
Atas permintaan Mega dan Alex, Angkasa membawa Esta pulang ke rumah mereka. Awalnya Esta menolak, berat rasanya meninggalkan Bu'de. Apalagi pernikahannya dengan Angkasa tak seperti pernikahan pada umumnya, apa bisa ia hidup dengan Angkasa? Sementara pria itu tak menginginkannya, apalagi lingkungan mereka berbeda. Esta takut tak bisa mengimbangi hidup orang kaya macam Angkasa dan keluarganya.
Tapi kemudian sang Bu'de memberi nasihat, bahwa kemana suami pergi, istrinya harus mengikuti. Bu'de juga meyakinkannya, bahwa Bu'de akan baik-baik saja meski kembali tinggal sendiri. Dengan berat hati, akhirnya Esta ikut dengan Angkasa.
Sepanjang perjalanan, tak ada perbincangan di antara mereka. Baik Esta maupun Angkasa sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Hingga tiga puluh menit kemudian, mobil Angkasa memasuki perumahan elit yang di gerbangnya saja di jaga ketat dan harus menggunakan id khusus untuk akses masuk ke perumahan tersebut.
Esta semakin bimbang, keadaan mereka jauh berbeda, Angkasa pasti malu mempunyai istri seorang OG sepertinya.
Melewati beberapa rumah yang bangunannya terlihat aduhai, Esta di buat tak berkedip. Ia bahkan sulit menelan ludah, rumah yang berjajar disana benar-benar megah dan modern. Sampai ia tiba di sebuah rumah berpagar tinggi, dua satpam sigap membuka gerbang tersebut dan menyapa Angkasa dengan ramah.
Jarak dari pagar ke rumah utama saja cukup membuat kaki pegal jika di lalui dengan berjalan kaki. Halamannya begitu luas, indah dengan rumput hijau dan beberapa jenis tanaman bunga.
"Bisa buka set belt-nya?" Tanya Angkasa, kalimat pertama yang pria itu ucapkan setelah sekian lama bungkam.
Esta mengangguk, lalu turun saat Angkasa juga turun. Sekali lagi ia di buat takjub, ternyata rumah Angkasa beda dari deretan rumah lainnya. Sejauh mata memandang, bangunan rumah itu lah yang paling megah dan mewah. Esta jadi semakin menciut dan rendah diri.
"Ayo masuk," ajak Angkasa membuyarkan lamunan Esta.
Lagi-lagi Esta hanya bisa mengangguk, ia merebut tas butut miliknya yang berisi barang-barangnya dari tangan Angkasa. "Aku aja yang bawa," ucapnya.
Angkasa tak menolak, ia membiarkan Esta membawa barang-barangnya sendiri. Rumah masih tampak sepi, karena Mega dan Alex mengatakan akan mampir ke rumah Jingga dulu sebelum mereka pulang.
__ADS_1
Hanya ada pelayan yang menyambut mereka. Angkasa pun akan memperkenalkan Esta pada pelayan di rumahnya, agar tak menimbulkan fitnah karena ia membawa seorang gadis pulang ke rumah.
"Den Angkasa, bibi kira non Bulan," kata Bi Imah.
"Bukan bi, ini Esta, istri aku." Ucap Angkasa, bi Imah tampak terkejut. Angkasa lalu menoleh pada Esta, "Esta, ini bi Imah. Kalau kamu perlu sesuatu, kamu bisa minta ke Bi Imah."
Esta mengangguk, meski sedikit tak nyaman karena ternyata bahkan orang-orang di rumah itu sudah mengenal Bulan, namun Esta tetap tersenyum dan menyalami bi Imah dengan sopan, "Aku Esta bi," kata Esta memperkenalkan diri. Mungkin menegaskan juga, bahwa ia bukan Bulan.
Bi Imah mengangguk ramah, "Kalau mau apa-apa, bilang bibi aja Non." Kata bi Imah, meski ia sangat terkejut karena Angkasa tiba-tiba pulang membawa istri, tapi ia tak berani bertanya lebih, cukup tahu saja.
"Terima kasih Bi," balas Esta.
"Kita ke kamar," ajak Angkasa.
Esta mengangguk, lalu pamit pada bi Imah. Gadis itu masih di buat takjub dengan rumah itu, apalagi setelah melihat isinya yang ternyata sangat WAH.
