
Dengan pelan Mega menutup pintu apartemen, namun baru saja berbalik, tiba-tiba lampu tengah menyala. Membuatnya terkejut dan nyaris menjatuhkan tas yang ia bawa.
“Aku menunggumu dari tadi..”
Kalimat itu semakin membuat Mega terkejut, Alex tampak duduk santai di sofa. Tak mendapatkan jawaban atas kalimatnya, Alex pun beranjak menghampiri Mega, “Dari mana sayang? Aku mencemaskan mu. Kamu tidak mengatakan apa-apa saat tadi kita bicara,” ucap Alex.
“A-aku, aku dari rumah ibu mas. Maafkan aku, aku tidak meminta izin darimu karena aku pergi mendadak dan terburu-buru,” jawab Mega.
“Oyah? Ok, tidak masalah. Aku hanya ingin mengajakmu nonton, sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersantai bersama. Kemarilah, aku sudah menyiapkan film terbaru untuk kita,” Alex menggandeng tangan istrinya, menuntun perempuan itu duduk di sofa, ia pun melakukan hal yang sama.
Sikap ramah pria itu tak membuat Mega tenang, entah mengapa tatapan pria itu terasa berbeda meski sikapnya masih sama manisnya. “Mas..”
“Ya, sayang?” Jawab Alex, ia menoleh sekejap kemudian kembali fokus untuk menyalakan layar televisi besar di hadapannya.
“Kamu menyiapkan semua ini?” Tanya Mega, Mega menunjuk beberapa camilan juga minuman di atas meja, ia menoleh pada Alex yang tampak mengangguk meski fokus pria itu masih pada layar televisi yang mulai menyala. Perempuan itu semakin merasa bersalah pada suaminya, kebohongan besar yang ia tutupi selama ini, di tambah dengan kebohongannya malam ini membuat Mega marah pada dirinya sendiri. Ia merasa menjadi istri yang sangat jahat.
“Ini bukan apa-apa sayang, aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu, aku juga ingin menunjukan film terbaru padamu,” ucap Alex.
Mega tersenyum bahagia, ia memeluk lengan Alex dengan erat, namun matanya membulat saat ia mendengar suara yang sangat ia kenali terdengar dari layar televisi di hadapannya. Mega duduk tegak, ia menatap layar televisi dengan tubuh yang mulai menegang.
__ADS_1
Bagaimana tidak, di dalam televisi itu menampilkan agedan yang dirinya lakukan beberapa jam yang lalu. Saat Mega tengah duduk berhadapan dengan Allo membicarakan tentang video yang tengah berputar di ponsel milik Allo.
“Apa kita bisa melakukan adegan yang sama seperti yang sedang berputar di ponsel bajingan itu?”
Pertanyaan itu membuat Mega semakin menegang. Ia pejamkan matanya beberapa saat, air matanya meleleh begitu saja, Mega pasrah. Mungkin ini saat kehancurannya tiba. Apa yang kau tanam maka itu yang akan kau tuai, pribahasa itu sangat pas untuk Mega saat ini.
“Mas..”
“Kenapa kamu membohongiku Mega? Apa kamu pikir aku pria yang bodoh? Sayangnya aku tidak sebodoh itu yang mempercayaimu begitu saja.”
Kalimat itu membuat Mega menunduk, ia melupakan satu hal, siapa Alex dan secerdas apa pria itu. Sejak mereka menikah, Alex tak pernah berhenti menyelidiki Mega, ia ingin tahu perempuan seperti apa yang ia nikahi. Diam-diam Alex menyadap ponsel Mega, ia bisa mengetahui semua isi ponsel perempuan itu. Dengan siapa saja perempuan itu berhubungan, dan apa saja yang perempuan itu sembunyikan darinya. Namun hati yang terlanjur terpaut, membuat Alex terus mempertahankan Mega. Apalagi ia baru mempunyai banyak bukti yang lengkap setelah Mega bertemu dengan Allo beberapa jam yang lalu.
“Maaf mas, maaf..” ucap Mega seraya terisak. Ia meraih tangan Alex, menggenggamnya dengan erat meski kemudian Alex menarik tangannya.
