak cinta, menjadi nyamuk memang sudah hal biasa untuknya. Lebih tepatnya membiasakan diri, meski sesekali iri melihat kemesraan dan keharmonisan Jingga dan Langit.


Lihatlah, Langit bahkan tak segan-segan mengecup bibir Jingga meski perempuan itu memprotes dan mengatakan, "Jangan seperti ini mas, malu. Ada Alex, dia juga masih di bawah umur, maksudku, dia belum menikah. Kasihan kalau matanya ternodai sama kamu."


Langit justru tertawa, "Dia tidak sepolos itu, sayang. Kamu hanya belum tahu saja, dia bahkan guru untukku."


Jingga mengerjap beberapa kali, saat ingin bertanya lebih jauh, mereka sudah sampai di depan rumah ayah dan ibu.


Beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya benda itu terbuka. Mega tersenyum saat tahu Jingga lah yang datang. Jingga pun balas tersenyum, berharap hubungannya dengan sang kakak akan kembali membaik seperti dulu.


"Jingga, masuklah! Ayah dan ibu tidak ada, mereka mendadak ke rumah Bude," jelas Mega tanpa Jingga minta.


"Ke rumah bude? ada apa mbak? Tidak biasanya ibu dan ayah kesana mendadak.."


"Bude sakit, mas Faisal yang memberi kabar. Karena itu ayah dan ibu mendadak kesana," jelas Mega lagi.


Mega mempersilahkan Jingga dan Langit duduk, ia sendiri hendak pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum, tapi langkahnya terhenti saat seseorang berdiri di ambang pintu, Alex.


Dan entah perasaan Langit atau bukan, Mega tampak gugup. Begitu pula dengan Alex, entahlah..

__ADS_1


Alex sendiri masih bingung dengan tragedi celana terbuka saat ia bangun tidur. Seperti yang Langit katakan, tidak mungkin ibu yang menjadi korban, jika bukan ibu, kemungkinan Mega bukan? Mungkin karena itu lah Alex gugup. Sedangkan Mega, Langit tak tahu kenapa gadis itu tampak gugup, mungkinkah memang ada sesuatu yang terjadi malam itu di antara Alex dan Mega?


__ADS_2