Terdapat ranjang berukuran sangat besar di tengah-tengah ruangan, di lengkapi dengan sofa berwarna putih di sebelah kanan ranjang lengkap dengan televisi berukuran besar, bahkan ada lemari es di kamar itu.
Ada dua pintu di sisi kiri ranjang, sepertinya itu pintu kamar mandi. Lalu satu pintu lagi, Esta tak tahu itu pintu ke ruangan apa.
Yang membuat Esta berdecak adalah, kamar itu nyaris di kelilingi kaca dengan gorden berwarna cream menjuntai menyentuh lantai mengkilap yang Esta pijak. Dari dalam sana Esta dapat melihat area balkon yang mengarah ke belakang rumah. Lalu berjalan sedikit ke sebelah kanan Esta dapat melihat area depan rumah dan kompleks perumahan elit itu.
"Esta.."
__ADS_1
Panggilan itu membuat Esta tersentak, sibuk mengagumi kamar Angkasa Esta jadi lupa jika sang pemilik kamar juga ada disana.
"Ya pak?"
"Duduk sini, aku mau ngomong," Angkasa menepuk sofa di sebelahnya. Esta pun menurut, ia duduk di sebelah Angkasa. Tentu saja mereka duduk berjarak.
"Sebelumnya, jangan panggil aku pak lagi. Aku kan udah pernah bilang, di luar kantor jangan panggil aku pak. Terserah kamu mau manggil apa selain pak apalagi tuan."
"Tapi, aku harus panggil apa?"
"Itu tugas kamu untuk berpikir. Dan aku mau ngomong sesuatu sama kamu, tapi kamu jangan tersinggung," kata Angkasa lagi.
Esta jadi was-was, apa kira-kira yang akan di bicarakan pria itu? Angkasa terlihat begitu serius, Esta jadi takut. "Ada apa pak?"
"Aku, emmmm aku mau kamu merahasiakan pernikahan kita. Dari siapapun apalagi Bulan, di lingkungan kantor gak boleh ada yang tahu kalau kita suami istri. Kamu bisa jaga rahasia kan?"
Mendengar permintaan Angkasa, entah mengapa hati Esta sedikit nyeri. Mungkin karena Angkasa malu mempunyai istri sepertinya, pria itu bahkan menekankan untuk tak memberi tahu Bulan. Ia pun mengangguk, "Kamu tenang aja, aku gak akan lancang mengakui kamu sebagai suamiku."
"Jangan tersinggung Esta, jangan salah faham. Aku cuma .."
"Aku ngerti pak," potong Esta. "Lagian kita menikah juga bukan karena keinginan kita kan? Maksud aku, pernikahan kita bukan pernikahan pada umumnya. Kalau kamu mau, aku bisa tinggal di rumah Bu'de lagi. Anggap saja pernikahan itu hanya status, kamu tidak perlu terbebani dengan kewajiban kamu ke aku pak, apalagi mengakui aku sebagai istri kamu." Esta tersenyum hambar, belum apa-apa Esta sudah merasa benar-benar tak pantas untuk Angkasa. Apalagi setelah mendengar permintaan pria itu, ia semakin yakin bahwa Angkasa malu menikah dengannya. Bagaimana tidak, Angkasa yang kaya raya dan tampan, mana pantas bersanding dengannya, gadis kampung dekil yang bekerja sebagai OG di kantor pria itu. Ia bahkan tukang kentut, berbeda dengan Angkasa yang mungkin jika mengeluarkan kentut pun bunyinya akan terdengar mewah dengan gaya elegan. Memangnya ada kentut mewah?
Mendengar ucapan Esta, Angkasa jadi tak enak. Sepertinya Esta tersinggung, ia sendiri juga masih terkejut dengan statusnya sekarang. Dalam sekejap statusnya berubah menjadi seorang suami, niatnya ingin meminta maaf pada Esta, justru membawanya pada kehidupan yang baru.
__ADS_1
IKLAN
Coba kasih tahu othor, apa ada kentut yang bunyinya mewah? Kalau ada, kasih tahu gimana bunyinya? Esta nih ada-ada aja, saking mindernya sampe mikir kentut Angkasa mewah dengan gaya elegan🤦🤦