MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
SAH??


__ADS_3

Esta terus saja menangis. Beberapa saat yang lalu, ia resmi di persunting laki-laki galau yang belum move on dari masa lalunya.


Miris memang, ia menikah dengan pria yang belum selesai dengan masa lalunya, di tambah lagi alasan pernikahannya dengan pria itu karena hal yang memalukan.


Meski sesungguhnya mereka tak melakukan apapun, tapi kata DI GREBEK sangat mengena di hatinya . Apalagi ketika ia melihat Bu'denya menangis, belum lagi bisik-bisik tetangga yang terus mengoloknya dan sang Bu'de. Esta merasa sangat kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa.


“Jangan nangis terus, semuanya udah terjadi. Kalau kamu gak mau nikah sama aku, kita bisa bercerai nanti,” Angkasa yang baru saja memasuki kamar Esta berkata, perkataan yang berhasil membuat dada Esta sesak.


Bertambah mirislah jalan hidupnya, baru beberapa saat menikah, pria yang kini resmi menjadi suaminya sudah membicarakan perceraian. Gampang sekali kata cerai keluar dari mulutnya, mungkin bagi pria itu, pernikahan hanya mainan, yang di jalankan hanya karena ingin membungkam mulut tajam orang-orang yang menuduhnya. Tapi bagi Esta tak seperti itu, meski pernikahan itu terjadi karena penggerebekkan, pernikahan tetap saja pernikahan. Hal yang sangat sakral dan hanya ingin Esta lakukan sekali dalam seumur hidup.


Padahal mungkin bukan begitu maksud Angkasa. Ia berkata seperti itu karena melihat Esta terus menangis. Dan tangisan gadis itu Angkasa artikan sebagai bentuk penyesalan karena menikah dengannya. Harga dirinya sedikit tercubit saat Esta menolaknya.


“Gampang banget ngomong cerai,” lirih Esta.


Namun masih dapat Angkasa dengar, pria itu menghela nafas panjang lalu duduk di samping Esta. Ia meraih tangan Esta, menatap gelang aksesoris berwarna hitam yang ia jadikan pengikat untuk pernikahan mereka, sebelum ada cincin kawin dan surat-surat resmi katanya. “Meski pun aku memberikan gelang jelek ini sebagai mahar, aku gak menganggap pernikahan ini main-main Esta. Bukan cuma di hadapan warna aja aku janji jaga kamu, tapi di hadapan Tuhan juga. Dan aku tahu, pertanggung jawaban di hadapan Tuhan lebih berat ketimbang cemoohan warga yang menggerebek kita tadi. Aku membicarakan perceraian karena liat kamu nangis, aku tahu kamu gak mau nikah sama aku. Apalagi kita juga belum terlalu deket dan saling mengenal dengan baik, tapi kita bisa memulai semuanya dengan menjadi teman.”


Alih-alih tenang, Esta justru menangis kencang. Entahlah, ia bingung dengan perasaannya, di tambah lagi dengan situasi yang masih memanas disana, Esta tak tahu harus meluapkan perasaannya seperti apa dan dengan cara bagaimana. Jurus paling ampuh untuk seorang perempuan hanyalah menangis.


“Ssstt, Esta. Kok malah makin kenceng nangisnya? Astaga, lebih baik aku denger kentut kamu dari pada suara cempreng kamu menangis. Diamlah, atau orang-orang yang masih berkumpul di luar akan mengira aku melakukan hal yang tidak-tidak,” Angkasa jadi panik, ia bergerak tak tenang dan berusaha menenangkan Esta.


Dan benar saja, sesaat kemudian pintu kamar Esta terdengar di ketuk. Bukan bukan, tapi di gedor.


“Esta, kamu gak papa? Apa laki-laki itu menyakiti kamu? Atau memaksa kamu anu-anu? Esta buka pintunya,” suara pak RT yang terdengar dari balik pintu. Esta yakin warga yang lain juga ikut nimbrung.