“Aku tidak tahu Mega, menurutmu, apa yang harus aku lakukan?”
Mega tentu tak bisa menjawab, ia menyadari sebesar apa kesalahannya. Alex pasti sangat kecewa padanya.
Tak mendapat jawaban dari Mega, Alex pun beranjak, meninggalkan layar televisi yang masih menyala. Ia pergi ke kamar meninggalkan Mega yang masih tertunduk menangis. Beberapa saat kemudian, Alex kembali. Membuat Mega beranjak memberanikan diri menghampiri pria itu.
__ADS_1
“Mas, mau kemana?” Tanyanya, dengan punggung tangan ia hapus air matanya. Lalu menghadang Alex yang tak menjawab pertanyaannya. “Jangan pergi aku mohon, kamu juga tahu aku sangat mencintaimu..”
“Cinta seperti apa Mega? Di dalam cinta, bukankah tidak pernah ada kebohongan? Kamu memulai hubungan ini dengan kebohongan, aku pikir cintamu juga kebohongan. Aku mengacungkan dua jempol untukmu, ternyata kamu lebih pandai dari yang aku kira, kamu bisa terus menyembunyikan kebohongan besar di balik wajah polosmu. Maaf, untuk saat ini, aku tidak mau mendengar apapun lagi.”
Alex melepas tangan Mega dari lengannya, kemudian pergi begitu saja. Bukan ia tega, bukan tak sakit melihat air mata yang mengalir di pipi perempuan itu, tapi untuk saat ini, rasa sakit yang ia rasakan membuatnya ingin pergi. Ia terlanjur mencintai Mega, tapi kebohongan besar yang perempuan itu terus sembunyikan darinya membuat hatinya sakit. Tak terukur sedalam apa rasa sakit yang saat ini ia rasakan, dadanya bahkan terasa sesak saat ia melihat Mega besama Allo.
Saat ada pesan masuk ke dalam ponsel Mega dari Allo yang juga terhubung dengan ponselnya, ia sudah menyiapkan diri dengan rasa sakit yang pasti akan ia dapatkan. Tapi nyatanya tetap saja ia tak mampu menahannya.
Alex bahkan mencoba kuat dengan datang ke café tempat Mega dan Allo membuat janji temu. Ia melihat sendiri pertemuan antara istrinya dan pria yang merupakan ayah biologis dari janin yang istrinya kandung. Ia juga dapat mendengar percakapan Mega dan Allo dengan jelas, karena sebelumnya ia sudah meminta orang untuk memasang alat penyadap di bawah meja yang sudah Allo pesan.
Tak terbayang bagaimana gemuruh jantungnya saat itu, darahnya mendidih saat Allo membahas malam panas istrinya dengan pria itu. Jika tak menahan diri, mungkin ia sudah menghajar Allo habis-habisan, tapi ia sadar satu hal, bukan hanya Allo yang salah dalam hal ini, tapi juga istrinya. Karena Mega menyerahkan kehormatannya dengan suka rela, bukan karena paksaan.
“Mas..” lirih Mega, dengan perut yang mendadak terasa sakit, Mega berusaha mengejar Alex. Tapi pria itu sudah terlanjur jauh, membuatnya meluruh duduk di atas lantai. Perempuan itu menangis sejadi-jadinya, meraung memanggil nama suaminya. Menyesal, rasa itu benar-benar membuatnya ingin berteriak sekeras-kerasnya.
Tendangan kecil dari dalam perutnya membuat Mega semakin merasakan sakit. Ia berusaha berdiri, meraih apa saja yang bisa ia jadikan pegangan. Mungkin janin dalam perutnya dapat merasakan kesedihan mendalam yang ibunya rasakan.
"Maafkan mama nak, tidak apa-apa, papa pasti akan pulang. Dia menyayangi kita," ucapnya seraya terisak.
Andai Mega bisa memutar waktu kembali, ia akan memilih jujur dan mengatakan yang sebenarnya pada Alex, agar pria baik itu dapat menerimanya juga calon anaknya dengan cinta.
__ADS_1