Gadis itu jadi ingat Bu’denya, pasti Bu’de bingung menghadapi warga sendirian. Karena itu Esta berhenti menangis lalu membuka pintu, “Saya gak papa pak RT. Saya cuma sedih aja.”

__ADS_1


“Apalagi sih pak RT? Saya udah nurutin kemauan kalian untuk menikahi Esta, terus apa lagi yang salah? Masih aja gedor-gedor. Kalau pun kami mau melakukan sesuatu, itu sudah bukan urusan kalian lagi, toh kita sudah menikah. Masa iya suami istri mau di grebek,” Kata Angkasa yang masih kesal.


Pak RT berdehem, yang di katakan Angkasa benar. Tapi karena ia mendengar suyara Esta menangis, entah mengapa ia dan warga yang lain jadi penasaran dan menggedor pintu kamar Esta.


“Saya bilang juga apa pak RT. Pak Angkasa ini laki-laki baik dan bertanggung jawab, beliau sudah mau menikahi Esta padahal saya yakin yang kalian lihat hanya kesalah fahaman saja. Lalu setelah mereka menikah, kalian masih juga usil mengganggu mereka?” Bu’de yang juga masih kesal ikut bicara. Ia tak terima keponakannya terus di cemooh dan di salahkan.


Pak RT dan warga lainnya saling menatap malu, mereka lalu membubarkan diri dan pamit pulang ke rumah masing-masing.


“Maafkan sikap mereka pak Angkasa, saya benar-benar merasa malu, maaf.” Bu’de menunduk tak enak, ia takut Angkasa marah lalu melakukan sesuatu yang buruk pada warga. Karena tak dapat ia pungkiri, bahwa orang berduit bisa melakukan apapun apalagi pada warga biasa macam mereka. Meski ia yakin, Angkasa bukan lah orang seperti itu.


“Tidak apa Bu, saya memakluminya. Oiya, sebentar lagi orang tua saya sampai, saya akan menjelaskan secara langsung pada mereka. Ibu dan Esta jangan takut, orang tua saya adalah orang yang bijak, saya yakin mereka akan menerima Esta dan pernikahan kami.”


Bu’de mengangguk, mencoba mempercayai ucapan Angkasa meski hatinya ragu. Bagaimana jika orang tua Angkasa menolak Esta? Bagaimana nasib keponakannya nanti? Apa Esta dan Angkasa akan di paksa berpisah lalu Esta menjadi janda di hari gadis itu menjadi istri? Bayangan sinetron-sinetron yang menceritakan tentang kekejaman mertua tiba-tiba kembali muncul di benaknya, Bu’de semakin di buat bimbang.


***


“Nak, ada apa ini sebenarnya. Dan Bu Retno, kenapa ada bu Retno disini?” Alex mengawali pembicaraan setelah beberapa saat mereka diam dalam keheningan.


“Pa, ini rumah bu Retno. Dan ini Esta, keponakan Bu Retno yang sekarang udah jadi istri aku.”


“Apa?”


“Apa”


Mega dan Alex berucap kompak, mereka sama-sama terkejut dengan ucapan putranya.

__ADS_1


“Sayang, ada apa ini? Bicara yang jelas, istri? Kapan kamu menikah, dan kenapa kamu gak menghubungi kami? Apa kamu sudah tidak menganggap kami orang tuamu? Meski pun sekarang kamu sudah bisa berdiri sendiri di atas kaki kamu, tapi kami tetap orang tua kamu. Dalam mengambil keputusan apapun, restu dan izin dari kami penting. Apa kamu sudah tidak membutuhkan itu dari kami?” Mega menyentuh dadanya yang tiba-tiba sesak, bagaimana tidak, putranya bertindak sendiri dalam menentukan keputusan besar dalam hidupnya. Ia merasa Angkasa tidak lagi menghargainya sebagai orang tua. Apalagi ini menyangkut pernikahan, bukan hak kecil yang perlu di permainkan.


“Mama, dengarkan dulu penjelasan aku. Jangan ngomong gitu, aku gak bermaksud seperti itu..” Angkasa beranjak, menghampiri kedua orang tuanya lalu bersimpuh di hadapan mereka. Sementara Esta, gadis itu sudah menangis sesegukan dalam pelukan sang Bu’de.


“Maaf kalau keputusan aku menyakiti mama dan papa, sungguh ma, pa, aku gak bermaksud menyakiti kalian apalagi tidak menghargai kalian sebagai orang tuaku. Situasinya benar-benar kacau, aku dan Esta di fitnah..” Angkasa lalu menceritakan semuanya, dari mulai tujuannya datang kesana sampai akhirnya ia dan Esta di grebek karena ia tak sengaja terjatuh menimpa tubuh Esta. Posisi edan itulah yang membuat para warga berasumsi bahwa mereka tengah melakukan anu-anu. Sampai akhirnya mereka di paksa menikah tanpa ada seorang pun yang mendengar penjelasan dan pembelaan dari mereka kecuali Bu Retno.


Alex terlihat geram, ia lalu berkata, “Siapa saja orang-orang itu? Katakan pada papa, biar papa beri mereka pelajaran!”


“Mas, sudahlah. Semua sudah terjadi,” Mega menenangkan Alex. Ia lalu memeluk Angkasa dan meminta maaf karena sebelumnya sudah bicara yang tidak-tidak.


Angkasa menghapus air mata yang menetes di pipi sang mama, lalu memeluk perempuan itu dan mengucapkan terima kasih karena sudah mau mengerti. Begitu pun pada Alex, ia memeluk sang papa dengan bangga, karena meski tengah emosi pun, Alex masih bisa menahan diri dan menghargai ucapan istrinya.


Mega tersenyum meski matanya masih basah, ia lalu menatap Esta dan melambaikan tangan, pertanda agar gadis itu mendekat padanya. Esta yang masih saya menangis beranjak menghampiri Mega dan Alex, bersimpuh di hadapan mereka seperti yang suaminya lakukan.


“Maafkan saya Nyonya, saya sudah membuat kekacauan ini,” lirih Esta dalam tangisnya.


“Sssttt, tidak apa. Mungkin ini sudah takdir kalian. dan jangan panggil Nyonya, panggil mama ya sayang.” Mega memeluk Esta dengan hangat, mengusap punggung gadis itu memberikan ketenangan. Kejadian yang terjadi pada putranya mengingatkannya pada pernikahan ia dan Alex dulu. Rasanya seperti dejavu, kisahnya dan Alex kembali terulang. Hanya saja, ia menikah dengan Alex karena kesalahan besar yang ia lakukan. Sedangkan Angkasa dan Esta menikah karena ketidak sengajaan dan kesalah fahaman. “Mama merestui kalian, berbahagialah. Meski pernikahan kalian terkadi karena kesalah fahaman, tapi pernikahan tetaplah pernikahan. Hal yang sakral, bukan main-main. Berusahalah untuk saling menerima dan saling menyayangi, mama yakin kalian akan bahagia.”


Petuah itu benar-benar membuat Esta terharu, ia tak menyangka kedua orang tua Angkasa akan menerimanya dengan hangat.


Alex tersenyum, mengusap puncak kepala Esta dengan penuh kasih. Esta seperti menemukan keluarga yang lengkap, hidup barunya akan segera di mulai.


Pemandangan itu membuat Bu Retno terharu, ia bisa melepas Esta dengan tenang dan mendoakan keponakannya agar selalu hidup bahagia.


IKLAN

__ADS_1


Noh, aku kasih bab panjang banget. Awas aja kalo kalian gak subscribe aku. Follow aku please, kasih ulasan juga buat AngkasaSemesta ini. Aku maksa 🤣


__ADS_2